(Mengenang KH. Maftuh Said)
“Tanggal 21 Bukakno Gerbang, Seminggu sakdurunge sambangan. Akeh tamu kate teko”
(KH. Muhammad Maftuh Sa’id)
Begitulah wasiat Kyai menjelang berpulangnya ke Rahmatullah sebagaimana disampaikan oleh H. Agus Moh. Fahim, di Lapangan saat prosesi pemakaman. Beliau tak mengikuti prosesi pemakaman karena merasa tak kuasa menahan sedih amat mendalam atas berpulangnya ayahanda tercinta. Wasiat diatas berkali-kali disampaikan Kyai asli Gresik ini agar semua keluarga besar dan Santri Al-Munawwariyyah untuk bersiap-siap menantikan tamu-tamu yang akan mendatangi pesantren yang terletak di Desa Sudimoro, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang ini.
Sepintas kabar tersebut terkesan membingungkan sekaligus membahagiakan, terlebih sebelumnya H. Agus Moh. Fahim, Putra kedua Kyai Maftuh di Masjid Al-Munawwariyyah di hadapan para santri mengabarkan bahwa Kyai Sangat Sehat dan Kangen Ingin Berjumpa Santri. Kabar terlihat tersebut H. Agus Moh. Fahim dengan tenang tanpa beban. Namun pada kenyataannya kondisi kesehatan beliau justru memburuk dan kritis. H. Agus Moh. Fahim berkata sebaliknya agar para santri bisa semangat mengaji dan menghafal dan tak henti mendoakan kyai untuk kesembuhan Kyai.
Tapi takdir berkata lain, Hari Ahad, 20 Agustus 2017 malam keluarga ndalem berkumpul, dari pihak luar ada dr. H. Henalsyah (dr. Acha), Wakil Direktur Rumah Sakit Universitas Islam Malang (UNISMA) Malang yang telah merawat Kyai sejak Pebruari silam. Menurut KH. Muhammad Mas’ud, Putra kedua KH. Said Muin atau adik Kyai Maftuh yang pertama, dimana beliau yang berdomisili di Jember ini menceritakaan detik-detik terakhir berpulangnya Kyai Maftuh. Menurut beliau saat itu keluarga Ndalem melantunkan sholawat al-Fatih dipimpin H. Agus Moh. Fahim Maftuh. Di luar ndalem segenap santri pondok dan murid-murid Kyai yang tergabung dalam thariqah Tijaniyyah juga melakukan hal yang sama.
Di samping tubuh Kyai ada istri tercintanya Ibu Nyai Hj. Marfuatun, Gus Muhammad Munawwar (Putra ke-4) Ning Hj Hanifatus Sa’diyah (Putri ke-3) dan KH. Mustofa Badri (Suami Ning Hj. Nurul Hafsoh, Putri Pertama KH. Maftuh Said) berada di atas kepala mulia Kyai kelahiran tahun 1950 ini. Merekalah yang menuntun Abahnya untuk melantunkan Lafadz Jalalah Allah.. Allah… Allah. Dan dengan dengan mudah lisan Hamilul Qur’an yang senantiasa telah terbasahi oleh Al-Qur’an dan dzikir ini menirukan lafadz Illahi tersebut.
Dan saatnya pun tiba, Allah SWT menjemput Kekasih sekaligus keluarga-Nya lewat utusan-Nya Malikat Izrail dengan halus dan lemah lembut Insya Allah tepat pada pukul 22.20. Hal ini setelah Gus Zulfan Syahansyah (Suami Ning Hj. Hanifatus Sa’diyah) yang mula-mula menjadi saksi telah memastikan kewafatan beliau setelah mendengar keterangan dr. Acha yang mengecek denyut nadi Kyai. Kemudian beliau pun mengabarkan bahwa Kyai Maftuh benar-benar sudah tiada seraya memberi isyarat ke H. Agus Moh. Fahim akan kemangkatan KH. Maftuh yang wafat diusia 67 tahun ini. Maka Gus Fahim pun mengumumkan berita berpulangnya abahnya tercinta dengan pengeras suara pesantren dan berseru: “Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun… “
Setelah itu, berita kewafatan beliau tersebar dan kaum muslimin berduyun-duyun untuk memberikan penghormatan terakhir. Setelah dimandikan dan dikafani di ndalem, jenazah diusung ke Lapangan Pesantren untuk disholatkan oleh ribuan orang terdiri dari ulama’, santri, dan masyarakat sekitar. Turut hadir Syekh Basyir At-Tijani, Cucu Syekh Ahmad At-Tijani, Pendiri Thariqah Tijaniyyah dari Mauritania, Afrika yang ikut memberikan penghormatan terakhir. Kedatangan beliau secara tersirat menandakan bahwa Syekh Ahmad Tijani ridho atas wafatnya Kyai Maftuh yang selama hidupnya juga mengabdikan menjadi Muqoddam (Mursyid) Thariqah Tijaniyyah selain mengasuh pesantren dan menjabat Rois Syuriah PCNU Kabupaten Malang.
Kemudian sekitar Pukul 08.30 Jenazah diberangkatkan menuju areal makam di Gubuk samping Ndalem H. Agus Moh. Fahim, Gubuk begitulah sebutannya adalah sebutan untuk bangunan tempat transit Kyai Maftuh saat pembangunan pesantren. Dulunya memang seperti gubuk, meski kondisi fisiknya sudah mewah namun identitas gubuk masih melekat. Dan di gubuk itulah Kyai jauh hari-hari meminta untuk dibersihkan dan “kamar” beliau akan disana. Dan ternyata maksud dari “kamar” tersebut adalah pusara Kyai. Begitulah Kyai Maftuh yang terkenal membangun pesantren bermodalkan Cengkir “Kencenge Pikir” dan bangunannya meski mewah namun beliau dengan rendah hati mengatakannya Kurdi “Sukur Dadi”. Kyai Maftuh meski terkenal sangat kaya namun tetap sederhana dan membumi.
Perlu diketahui KH. Maftuh Said adalah putra pertama dari 13 bersaudara. Beliau adalah putra dari Alm. KH. Said Mu’in dan Almh. Ibu Nyai Hj. Mardiyah. KH. Said Mu’in merupakan sosok yang begitu tegas dan keras dalam mendidik putra-putrinya dan murid-muridnya dalam menghafal Al-Qur’an. Maka tak heran jika Alamghfurlahu KH. Abdul Hamid Pasuruan yang terkenal sebagai Waliyullah itu menjuluki beliau sebagai Asadul Qur’an (Macannya Al-Qur’an). Julukan itu disematkan pada KH. Said berkat ketegasannya dalam mengajarkan Al-Qur’an hingga membuahkan hasil ketiga belas putra-putrinya hafidz Al-Qur’an, begitu juga santri-santrinya yang sudah banyak berkiprah di masyarakat. Bahkan Kyai Maftuh yang saat itu masih berusia 9 tahun sudah hafal Al-Qur’an 30 Juz. Kemudian beliau yang sebenarnya sudah kelas 4 di Sekolah Rakyat (sekarang SD) dipondokkan abahnya di Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Kediri yang saat itu masih diasuh KH. Djazuli Usman. Dan Julukan Asadul Qur’an akhirnya juga menurun kepada putra sulungnya tersebut.
Sanad Qiroat sendiri Kyai Said ini bersambung ke KH. Munawwar Sidayu Gresik yang mata rantai sanadnya bersambung sampai Rasulullah SAW. (Sanad Kyai Maftuh sampai Rasulullah akan kami sampaikan di tulisan berikutnya). Kealiman KH. Said menarik minat beberapa pengasuh pesantren untuk meminta restunya untuk juga mengembangkan progam tahfidz di pesantren yang diasuhnya, contohnya KH. Tijani Djauhari, dari Pondok Pesantren Al-Amin, Prenduan, Sumenep yang sowan ke Kyai Said sebelum mendirikan Ma’had Tahfidz Al-Amin.
KH. Said Muin dan Ibu Nyai Hj. Mardiyyah dimakamkan di kampung halaman Kyai Maftuh di dusun Ngaren, Desa Sungonlegowo, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik. Dan setiap tahun diperingati haulnya bersama Alm. KH. Mahfudz Mukhtar, Kepanjen Malang dan Almh. Nyai Hafidzoh Mukhtar beberangan dengan wisuda Santri Bin Nadhor dan pengukuhan santri Bil-Ghoib (Tahfidz) yang diselenggarakan setiap bulan muharram.
Prosesi pemakaman Kyai Maftuh sendiri berjalan sangat lancar, meski ribuan kaum muslimin berberut untuk mengangkat jasad mulia beliau menuju Gubuk. Karena berada dalam ruangan, maka dengan bergotong royong masyarakat memindahkan pasir dari luar ke dalam gubuk diiringi dengan Lafadz Hailalahah (La Ilaha Illah Muhammadrur Rasulullah) tiada henti. Saat itu posisi penulis sedang ikut memindahkan pasir, dan terdengar teriakan untuk mengambil batu nisan. Maka bersama Cak Naim, kita ambil batu nisan di tempat keranda makam belakang Pesantren dan segera membawanya ke Gubuk sebagai patok sementara kuburan.
Sebagaimana diceritakan oleh KH. Muhammad Nur, Putra KH. Said ke-6 secara perlahan-lahan jenazah di masukkan ke liang lahat, di liang lahat KH. Sa’dan, Putra ke-4 KH. Said, Gus H. Muhammad Munawwar Putra Ke-4 KH. Maftuh dan Gus Muhammad Fatih (Cucu KH. Maftuh Said dari KH. Mustofa Badri dan Ibu Nyai. Hj. Nurul Hafsoh). Dan secara perlahan-lahan dimasukkanlah jenazah yang Insya Allah takkan disentuh sedikit pun oleh hewan tanah ini ke liang lahat dan dibaringkan menghadap kiblat untuk selanjutnya ditutup papan, dan diuruk pasir.
Setelah prosesi pemakaman berjalan selama sekitar setengah jam, selesailah pengkuburan dan dilanjut Talqin oleh Gus. H. Zulfan Syahansyah, Kemudian berlanjut pada sambutan dari Prof. Dr. KH. Tolchah Hasan, Mantan Menteri Agama Era Presiden Abdurrahman Wahid perwakilan dari Pemerintah Republik Indonesia dan Nahdlatul Ulama diiringi doa, selanjutnya doa kedua dibacakan Syekh Bashir At-Tijani dan dilanjutkan KH. Muhid Al-Gholi, KH. Tauhid at-Tijani dan ulama lainnya secara bergantian. Dan pada pukul 09.00 upacara pemakaman selesai. Dan dilanjut sholat ghoib, tahlil dan pembacaan Al-Qur’an secara berkelompok-kelompok.
Insya Allah sampai Malam Ahad ke depan, akan dilaksanakan Wadifah Tijaniyyah ba’da Maghrib dan Tahlil setelah pelaksanaan sholat isya’. Monggo bagi yang tak berhalangan kami haturkan untuk hadir, dan jika tak memungkinkan bisa doa tiada putus kami nantikan, agar Arwah beliau diterima di sisi-Nya. Segala dosanya diampuni oleh Allah SWT. Dibebaskan dari siksa kubur. Dan semoga kelak bersama beliau kita akan memasuki gerbang keabadian Surga Jannatul Firdaus.
Selamat Jalan Kyai. Semoga engkau tenang di alam sana. Semoga engkau mengakui kami semua sebagai santrimu meski belum banyak yang bisa kami berikan dan begitu banyak kesalahan yang kami perbuat. Semoga berkah al-Qur’an yang kau hafal dan ajarkan pada kami dengan Izin Dzat Yang Maha Kuasa dapat memberikan syafaat kepada kami menuju surga-Nya yang kekal nan abadi sebagaimana pesan yang nasehat Engkau dengungkan
“Openono Qur’anmu Mongko Bakal Diopeni Uripmu”
“Jagalah Al-Qur’anmu (Bacaan, Hafalan dan Pengamalan, Maka Engkau akan dijaga hidup-Mu (Dunia Akhirat)”
Salam Takdzim dan Semoga Bermanfaat
Santri Al-Munawwariyyah
*Disarikan dari berbagai sumber dan mohon koreksi, saran dan kritikan

No responses yet