Kitab ini merupakan karya terbaru Kiai Thaifur Ali Wafa sebagai syarah Tanwirul Qulub. Dalam pengantarnya, beliau menulis ‘dalam hati, saya mempunyai keinginan untuk berkhidmah padanya (Tanwirul Qulub) dengan menulis syarahnya agar ia (syarah) mendapat seperti yang ia (Tanwirul Qulub) dapat berupa diterima dan dikaji dan tidak menjadi sampel karya yang ditolak dan disia-siakan.’ 

Dengan karya terbarunya ini, Kiai Thaifur kembali menahbiskan bahwa beliau adalah sosok alim-allamah. Faidlus Suyub ini masih jilid pertama dan  menjelaskan sampai mukjizat terbesar Rasulullah, yaitu al-Qur’an (halaman 35). Tapi, beliau sudah mensyarahinya setebal 441 halaman. Subhanallah. Sungguh, beliau luar biasa.

Syaikh Muhammad Amin al-Kurdi al-Irbili, penulis Tanwirul Qulub, mempunyai kesamaan dengan Kiai Thaifur Ali Wafa. Beliau berdua sama-sama tokoh Tarekat Naqsyabandiyah.  Perbedaannya, jika ayah Syaikh Amin, Syaikh Fathullah Zadah, adalah mursyid Tarekat Qadiriyah, maka Syaikh Ali Wafa, ayah Kiai Thaifur, merupakan mursyid Tarekat Naqsyabandiyah. Syaikh Amin lahir di Irbil, Irak, pada paruh kedua abad ketiga belas hijriah dan wafat di Mesir pada malam Ahad, 12 Rabiul Awal 1332 H. 

Silsilah Tarekat Naqsyabandiyah Syaikh Muhammad Amin al-Kurdi dari gurunya, Syaikh Umar, dari ayahnya, Syaikh Utsman, dari Maulana Khalid, Maha Guru Naqsyabandiyah Khalidiyah. Sedangkan silsilah Tarekat Naqsyabandiyah Kiai Thaifur berasal dari gurunya, Syaikh Yahya bin Abdul Qadir Barisy Lebanon, dari Syaikh Muhammad Utsman (Siradjuddin II) dari ayahnya, Syaikh Muhammad (Alauddin) dari Syaikh Umar (Dliyauddin) dari Maulana Khalid. Jadi, silsilah Syaikh Amin dan Kiai Thaifur bertemu pada Maulana Khalid, Maha Guru Naqsyabandiyah Khalidiyah, dari Syaikh Abdullah ad-Dihlawi.

Sebelum itu, Kiai Thaifur berbaiat Tarekat Naqsyabandiyah Muzhariyah dan mendapat ijazah irsyad dari gurunya, Kiai Shalih Baidlawi / Kiai Lathifi Malang, dari Kiai Ali Wafa Ambunten, dari Syaikh Ahmad Siradjuddin Kajuk, dari Syaikh Hasan Basuni Bangkalan, dari Syaikh Abdul Azhim Bangkalan, dari Syaikh Muhammad Muzhar, dari Syaikh Ahmad Said, dari Syaikh Abu Said, dari Syaikh Abdullah ad-Dihlawi. Alhasil, silsilah Naqsyabandiyah Muzhariyah dan Khalidiyah bertemu dalam Syaikh Abdullah ad-Dihlawi. Namun karena satu hal, Kiai Thaifur pindah ke Tarekat Syadziliyah. Kemudian, kembali lagi ke Tarekat Naqsyabandiyah di bawah bimbingan Syaikh Yahya Lebanon.

Kembalinya beliau dikarenakan mimpi salah seorang ikhwan Syaikh Ali Wafa. Pada malam Jum’at, 12 Rajab 1439 H., ikhwan tersebut bermimpi Syaikh Ali Wafa turun dari langit dan diselimuti cahaya. Kemudian beliau muncul dan balik lagi serta masuk ke langit sampai tidak kelihatan dan berkata: Anakku (maksudnya Kiai Thaifur) tidak akan bersamaku kelak di akhirat. Adapun Ali Hisyam (saudara seayah Kiai Thaifur) akan bersamaku karena barokah al-Qur’an. Sedangkan putri-putriku tidak akan bersamaku karena bersama suaminya tetapi mereka mendatangiku setiap pagi.

Setelah mimpi itu diceritakan pada Kiai Thaifur, beliau menangis tersedu-sedu seraya berkata: mulai detik ini, saya tinggalkan Tarekat Syadziliyah. Sejak itu, Kiai Thaifur mencari seorang mursyid Naqsyabandi hingga akhirnya menemukan Syaikh Yahya Lebanon. Memasuki bulan Sya’ban, Ali, salah seorang ikhwan Syaikh Ali Wafa yang lain bermimpi beliau shalat di masjid Kiai Thaifur dan dihadiri oleh masyarakat-masyarakat yang sangat banyak. Selesai shalat, beliau duduk di shaf pertama sambil menghadap ke arah selatan. ‘Saya menunggu seorang mursyid dari tanah Arab’ kata beliau. 

Kiai Thaifur semakin bersemangat dengan adanya mimpi tersebut untuk bertemu dengan Syaikh Yahya di Lebanon. Beliau berangkat ke negeri itu, bertemu dan berbaiat Tarekat Naqsyabandiyah pada Syaikh Yahya serta tinggal bersamanya dalam beberapa waktu. Kiai Thaifur melukiskan sang guru dalam bait-bait indah. Berikut diantaranya:

أيا مولاي يحيى من بعيد # أناديكم بترديد شديد

أحبكم دواما في إلهي # و حبك سعد قلبي في صعود

مدى ما كنت في الدنيا حبيبي # لمثلك ما وجدت بلا محيد

Usai dari Lebanon, Kiai Suhail, salah seorang keponakan Kiai Thaifur, bermimpi Syaikh Ali Wafa keluar dari rumahnya dengan diiringi oleh Kiai Thaifur. Setiap Syaikh Ali Wafa melangkah, Kiai Thaifur mengikutinya sampai akhirnya beliau diberi tongkat oleh sang ayah. Mendengar cerita mimpi itu, Kiai Thaifur sangat senang dan bersyukur pada Yang Maha Kuasa.

****

Ciri khas kitab karya Kiai Thaifur Ali Wafa, diantaranya, adalah ungkapan qultu (قلت) untuk menyatakan pendapat pribadi beliau sebagaimana Imam Suyuthi dalam kitab-kitabnya. Tak terkecuali dalam kitab Faidlus Suyub ini. Misal, ketika menazhamkan syarat-syarat amar makruf nahi munkar, Kiai Thaifur menulis: و قديما قلت

و النهي عن منكر أفعال كذا # أمر بمعروف محتم إذا

كان الذي له تولى عالما # بما به أمر أو نهى وما

أدى إلى أكبر من مناكر # و غالب الظن بتأثير دري

وكان مجمعا عليه ذاك أو # تحريمه اعتقد هذا ما رووا

أو حله و ضعفت شبهته # مثل نكاح متعة يمنعه.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *