Di pagelaran akbar dalam rangka peringatan “Yaum Watani Saudi” atau hari Nasional Arab Saudi ke-90, Indonesia yang diwakili oleh KBRI Riyadh diundang menjadi tamu kehormatan.
Acara yang dipenuhi ekspresi “hubbul watan” nasionalisme kebangsaan Arab Saudi tersebut diselenggarakan oleh Kerajaan Arab Saudi di sebuah area “Digital City/al-Madinah al-Raqmiyyah” Kota Digital seluas 900 hektar di kawasan Riyadh awal pekan ini. Digital City adalah kota moderen dengan fasilitas super canggih dan kekinian plus keakanan.
Dalam kesempatan tersebut, sebagai representasi dari negeri gudangnya Islam Wasati, Republik Indonesia, saya didapuk alias “diplekotho” untuk terlibat langsung dalam tarian tradisional Arab Saudi “Ardah Najdiyyah” yang menggambarkan kecintaan terhadap tanah air Arab Saudi.
Saya tampil percaya diri di folklore tarian rakyat kebanggaan para Raja-Raja Arab Saudi tersebut karena lirik-lirik syairnya pernah saya baca ketika nyantri di Futuhiyyah Mranggen. Untaian lirik-liriknya pernah saya temukan di sebuah majalah bulanan “al-Tadhamun al-Islamiy” yang diterbitkan oleh Kementerian Haji dan Wakaf ketika tahun 1980 an.
Lirik pengiring tari yang biasanya digelar kolosal ini terdiri dari 10 bait. Saya hanya hafal 5 bait pertama tapi sudah cukup untuk berani “mbengok” di folklore 25 menit tsb . Pencipta syair tsb adalah Abdurrahman bin Shufyan yang lahir pada tahun 1918.
نحمد الله جت على ما تمنى # من ولي العرش جزل الوهايب
خبّر اللي طامع في وطنا # دونها نثنى إلى جت طلايب
واجــد الـلـي قبلـكـم قــد تـمـنـى # حـربـنـا لاراح عـايــف وتـايــب
Style dan genre lirik ini memakai bahasa “slank” dan bukan “fusha” sehingga untuk pengucapannya tidak perlu pakai kaidah Jurumiyyah, Imriti ataupun Alfiyyah Ibn Malik. Tidak perlu ribet-ribet pakai ilmu i’rab atau ilmu saraf tasrifan yang merupakan keniscayaan ilmu para santri.
Selesai joged (bukan joged koplo model New Palapa Brodin) dalam tarian tradisonal tersebut, para jurnalis dan anak-anak milenial Saudi memberikan apresiasi dan bertanya: “Dubes, ternyata anda tidak hanya hafal lagu kebangsaan Saudi, tapi juga menguasai lirik rumit folklore kebanggaan bangsa Saudi, dimana anda belajar?
Saya jawab dengan agak “kemaki” (terkadang diplomat harus “nggaya” karena membawa dignity Negara besar Indonesia): “Saya baca lirik-lirik tersebut ketika di Pesantren dan sudah seharusnya seorang diplomat harus tahu, faham dan mengerti “alfaba’iyyah (Alif, Ba, Ta sampai Ya) nya negara tempat dia ditugaskan. Termasuk peradaban, budaya serta tradisinya”.
Jawaban tsb mengingatkan sebuah pesan “cambuk” dari kawan Saudi yang expert:
إذا لم تعرف نفسك ولم تعرف الدولة المعتمد لديها فأنت من الأموات لا محالة “Jika anda tidak memiliki epistemologi diplomasi dan anda tidak mengerti tentang negara akreditasi tempat anda ditugaskan, maka dipastikan anda adalah mayat yang menjadi diplomat”. (Sumber: FB Agus Maftuh Abegebriel)

No responses yet