Kitab At-Tuhfatus Saniyyah ditulis oleh Syekh Hasan al-Masyath pengajar di Masjidil Haram dan Madrasah Saulatiyah, Mekah. Pada tahun 1346 H. Kitab ini berisi tentang ilmu Faraidh.

Adapun ulama Jambi yang menyarahi kitab ini adalah Syekh Abu Bakar Syarifuddin mudir ke-3 Pondok Pesantren Sa’adatuddarein, Tahtul Yaman, Pelayangan, Jambi. Sebagaimana disebutkan dalam kitab “Natsr al-Jawahir wa al-Durar fi Ulama al-Qarn ar-Rabi’ ‘Asyar” karya Yusuf bin Abdurrahman al-Mar’asyli dan kitab “al-Jawahir al-Tsaminah” karya Syekh Hasan al-Masyath, bahwa muridnya ini telah menyarahi kitabnya At-Tuhfatus Saniyyah dalam bentuk nadzam dan kitab tersebut diberi judul “At-Tuhfah al-Mardiyah”. Kitab ini diberi taqrizh (endorsement) oleh ulama Mekah, yaitu Syekh Muhammad Jamal al-Maliki, Syekh Muhammad Ali al-Maliki, Sayyid Hasan bin Abdurrahman al-Musawa dan Syekh Ahmad Badruddin an-Nuri.

Berikutnya kitab At-Tuhfatus Saniyyah karya Syekh Hasan al-Masyath disyarahi oleh Kyai Muhammad Yahya Teluk Nilau, Jambi dan kitab tersebut diberi judul “Buku Qoidah Faraidh”. Ditulis menggunakan aksara Arab-Melayu. Beliau merupakan alumni Madrasah Nurul Iman, Seberang Kota Jambi. Kitab ini saya dapatkan langsung dari penulisnya saat sowan dikediamannya. Selain itu beliau telah menulis beberapa kitab lainnya. Seperti Cabang Iman, Bayar Fidyah Shalat wa Syiam, Buku Badan Amil, Ghoslatul Mayit wa Kafan, Luqtoh al-Masail Mayit. Semuanya ditulis menggunakan aksara Arab-Melayu.

Sementara itu kitab kitab At-Tuhfatus Saniyyah, juga disyarahi oleh murid Syekh Hasan al-Masyath lainnya. Seperti Syekh Zainuddin bin Abdul Madjid (w. 1418 H) dan diberi judul al-Nahdhah al-Zainiyyah, kemudian beliau syarahi lagi dan diberi judul at-Tuhfah al-Ampananiyah

Sayyid Muhsin bin Ali al-Musawa (w. 1354 H) dengan judul “an-Nafhatu al-Tsaniyah”, Syekh Zakariya Bila (w. 1413 H) “al-Azhar al-Wardiyah”, Syekh Abdul Fattah Rawa (w. 1424 H) “ad-Durar al-Lu’lu’ah”.

Saat mempelajari ilmu faraidh kita sering mendengar hadits nabi yang semacam ini:

تَعَلَّمُوا الْفَرَائِضَ وَعَلِّمُوهَا، فَإِنَّهُ نِصْفُ الْعِلْمِ وَهُوَ يُنْسَى، وَهُوَ أَوَّلُ شَيْءٍ يُنْزَعُ مِنْ أُمَّتِي

“Pelajarilah ilmu faraid serta ajarkanlah kepada orang lain, karena sesungguhnya, ilmu faraid setengahnya ilmu; ia akan dilupakan, dan ia adalah ilmu pertama yang akan diangkat dari umatku”. 

Waallahu ‘Alam

Jambi,  13 Juni 2021

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *