Oleh: Ahmad Gholban Aunirrahman
Menjelang Haul Gus Dur pada tanggal 30 Desember, saya ingin membagi sedikit cerita tentang beliau gus dur dan ketajaman firasat beliau dalam politik, dengan harapan kita semua mendapat keberkahan dari beliau KH Abdurrahman Wahid.
Sebagaimana sabda Nabi
اتقوا فراسة المؤمن
“Takutlah kamu tentang firasat seorang mukmin”
Semua bermula ketika masa reformasi, muncullah partai PKB. Almarhum ayahanda (KH Nadhir Muhammad) yang masa orde baru aktif di PPP dan di DPR RI, ketika itu saya masih kecil, namun masih kuat di ingatan bagaimana bapak Mathori abdul jalil datang ke rumah dan meminta ayahanda untuk bersama sama masuk PKB. Maka, ayahanda pun pergi menemui gus dur menyampaikan ajakan bapak matori. Namun, di luar dugaan, gus dur malah berucap “cak, samean tetap di PPP saja, biar cak yus (KH Yusuf Muhammad) yang di PKB”.
Karena memang ayahanda sangat mencintai gus dur, maka beliau terima permintaan itu. Dan akhirnya, saat itu, kakak adik sama sama ada di DPR RI, ayah di PPP dan paman di PKB.
Hingga tiba saatnya pemilihan presiden, firasat gus dur tersebut menemukan hikmahnya. Awalnya muncul 3 calon presiden, Gus dur dari PKB, Megawati dari PDIP dan Yusril ihza mahendra dari PBB. semua memiliki kesimpulan kalau ini terjadi maka Megawati dipastikan menang karena terpecahnya suara partai Islam. Sehingga, ayahanda yang kebetulan saat itu menjadi salah satu ketua PPP, bersama yang lain melobi Yusril Ihza Mahendra untuk sudi mengurungkan niatnya menjadi calon, dan alhamdulillah yusril menyetujui. Salah satunya karena yusril melihat bahwa ayahanda mewakili PPP yang di dalamnya terdapat banyak ormas islam dan itu lebih dekat secara psikologi dengan PBB dibanding bila yang melobi dari PKB yang jelas ada sekat tajam dengan PBB secara psikologi. Sehingga dengan itu terpilihlah gus dur sebagai Presiden RI dalam sidang MPR RI.
Di sinilah terjawab, kenapa gus dur meminta ayahanda tetap di PPP dengan jabatan salah satu ketua DPP PPP, karena gus dur melihat keberadaan ayahanda di PPP lebih bermanfaat untuk NU saat itu. Dan itu akan berbeda bila ayahanda masuk PKB saat itu.
Dan ketika tahun 2004, tahun di mana wafatnya pamanda gus yus, KH Abdurrahman Wahid meminta ayahanda untuk masuk ke dewan Syuro DPP PKB. Ucapan gus dur ketika itu “cak, samean masuk ke dewan syuro PKB saja, mewakili bani shiddiq”. Maka, karena kecintaan ayahanda kepada gus dur, ayahanda pun masuk ke dewan syuro PKB.
Dari cerita ini, saya melihat gus dur adalah seorang politisi sufi. Beliau melakukan langkah politik bukan hanya dari kalkukasi politik semata, tapi beliau melihatnya juga dengan intiusi batin seorang sufi. Dan itu yang membuat beliau memiliki sejarah mulia dalam politik. Sebagaimana juga gus dur dengan batin sufistiknya melihat bahwa indonesia dijaga oleh arwah para wali, maka gus dur pun menjaga, merawat dan menjalin hubungan baik dengan arwah leluhur para wali beserta keluarganya baik dalam ikatan partai maupun organisasi.
Sebagaimana sabda Nabi
الارواح جنود مجندة
Untuk KH Abdurrahman Wahid
Al Fatihah
Sumber: FB Ahmad Gholban Aunirrahman Jember

No responses yet