Categories:

Oleh: Retna Dwi Estuningtiyas dan Faridah .

Tarekat Khalwatiyah yang selama ini dipahami sebagai tarekat besar di Sulawesi di samping Tarekat Naqsyabandiyah maupun Qadariyah, ternyata di beberapa wilayah berbeda penerimaan. Esksitensi Tarekat Khalwatiyah di Kabupaten Sinjai Sulawesi Selatan sendiri sempat mengalami penolakan pada Tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf Gowa atau di tempat lain dikenal dengan nama Tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf Makassary, dimana justru di daerah lain aliran ini yang berkembang. Di Kabupaten Sinjai Tarekat Khalwatiyah yang masih eksis dan berkembang baik adalah Tarekat Khalwatiyah Samman yang diperkenalkan oleh seorang sufi besar asal Madinah, yang bernama Muhammad bin Abdul Karim an-Samman al-Qurasyi al-Madani al-Syafi’i  yang lebih dikenal dengan sebutan Syekh Samman. Pola pelaksanaan zikir maupun aturan dan adab yang dirasakan sesuai oleh masyarakat menyebabkan tarekat ini diterima dan berkembang sampai sekarang.  

 Abstract

 The Khalwatiyah Tarekat, which has been understood as a large tarekat in Sulawesi in addition to the Naqsyabandiyah and Qadariyah tarekat, turns out to be different in acceptance. The existence of the Khalwatiyah Congregation in Sinjai Regency, South Sulawesi itself had experienced rejection at the Khalwatiyah Order of Syekh Yusuf Gowa or elsewhere known as the Khalwatiyah Tarekat Syekh Yusuf Makassary, where in other areas this sect has developed. In Sinjai District, the Khalwatiyah Tarekat that still exists and is developing well is the Khalwatiyah Samman Order which was introduced by a great Sufi from Medina, named Muhammad bin Abdul Karim an-Samman al-Qurasyi al-Madani al-Shafi’i, better known as Shaykh. Samman. The pattern of implementing dhikr as well as the rules and manners that are felt by the community has resulted in this tarekat being accepted and developing until now.

Selengkapnya Klik DI SINI

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *