Bermula dari riwayat Sultan Abdurrasyid yang berasal dari negeri Sulu, Mindanao (Mindoro) Filipina. Suatu waktu Sultan Abdurrasyid berkeinginan untuk menunaikan ibadah haji ke tanah suci Makkah Al-Mukarromah. Singkat ceritera, setelah selesai menunaikan ibadah haji beliau mau pulang ke negeri asalnya Sulu, Filipina, menggunakan perahu, namun dalam perjalanan pulang ini perahu yang ditumpangi beliau terbawa oleh tiupan angin yang sangat kencang hingga kemudian perahu itu terdampar di pesisir muara Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Sebenarnya ada satu lagu perahu yang lain mengiringi perahu beliau yakni perahu saudaranya yang terdampar di perairan Kalimantan Timur.

Akhirnya Sultan Abdurrasyid menetap dan tinggal di Banjarmasin. Setelah lama menetap di Banjarmasin beliau menikah dengan anak Penghulu Putih, yang bernama Galuh Noriah. Mereka dikaruniai 6 orang anak yang diberi nama : a. Abu Bakar, b. Ronggo Kusuma c. Khatib Yusuf d. Khalifah Muksin e. Siroh dan f. Aji Muhammad.

Dari Abu Bakar bin Abdurrasyid menurunkan anak yang bernama Abdullah. Kemudian Abdullah kawin dengan Aminah memperoleh anak salah satunya Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Sedangkan Khalifah Muksin bin Abdurrasyid menurunkan anak yang bernama Bintang. Bintang mempunyai seorang anak yang bernama Mujannah yang kemudian menikah dengan seorang laki-laki bernama: “Abdurrahim”. Dari pernikahan mereka berdua dikaruniai anak laki-laki yang diberi nama:”ABDUL GHANI” atau kemudian dikenal sebagai Syekh Abdul Ghani.

Jadi, Syekh Abdul Ghani bin Abdurrahim+ Mujannah binti Bintang bin Khalifah Muksin bin Sultan Abdurrasyid, beliau masih punya hubungan keluarga dengan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Beliau bisa dikatakan sebagai peranah kemanakan sepupu oleh Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari atau Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari sebagai peranah mamarina beliau. Datu dari beliau Khalifah Muksin bersaudara kandung dengan kakek Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari yang bernama Abu Bakar. Atau ayah Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari yang bernama Abdullah bersepupu sekali dengan nenek beliau yang bernama Bintang.

Syekh Abdul Ghani dilahirkan tahun 1246 H, di banjarmasin. Sejak kecil beliau mendapat pendidikan agama dan dakwah dari ayah serta kakek beliau. Diusia muda beliau sudah faham dan mendalami ilmu agama. Beliau adalah seorang ulama yang gigih berjuang mengemban tugas meneruskan dan menyebarkan dakwah rasulullah saw serta membimbing umat pada jalan Allah swt

Beliau dalam berdakwah dari Banjarmasin menuju kampung Bati-Bati, hanya menggunakan sampan kecil dengan ditemani 3 orang cucu beliau yaitu : a. H.M. Nuraini (Banjarmasin) b. H. Adam Husin (Banjarmasin) c. Muhammad Amin ilyas (Sampit).

Ketika mereka mulai memasuki sungai Bati-Bati atau di kenal dengan nama Batang Banyu Martuuh alangkah terkejutnya mereka ketika tiba -tiba muncul seekor buaya besar menghalangi dan siap membanting sampan mereka ditumpangi tersebut. Sambil mengangkat kedua tangann beliau memohon do’a kepada Allah Swt agar memperoleh perlindungan, dan tangan beliau mengarahkan ke buaya besar itu. Tak dinyana buaya itupun pergi seperti ketakutan bergegas melarikan diri. Selamatlah mereka tanpa harus melakukan perkelahian atau pergulatan dengan buaya, dan mereka bisa kembali meneruskan perjalanan menuju kampung Bati-Bati, yang saat itu diperkirakan bahwa beliau se zaman dengan tokoh Bati-Bati yang bernama “Datu Selingsing”. Beliau kemudian menjalin hubungan yang sangat erat, satu sama lain saling bersilaturrahmi dan bersama berjuang untuk dakwah dan mencerdaskan masyarakat yang perlu pengatahuan pendalaman ilmu agama.

Pada suatu hari setelah beberapa lama Syekh Abdul Ghani berdakwah dikampung Bati-Bati, beliau berjalan-jalan kepelosok daerah kampung Bati-Bati, dan sampai pada suatu tempat yang bernama ” Taluk Mundu ” beliau berwasiat untuk di makamkan ditempat tersebut. Kemudian setelah beberapa lama berdakwah dikampung Bati-Bati, beliau pun ingin kembali pulang ke Banjarmasin untuk menemui keluarga serta sanak saudaranya yang ada disana.

Ditengah kehangatan berkumpul bersama keluarga yang rukun dan damai, rupanya tiba saatnya dipanggil Allah Sang Pencipta untuk kembali ke hadirat-Nya,sesaat menjelang waktu subuh, tepatnya pada hari Senin, tanggal 13 Dzulhijjah 1318 H. Sesuai dengan wasiat beliau, maka Syekh Abdul Ghani bin Abdurrahim di maqamkan di Taluk Mundu Bati-Bati, Kabuten, Tanah Laut, hingga terkenal sebagai Datu Taluk Mundu.

Adapun setengah dari pada keramat beliau :

  1. Ada seorang laki – laki ketika melewati makam Syekh Abdul Ghani, melihat makam tersebut mengeluarkan cahaya yang sangat terang, sehingga ada yang menyebut beliau sebagai Datu Tarang.
  2. Ada lagi seorang bidan, saat berjalan untuk menuju membantu persalinan dan kebetulan melewati makam Syekh Abdul Ghani, bidan itu mendengar seperti ada suara orang yang berzikir ” Laa ilaaha illallah” dan juga di makam terlihat cahaya terang seperti lampu petromax (setrongkeng).

Demikianlah manaqib singkat Syekh Abdul Ghani bin Abdurrahim. Semoga kita yang tertinggal dan masih hidup, selalu bisa menghargai jasa-jasa beliau termasuk tokoh sejarah dan tokoh agama yang lainnya serta meneruskan segala cita cita dan perjuangan beliau yang belum selesai. Allah Yarham.

One response

  1. Assalamualaikum, saya tinggal di jawa Timur tapi Datuk, ayahnya nenek berasal dari Banjarmasin. Nenek saya pernah bercerita tentang leluhurnya yang persis seperti itu. Bibinya nenek juga bercerita tentang nama Abdurrasyid ini. Apa semua orang asli Banjar keturunan Sultan Abdurrasyid ini. Kisahnya seperti legenda leluhur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *