Mencari makam Datu Timang terbilang gampang. Dari gerbang, cukup mengikuti jalan besar sampai tiba di Masjid Nurul Huda. Masjid yang dominan warna hijau muda ini peninggalan Datu Timang. Di samping masjid, berdiri kubah kecil tempat DatuTimang dimakamkan. Jorong sendiri berjarak sekitar 40 km dari kota Pelaihari ibukota Kabupaten Tanah Laut.
Timang adalah potongan dari nama lengkapnya, Timanggung. Ia anak Dabung Dayu dari Suku Dayak Kenyah. Beliau lahir menjelang akhir abad ke-18. Sebagian Suku Dayak Kenyah di Kalimantan Timur memang sudah memeluk agama Islam setelah pertemuan dengan pedagang Arab pada abad ke-15. Datu Timang lalu merantau dan bermukim di Tanah Laut. Sebelum menjadi perkampungan, Jorong dulunya adalah hutan lebat yang dihuni beruang, babi, dan menjangan. Penduduknya kebanyakan berasal dari Suku Dayak Biaju yang masih menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Letak kuburan penduduk awal ini masih ada di tepian sungai, sekitar 500 meter dari pemukiman warga. Tapi karena terkikis arus sungai, banyak di antaranya yang sudah hilang terseret arus atau tenggelam.
Dengan pembawaan yang senang bergaul dan mudah akrab, penduduk memberi mandat pada Timang untuk mencarikan nama bagi kampung baru tersebut. Di dalam hatinya, terbersit nama Jorong. Setelah berdoa, ia merasa mantap memilih nama tersebut. Jorong artinya tempat padi, tempat hasil alam yang melimpah, baik dari tanah, sungai maupun laut. Tempat orang mencari rejeki. Tempat tinggal penduduk yang banyak di masa mendatang. Warga setempat mengatakan:”Sering beliau dipanggil Datu Timang karena senang menimang anak kecil. Beliau sangat suka dengan anak-anak,”.
Datu Timang, selain pendiri Kampung Jorong, beliau juga dikenal sebagai ulama yang gencar berdakwah. Mengingat pesatnya perkembangan Islam di Jorong, Timang mengajak masyarakat untuk membangun masjid. Diceritakan, tiang guru masjid itu dicari dan dipikul Timang seorang diri. Diberi nama Nurul Huda, masjid itu sudah berkali-kali dipugar. Arsitektur aslinya sudah hilang dan tampak seperti masjid kebanyakan. Konon, sewaktu pembangunan Masjid Sultan Suriansyah, Datu ikut membantu dengan memikul batangan ulin ke Kampung Kuin.
Demikian juga, ketika melihat penjajah Belanda, yang menjajah tanah Kalimantan, Timang ikut berjuang untuk mengusir penjajah. Senjata favoritnya adalah sumpit. Senjata berburu tradisional Dayak yang nampaknya ringan, panjangnya antara 150 sampai 225 sentimeter. Di dalamnya dimasukkan tamiang atau lamiang. Batang bambu kecil yang sudah ditajamkan dan direndam racun. Menurut ceritera, konon tamiang sumpit Datu Timang mampu mencari sasaran sendiri, seperti memiliki kendali dan bahkan seperti mengerti dapat membedakan mana lawan mana kawan.
Namun dalam melawan penjajah, Datu Timang tak berjuang sendirian. Ia berbagi daerah pertahanan dengan dua saudara dan dua sepupu beliau yakni Nyai Kembang dan Datu Ambawang, serta Datu Sujimat dan Datu Surip. Nyai Kembang dan Datu Ambawang bertugas di daerah Munggu Manau, Tandui, Kuningan, Batalang dan Ambawang. Selain itu, khusus untuk Datu Ambawang merangkap tugas sekaligus menjaga hutan di Ambawang agar tidak dimasuki gerombolan penjahat. Sedang, Datu Surip bertugas di Sungai Halayung (Pulau Gudai). Sementara Datu Sujimat bertugas di Pulau Panjang (sekarang dikenal sebagai desa Alur).
Kependekaran Timang rupanya tak hanya mengundang lawan dari negeri seberang, tapi juga dari alam seberang (alam sebelah). Dalam cerita rakyat, dituturkan Timang berjumpa dengan Warajin. Raja jin yang mempunyai pengawal bernama Aji Braksa, Aji Brangta dan Rangga Susu (jin perempuan). Mereka datang dari Sebangau melalui Margasari dengan membawa bibit purun (rotan). Timang meminta bibit itu untuk ditanam di Jorong. Warajin menolak, pertarungan pun tidak terelakkan.
Pertarungan antara Datu Timang dan Warajin beserta pengawalnya berjalan lama dan secara perlahan akhirnya Raja jin itu kalah. Usai kalah bertarung, Warajin menyerahkan semua bibitnya dan tiga pengawalnya. Datu Timang bersama penduduk lalu menanam bibit itu di daerah Murung Tahu dan Banyu Habang. Warga Jorong percaya, inilah awal mula bibit rotan menyebar ke daerah-daerah di sekitar Jorong. Datu Timang dianugerahi Allah umur panjang, beliau wafat pada 10 Zulhijah 1331H atau tahun 1910 M Makamnya tak pernah sepi dari peziarah.

No responses yet