Bukan tak setuju negara khilafah berdiri, bukan tak suka syariat Islam tegak. Jika jadi berkuasa, madzhab mana kira-kira yang berkuasa menjadi rezim ? Jika FPI dan HTI berkuasa maukah NU bersama atau jika NU berkuasa maukah FPI dan HTI bersama ?

*^^^^*

Berapa persenkah jika suara politik umat Islam disatukan ? Petanyaan klise, tapi penting untuk mengukur kekuatan. Semua partai mendapat bagiannya. NU kokoh dengan loyalitasnya, Muhammadiyah istiqamah dengan sikap kritisnya, semua telah mendapat pembagian kekuasaan sesuai porsinya. Pun dengan FPI dan HTI juga mendapat dari yang diusahakannya tanpa terkurangi. 

Bukan oligarchy, tapi negeri gotong royong boeat semoea. Tak gampang berbuat adil, apalagi dalam hal pembagian kue politik. Tetap ada kompromi, ada yang dikalahkan sedikit dan ada yang dimenangkan sedikit, untuk kepentingan lebih banyak. Begitulah hukum kekuasaan berjalan. 

Gotong-royong pernah menjadi pikiran fundamen — meski kemudian banyak revisi karena politik, tapi esensinya telah menjadi bagian urgen. Politik gotong royong kerap memenangkan banyak pertaruhan politik dan itu menarik. Sekaligus menegaskan bahwa politik sektarian hanya akan menjadi beban, alih-alih memberi solusi. Untuk hindarkan negara dari dis-intergrasi politik dan perpecahan. 

*^^^^*

Ini negara besar. Butuh pemimpin besar dengan pikiran besar. Bukan orang kerdil sempit pikiran yang hanya bicara kelompok. Politik sektarian menafikkan perbedaan hanya akan menjadi beban demokrasi. 

Makin terbukti politik sektarian tak laku di pasar politik domestik. Indonesia bukan Afghan, Yaman atau Mesir, Iraq apalagi Syuriah atau negara-negara jazirah yang mengusung keluarga dan dinasti turun temurun untuk memerintah dan menguasai negeri. Mandela peotitype Lukman Al hakim mungkin bisa jadi model negarawan tulus meski banyak musuh. 

Soekarno memberi garis bawah tentang ‘reaseoning’ mendirikan negara. Keragaman dan kebhinekaan menjadi alasan kenapa Indonesia berdiri. Negara boeat semoea. Bukan negara untuk suku atau agama tertentu tapi semoea. Maka dibuatlah kesepakatan membangun negeri berdasar kebhinekaan karena perbedaan yang sangat banyak tulis Mc Iver. 

*^^^^*

Bergabungnya Prabowo-Sandi adalah prestasi demokrasi — tak ada rival politik, apalagi lawan politik yang harus dihabisi, mendapat dan mempertahankan kekuasaan dengan gotong royong bisa  menghapus sektarianisme dan kepentingan politik kelompok. Gotong royong menjadi bahan dasar membangun negeri meminimalisir perpecahan dan ancaman dis-intergrasi. 

Substansi demokrasi gotong royong adalah : menang tanpo ngasorake. Sugih tanpo bondho. Dan nglurug tanpo bolo. 

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *