Ini bukan kisah fiksi, tapi nyata. Arti dunia hitam saya kira semua pembaca sudah tahu. Sedang pendekar hitam yang saya maksud dalam kisah ini bukan pendekar dari kelompok dunia hitam atau pendekar buruk. Tapi pendekar yang kulitnya agak hitam tapi manis (silakan tersenyum), rambut dan jenggotnya sering lebih terlihat panjang dan  hitam plus pakaiannya hitam (maklum PN).

Namanya Gus Ali dari keluarga Pondok Joho, Pace, Nganjuk. Saya sering memanggilnya Mbah Ali. Beliau masih ada hubungan famili “glendeng geret” dengan saya. 

Beliau low profile, dan kalau jagongan saya lihat lebih banyak ndingkluknya (merunduk) sehingga saya sulit saat mau menatap wajahnya yang ganteng itu (boleh senyum lagi). Mbah Ban  bilang ke saya bahwa dia  pendekar nyufi.

Hal yang perlu kita acungi jempol adalah dia berdakwah mengelana dengan mengenalkan pencak silat tradisi warisan leluhur penangkal ajaran radikal. Di Kalimantan beliau merintis latihan dan mendirikan lembaga pendidikan. Saat pertama  menjejakkan kaki di Kalimantan tidak mulus. Pernah di situ diserahi mengelola lembaga pendidikan, tapi akhirnya diambil alih keluarga yang menyerahkan. 

Namun berkat pengalamannya, akhirnya beliau mendapatkan hibah tanah di dekat Pangkalan Bun, lalu dirintis menjadi lembaga pendidikan dan diserahkan kepada anak buahnya untuk mengelolanya. Beliau berposisi sebagai pendiri dan ketua yayasan.

Saat mengelana ke Jawa Tengah beliau juga diserahi lembaga pendidikan dan saat ini dikelola oleh teman-temannya dengan merintis sekolah Diniyyah.

Lalu bagaimana dengan kisah dunia hitam?  Entah bagaimana beliau disenangi oleh beberapa pelaku dunia hitam untuk curhat. Mungkin karena low profile, sabar, andap asor dan tentu  tirakat yang pernah dilakukan yang menjadikannya dijadikan tempat curhat orang dunia hitam.

Salah satu kisahnya dengan orang dunia hitam berikut ini. Awalnya seseorang sebut saja si A  mempunyai masalah dengan “pekerjaannya” di pelabuhan. Lalu teman si A yang namanya Gombloh mengenalkan dengan tokoh masyarakat sebut saja Mbah  Abdillah. 

Selanjutnya si A diarahkan ke Gus Ali. Setelah diajak diskusi, si A  curhat kepada Gus Ali katanya mempunyai perasaan dan hati yang tidak tenang. Dia mengaku sebagai  bandar narkoba dengan tampilan muka (kamuflase) sebagai bos para pengasong  di pelabuhan. 

Ngobrol  beberapa pertemuan dengan Gus Ali serta diajak nyarkub atau ziarah ke makam para wali (jangan bilang syirik ya). Alhamdulillah akhirnya hatinya tenang dan mau umroh. 

Sepulang umroh si A mendirikan bangunan dan bilang ke Gus Ali bahwa bangunan itu  diwakafkan untuk pendidikan dan dikhususkan untuk anak-anak yatim. Lembaganya ini berbasis ekonomi mandiri tanpa minta sumbangan.

Masih ada beberapa kisah dengan orang dunia hitam, tapi tidak saya tulis cukup contoh satu kisah di atas.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *