Kita butuh terus belajar, dan perlu mengulang karena di dalam pengulangan ada manfaat (begitulah kata orang Arab). Berkaitan dengan ini,  kita belajar masalah kopid.Tentu saya gembira kalau nanti ada yang memberi masukan.

Tulisan di bawah ini adalah wujud belajar saya untuk merangkum postingan dan diskusi dari kolega yang meneliti pirus dan terjun ke lapangan ikut membantu yang sakit kopid sejak tahun lalu, dan hobi meneliti pirus.  

1. Kalau orang sudah dipaksin dua kali dengan paksin dari pirus utuh inaktif apakah  bisa positif?  Tentu bisa positif. Harus diingat bahwa tujuan dipaksin adalah untuk memasukkan data sel memory. Setelah punya sel memory, bila terinfeksi kopid,  tubuh akan lebih cepat memproduksi antibody. Biasanya setelah dipaksin,  dalam waktu 1 x 24 jam, antibody sudah keluar. Jadi walau terinfeksi,  gejala sakitnya  hampir tidak ada. Paling hanya lemas karena ada produksi antibody yang  membutuhkan energi.

2. Orang yang sudah dipaksin dengan pirus utuh inaktif dan ketika suatu saat dia  positif, apakah bisa menularkan? Kemungkinan menularkan sangat kecil. Karena ketika pirus mulai bisa replikasi (saat pirus mencapai reseptor) dan bisa menyebabkan sakit ringan, maka saat itu sudah kedahuluan  “dimakan’ oleh antibody. Sehingga tidak sempat shedding (menyebar ke lingkungan).

3. Apakah perlu diisolasi? Tidak, karena seperti poin dua di atas, yakni pirus yang  menginfeksi masih tahap ringan dan tidak bisa shedding karena kedahuluan “disikat” oleh antibody.

4. Orang yang telah dipaksin kok masih bisa positif? Tentu sangat bisa, dan itu wajar. Karena pirus memang menyebar dimana-mana sehingga potensial  terpapar atau ketempelan di hidung atau tenggorokan. Ingat ya, Ketempelan di hidung ini namanya terpapar. Kalau terpapar belum tentu terinfeksi. Terinfeksi adalah saat pirus telah replikasi dan membuat sakit. Sekali lagi, orang yang telah dipaksin masih bisa positif, tapi gejala jadi lebih ringan bahkan tidak bergejala, karena bila sampai terinfeksi, antibody akan diproduksi 1 x 24 jam setelah terinfeksi dan siap “menggasak” pirus.

5. Ingat ya, kalau hanya terpapar yang bila diswab akan positif,  kita tidak  perlu merasa kiamat. Jangankan terpapar, terinfeksi  saja ya tetap tenang saja. Karena kalau sudah dipaksin akan bisa diatasi oleh sel memory. Jangankan sudah dipaksin, belum dipaksin saja banyak yang bisa sembuh atau malah tidak sakit walau kena virus alias hanya terpapar saja. 

6. Ketidakperluan untuk khawatir ini juga didukung oleh angka kesembuhan di dunia yang tinggi dibanding angka meninggal. Bahkan tingkat kematian semakin menurun (lihat flyer dari Mas  Andrezeko tentang The World’s Deadliest Pandemics). Meninggal pun rerata karena komorbid atau pemberian obat yang overdosis. Sekalipun demikian, hati hati di segala bidang sesuai kapasitas diri adalah perlu.

7. Karena sekarang ini sering diswab ketika ada kebutuhan dengan pihak lain, maka agar hidung  tidak terpapar bila mau diswab, perlu disosialisasikan cuci hidung dengan larutan garam krosok/grosok 1% , lakukan beberapa kali sebelum swab. Tatkala mau berangkat swab perlu memakai masker agar ketika lewat tempat yang banyak virusnya bisa mengurangi resiko terpapar atau ketempelan virus.

8. Penjelasan di atas adalah manfaat kalau dipaksin. Namun perlu ingat ya,  pilih paksin yang aman dan efektif. Oh ya, sebenarnya satu kali dipaksin yang terbuat dari pirus  utuh yang diinaktivasi  sudah cukup untuk memicu antibody dan membuat sel memory dalam tubuh. Hal ini berdasar pengalaman kolega yang 16 tahun isolasi banyak pirus & membuat banyak paksin. 

9. Sel memory dalam tubuh akan bertahan puluhan tahun ke depan, dan karena terbuat dari pirus utuh yang diinaktivasi, akan tetap efektif meski banyak variasi/mutasi yang terjadi. 

10. Tetap berusaha gembira dan tenang serta olahraga adalah penting agar sehat jasmani. Juga wiridan (berdoa) adalah wajib agar sehat batin. Orang yang tidak sehat karena stress atau karena tidak olahraga akan gampang kena penyakit apapun. Walau sudah dipaksin. Bila  tubuh tidak sedang  sehat, maka saat ada penyakit masuk lalu sel memory mau membentuk pasukan, tentu akan lebih sulit karena tidak disupport oleh tubuh yang sehat.

11. Oh ya, hampir lupa, masalah haji yang saya maksud adalah di India. Ternyata negara dengan penduduk 1 milyar lebih 380 juta ini sudah membuka peluang untuk haji tahun ini  walau kapan hari diisukan ada varian dan mutasi. Poin yang ingin saya tegaskan, India dihajar media habis-habisan terkait dengan isu kopid, ternyata malah bangkit  dan tetap mau memberangkatkan haji (lihat foto edaran komite haji India). Semoga  terealisir beneran dan pemerintah Saudi membuka peluang.

Masalah Indonesia yang belum memberangkatkan tentu punya kebijakan sendiri dengan memandang lebih maslahah dengan keputusan yang demikian. Atau mungkin butuh “dihajar” medsos secara lebih “nggegirisi” agar kita  bangkit lebih “ngidap ngidapi”. Salam bangkit kawan.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *