Seorang jamaah senior yang terlihat lelah mendatangi Paijo dan berujar:. “Jo ceritakan padaku tentang sesuatu yang bisa menghibur tapi sekaligus mencerahkan imanku dan membangkitkan semangatku menjalani hidup di zaman akhir ini. Sebab aku lihat kamu dan Yuk Tin tetap percaya diri dalam zaman yang penuh fitnah dan godaan ini.”
Paijo tersenyum dan menimpali: “Anda kira saya dan Yuk Tin tidak “stress” mikir persoalan hidup? Kita ini sama saja, bahasa kerennya itu sebelas dua belas nasibnya. Masih mending anda yang punya keluarga, sedangkan saya malah dapat gelar “jomblo forever”. Si jamaah tersenyum mendengar ocehan Paijo.
Jama’ah : “Ayo ceritakan satu saja.”
Paijo : ” Baiklah aku pernah dapat cerita dari gurunya Yuk Tin. Ada seorang peternak kambing yang sangat kikir pada dirinya sendiri dan bahkan pada Tuhan-nya. Ia tidak pernah mengeluarkan zakat. Akhirnya ia diadukan kepada seorang kiai di kampungnya. Sang kiai pun memanggil dua santrinya yang selama ini dipuji paling alim oleh teman-teman mereka. Keduanya dijanjikan akan dipilih menjadi menantunya jika bisa membuat si peternak kambing sadar dan mau mengeluarkan zakat. Santri pertama dikenal santri yang tegas dan hapal semua semua kitab fiqih. Dia pun meminta giliran pertama begitu sang kiai menawarkan siapa yang akan lebih dahulu “menasehati” si peternak.
Begitu datang di rumah peternak, santri senior ini langsung menjelaskan maksud kedatangannya yang diperintahkan oleh kiai. Si santri langsung menasehati: “Bapak zakat adalah kewajiban kita sebagai Muslim, kalau kita tidak melaksanakannya kita pasti berdosa, bapak punya 40 ekor kambing, masak keberatan mengeluarkan zakat seekor saja.” Peternak menjawab ; “Wah aku telah merawat kambingku dengan susah payah masak harus dikurangi untuk zakat, aku belum bisa mas santri”. Si santri yang sudah kadung membayangkan punya istri si ning yang cantik, mulai kebingungan dan menggunakan jurus ancaman “Waduh pak bahaya itu pak, bapak akan masuk neraka jika tidak memenuhi kewajiban zakat.” Si peternak dengan tenang menjawab ; “Ya kalau aku ditakdirkan masuk neraka oleh Allah, ya sudah memang sudah nasibku.” Si santri tambah bingung “Bapak ini gimana dibilangi masuk neraka kok malah tenang-tenang saja?” Si peternak menjawab: “Lha gimana lagi mas santri, wong saya ini milik Tuhan, jadi ya terserah Tuhan nasib saya. Lha kambing-kambing itu kan milik (dalam perwatan) saya, jadi saya keberatan kalau dikurangi untuk zakat.” Si santri pun kecewa karena gagal membujuk si peternak sambil mengumpat dalam hati “wong edan zakat kok nggak mau”. Dia pun pamitan pulang dengan kecewa.
Giliran santri kedua diperintah sang kiai datang ke rumah sang peternak. Santri ini ahli riyadoh dan tidak begitu tegas bicara. Dengan sedikit ragu ia pun bertamu ke rumah sang peternak. Sang peternak pun bertanya maksud kedatangannya. Ia pun dengan agak gerogi menjelaskan bahwa di diutus kiainya untuk mengambil kambing sang peternak untuk dijadikan zakat. (Sang peternak berpikir kambing akan dibeli kiai untuk zakat). “Baik aku percaya sama kiai, bawa saja dulu besok aku ke rumah kiai” , ujar si peternak. Maka kembalilah si santri dengan membawa kambing dan diserahkan ke kiai. Begitu bahagianya sang kiai, segera saja ia berjanji menikahkan putri dengan si santri keesokan harinya. Ketika sedang pesta setelah selesai akad nikah si peternak datang dan langsung meminta uang pembelian kambing. Sang kiai bingung dan santri pun dipanggil, apa yang sebenarnya dikatakan dia kepada peternak. Segera santri menjelaskan ia mengatakan bahwa ia diutus kiai untuk mengambil kambing untuk dijadikan zakat. Sang kiai pun tertawa dan lantas membayar kambing itu kepada peternak. Si peternak heran kenapa kiai tidak marah pada santrinya, dan diapun bertanya : “Kenapa kiai malah tertawa dan tidak marah?” Sang kia menimpali; “Kenapa harus marah? Semua ini milik Tuhan, maka Dia juga yang mengatur semua peristiwa ini.” Si peternak merenung, sang kiai saja merelakan putrinya demi janji kepada manusia. Sementara aku hanya demi seekor kambing saja tidak nurut pada perintah Nya, untuk berzakat. Maka keesokan harinya sang peternak membawa 10 ekor kambing untuk diserahkan kepada kiai sebagai zakat yang selama ini ia abaikan selama ini.
Jama’ah : “Apa hikmah cerita itu Jo?”
Paijo : “Tetap khusnudzhon sama Takdir Allah dan dekatilah para kiai (ahli ilmu) agar tidak lupa diri.” #SeriPaijo

No responses yet