Ngomong2 ridho, kita bisa belajar ridho lewat memilih redaksi doa. Kita sedikit bercocokologi lewat dawuh Kanjeng Nabi, 

الدعاء سلاح المؤمن

“Doa itu senjatanya orang mukmin” 

Kalo ngomong senjata di jaman Kanjeng Nabi atau jaman dulu, adanya ya pedang. Atau kalo gak ya keris-lah biar lebih Nusantara.

Pedang atau keris itu umumnya terbagi jadi 3 bagian : 

1. Bagian utama berupa logam panjang dan tajam yg disebut bilah.

2. Bagian handle yang disebut gagang.

3. Bagian warongko atau sarungnya. 

Bagian bilah sebuah doa adalah pujian kepada Gusti Allah. Karena bagian inilah kenapa sesuatu itu disebut senjata. Begitu juga doa disebut ibadah karena dalam doa ada pujian kepada Gusti Allah disebut-sebut. Bilah inilah yang dipakai untuk menebas sasaran, semakin tajam semakin baik. Begitu juga doa, semakin banyak memuji Gusti Allah, bisa merobek langit dan mempermudah hajat.

Bagian gagang sebuah doa adalah isi permintaan doa kita. Karena ada gagang, maka senjata itu bisa dipegang, dikendalikan dan digunakan sekehendak hati. Begitu juga doa, isi permintaan doa itu tergantung hati kita mau mengarahkan ke mana doa itu.

Dan bagian warongko sebuah doa adalah sholawat. Warongko keris ini fungsinya jadi penutup sekaligus penghias keris. Biasanya warongko keris itu diberi hiasan ukiran atau permata hingga keris itu tampak artistik dan indah. Begitu juga doa, selayaknya ditutup dengan sholawat dgn redaksi yg indah. Sehingga doa itu bisa diterima oleh Yang Maha Indah.

Sudah jadi konsensus para Mpu pembuat keris, sebuah keris itu bagian bilahnya lebih panjang daripada gagangnya. Semakin panjang dan tajam bilahnya, semakin mengerikan dan mematikan. Bukan malah sebaliknya, gagang lebih panjang daripada bilah. Ya gak jadi keris, malah jadi pentungan hansip.

Begitu juga udah seharusnya sebuah doa itu memperpanjang pujian pada Gusti Allah. Semakin panjang dan semakin tinggi pujiannya, semakin besar kemungkinan doa itu terkabul. Dan isi permintaan doa itu secukupnya, gak usah panjang-panjang dan ringkas saja. Kalo permintaannya kepanjangan melebihi pujian itu namanya curhat, gak jadi doa. 

Sebab terlalu banyak permintaan dalam doa, tandanya kita banyak ketidakpuasan dalam hidup. Muncul ketidakpuasan ini artinya ada rasa tidak senang terhadap takdir. Artinya tidak ridho terhadap ketetapan Gusti Allah. Ini yang sering tidak kita perhatikan.

Maka ini jadi konsensus ulama dalam berdoa. Kalo pingin doa cepet diijabahi, perpanjang pujian dan sholawat. Isi permintaan ringkas saja, karena Gusti Allah udah tau kalo kita itu kesulitan, bahkan sebelum kita berdoa. 

Ini yang dicontohkan oleh redaksi doa-doa susunan ulama, seperti doa wirdhus shoghir, wirdhul kabir, ratib, hizib dan lain-lain. Semuanya memperpanjang pujian dan sholawat. Isi permintaan biasanya global, gak spesifik banget. Maka jadilah doa-doa mereka sangat wingit, menthes dan mujarab, selayaknya pusaka keris bertuah.

Nah, dengan memahami hal ini, kita bisa belajar untuk menerima semua pemberian Gusti Allah, tidak meratapi nasib dan belajar menyenangi Gusti Allah dan Rosul-Nya. Dan pelan2 kita resapi pujian dan sholawat dalam doa itu, biar muncul kecintaan dan ridho. Sehingga tujuan doa sebagai ibadah pun tercapai, kita pun gak banyak mengeluh tapi memperbanyak pujian bagi Gusti Allah dan sholawat bagi Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Jadilah doa itu sebuah senjata keris yang bertuah, bukan pentungan hansip.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *