Setelah kita bisa mencerna sholat secara logika akal sehat dan memahami betul kenapa kita butuh sholat, baru kita akan punya semangat untuk melakukan sholat dan belajar sholat. Selama punya semangat tersebut, artinya Gusti Allah berkehendak membuat kita menjadi orang yang lebih baik di sisi-Nya.
Kanjeng Nabi Muhammad SAW dawuh
من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين
“Siapa saja yang dikehendaki Gusti Allah kebaikan, maka Dia akan memberi pemahaman pada agama”
Kalo kita gak punya rasa butuh pada sholat, tidak punya semangat buat sholat dan berhenti belajar sholat, maka kita kudu waspada. Jangan-jangan Gusti Allah menghendaki kita keburukan.
Dan belajar sholat ini jangan berhenti sampai menguasai aspek lahirnya (fiqihnya) saja. Kalo bisa aspek batinnya sholat juga terus dikejar.
Dalam Al Qur’an, orang yang sholat disebut mushollin. Mushollin ini ada 2 macam:
1. Orang sholat yang baik disebut dalam Surat Al Ma’arij 22-27
إِلَّا الْمُصَلِّينَ ¤ الَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ ¤ وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ ¤ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ ¤ وَالَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ ¤ وَالَّذِينَ هُمْ مِنْ عَذَابِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ
Orang sholat yang baik adalah mereka yang punya sifat yang lahir batinnya selalu tetap dalam keadaan sholat (cita-citanya tentang kesempurnaan sholat), yang selalu menyisihkan harta bagi orang yang meminta dan tidak punya apa-apa, yang membenarkan hari kiamat, yang sangat takut pada siksa Gusti Allah.
2. Orang sholat yang buruk adalah kebalikannya, disebut dalam Surat Al Ma’un 4-7
فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ ¤ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ¤ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ ¤ وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ
Orang sholat yang buruk adalah orang yang suka lalai dalam sholatnya (tidak punya cita-cita sholat yang sempurna), yang punya hati riya’ dan tidak mau menolong orang lain dengan sesuatu yang manfaat.
Ini membuktikan, sempurnanya sholat itu bukan dilihat dari aspek lahir saja. Tapi juga aspek batin dan kemanfaatan bagi orang lain. Kalo kita lengah, ya gak ada pengaruh buat kehidupan kita dan orang sekeliling kita. Jadi jangan heran ada orang sholat kok kelakuannya malah kayak begundal.
Seperti yg udah kita bahas, orang yang sholatnya sempurna, pasti punya atsar atau jejaknya (atsaris sujud). Jejak inilah yang membuahkan kebaikan bagi dirinya dan orang lain.
Seperti yg pernah disinggung dalam tulisan yang lalu, orang yang sholatnya penuh makna pasti punya sifat pikirannya progresif, mau bekerja keras, tidak suka protes, selalu berdzikir dan bersyukur, tidak punya dendam, mengasihi orang lain dan lain-lain. Itu jejaknya di dunia. Di akhirat malah lebih, karena mereka disebut muqorrobiin (orang yang dekat dengan Gusti Allah). Maka kita kudu punya cita-cita untuk bisa sholat yang sempurna di sisi Gusti Allah. Itu baru keren.
Mencari kesempurnaan sholat ini memang bukan perkara mudah tapi bukan mustahil. Harus dengan ilmu dan hati yang penuh syukur. Lalu dilakukan pelan-pelan, seperti nyari channel radio, hingga ketemu Gusti Allah.
Nah, semoga kita diberi kekuatan, kemauan dan modal untuk terus belajar menyempurnakan sholat, mbah. Sehingga seluruh aspek kehidupan kita di dunia, hanya ditujukan untuk menyempurnakan sholat seperti orang-orang sholeh yang mulia. Aamiin.
Ngomong sholat yang sempurna, saya jadi ingat satu cerita seorang ulama Nusantara. Kalau selama ini kita mendengar cerita tentang kekhusyukan sholat tingkat super dari Sayyidina Ali KWH yang ketika kena panah dan waktu mau dicabut, beliau minta dicabut ketika sholat biar tidak terasa sakit. Saking khusyuknya kalo sholat. Di Nusantara ini juga ada ulama yang punya cerita mirip demikian.
Adalah Mbah Said Gedongan Cirebon, suatu ketika beliau sholat berjamaah dengan warga dan santri di sebuah langgar di desa Gedongan. Tiba-tiba di tengah sholat, datang hujan lebat yang mengakibatkan air bah dengan cepat meluap menenggelamkan desa. Langgar Gedongan pun kebanjiran juga. Kontan para jama’ah sholat pun bubar menyelamatkan diri dari serbuan air bah yang meluap cepat.
Anehnya, Mbah Said tidak ikut menyelamatkan diri, beliau tetap khusyuk dengan sholatnya. Hingga ketika hujan reda, Mbah Said baru selesai salam. Dan masih dalam keadaan duduk tahiyat akhir, Mbah Said kaget dan heran, langgar tempat sholatnya sudah banjir setinggi pundak Mbah Said. Ketika menoleh ke belakang, jamaah sudah bubar dan langgar kosong hanya dipenuhi air bah yang menggenang.
Tak lama, warga pun berdatangan ke langgar lagi untuk menyelamatkan Mbah Said. Dan warga bersyukur, Mbah Said tidak apa-apa. Mbah Said malah bertanya keheranan kepada para warga.
“Eh, kenapa kalian bubar sholatnya?” Begitu kira-kira tanya Mbah Said pada para warga.
“Kampung kebanjiran, Yai, terpaksa kami bubar menyelamatkan diri, waktu kami bubar, kami sempat mengingatkan njenengan, tapi njenengan khusyuk banget dan tidak beranjak dari pengimaman, malah terus sholat, akhirnya njenengan kami tinggal sementara untuk menyelamatkan yang lain,” Ujar warga.
“Loh, hujannya kapan? Kok tiba-tiba langsung banjir saja,” ujar Mbah Said keheranan. Warga yang melihat Mbah Said keheranan, malah tambah heran.
Cerita ini diceritakan oleh Kyai Aghust Muhaimin, salah satu pengurus pesantren Gedongan sekarang.
Lahul Faatihah.
Mugi manfaat.
#AyoNyarkub #ArbainFiUshuliddin #ImamGhozali

No responses yet