Fatwa Mufti Makkah untuk Zakat Sagu di Nusantara Timur

119
476

Oleh.A Ginanjar Sya’ban

Ini adalah secarik manuskrip berisi fatwa dari Syaikh ‘Abdullâh b. Muhammad Shâlih al-Zawâwî al-Makkî (w. 1343 H/ 1924 M), seorang ulama besar dunia Islam yang juga menjabat mufti madzhab Syafi’i di Makkah, terkait hukum mengeluarkan zakat fitrah untuk wilayah Nusantara Timur.

Fatwa ini kemungkinan besar ditulis pada akhir abad ke-19 M atau awal abad ke-20 M. Manuskrip ini sendiri tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden (Universitaire Bibliotheken Leiden), Belanda, dalam kumpulan arsip Christian Snouck Hurgronje (w. 1936), seorang orientalis besar Belanda yang juga penasihat pemerintahan colonial Hindia-Belanda (menjabat sepanjang tahun 1889-1906).

Sebagaimana dimaklumi, bahwa mengeluarkan zakat fitrah adalah kewajiban bagi setiap Muslim yang ditunaikan satu tahun satu kali, yaitu pada bulan Ramadhan. Zakat yang dikeluarkan berupa bahan makanan pokok suatu negeri di mana seorang Muslim itu tinggal, dan dengan ukuran tertentu.

Bagi Muslim Timur Tengah, yang mana makanan pokok mereka adalah roti-rotian berbahan pokok gandum, maka zakat fitrah yang ditunaikan berupa gandum. Sementara bagi Muslim di India, yang mana makanan pokok mereka adalah roti-rotian sekaligus nasi, maka zakat fitrah yang ditunaikan pun berupa gandum atau beras. Sementara bagi Muslim Nusantara, yang mana makanan pokok mereka adalah nasi, maka zakat fitrah yang ditunaikan pun adalah beras.

Lalu bagaimana dengan Muslim Nusantara yang berasal dari kawasan Timur, yang mana makanan pokok mereka adalah sagu, bukan gandum dan bukan juga nasi? Apakah mereka menunaikan zakat fitrahnya dengan beras, dengan pertimbangan diqiyaskan dengan Muslim Nusantara wilayah Barat dan Tengah yang memang makanan pokoknya adalah nasi? Ataukah mereka tetap menunaikan zakat fitrah dengan sagu?

Pertanyaan inilah yang diajukan kepada Syaikh ‘Abdullâh b. Muhammad Shâlih al-Zawâwî al-Makkî dalam kapasitasnya yang bukan hanya sebagai mufti Syafi’iyyah di Makkah, tetapi juga sebagai guru para ulama besar asal Nusantara pada abad ke-20 M.

Tertulis pertanyaan dalam secarik kertas fatwa tersebut:

ما قولكم في أهل قطر يقتاتون شيئا يسمى بالساقو ولا تزرع بلدهم غيره ولا يميلون الى قوت غيره. فهل والحال ما ذكر يخرجون زكاة فطرتهم منه لكونهم اعتادوه قوتا غالبا اختيارا أم يكلفون بتحصيل غيره من قوت غير بلدهم. لازلتم هداة مرشدين الى الصراط السوي

(Apa pendapat Tuan tentang penduduk sebuah negeri [daerah] yang mana mereka menggunakan makanan pokok mereka dengan sesuatu yang disebut “Sagu”. Di daerah itu tidak ditanam [tanaman yang dijadikan makanan pokok] selain sagu tersebut. Mereka juga tidak memakan makanan pokok selain sagu. Dalam kondisi demikian, apakah mereka mengeluarkan zakat fitrah dari sagu tersebut, karena mereka memang menjadikan sagu sebagai makanan pokok mereka sebagai pilhan, atau mereka diharuskan mendapatkan makanan pokok dari luar daerah mereka [sepeti beras]? Semoga engkau selalu menjadi petunjuk dan pembimbing menuju jalan yang lempang).

Syaikh ‘Abdullâh al-Zawâwî kemudian menjawab pertanyaan di atas dengan menegaskan bahwa Muslim Nusantara kawasan Timur yang menjadikan sagu sebagai bahan pokok makanan utama mereka, maka zakat fitrah yang dikeluarkannya pun harus berupa sagu. Beliau menulis:

تقدم نظير هذا السؤال قبل سنين وأجبنا عنه نظير ما يتحرر هنا وهو أن أهل القطر الذين يقتادون الاقتيات بالساقو يخرجون زكاة فطرتهم منه، ولا يطلب منهم تحصيل غيره من قوت غير بلدهم. فان الواجب المقرر في كتب المذهب هو اخراج الفطرة من أغلب قوت البلد حتى لو كان في البلد نوعان أو أكثر يقتاد أهل البلد منها جميعا. فالواجب اخراج زكاة الفطر من أغلب ما يقتادون منه. وإن كان الجميع على السواء فيخرج الفطرة من أيها شاء. ولا يكلف أحد جلب البرا وغيره من أخرى والله أعلم. أمر برقمه مفتى الشافعية بمكة المحمية والأقطار الحجازية الراجي غفران المساوي عبد الله بن السيد محمد صالح الزواوي. كان الله لهما آمين آمين.

(Pertanyaan semacam ini telah datang ke pada kami sejak beberapa tahun yang lalu. Dan kami pun menjawab pertanyaan seperti itu di sini: bahwasannya para penduduk suatu negeri [daerah] yang terbiasa menjadikan makanan pokok mereka dengan sagu, maka mereka mengeluarkan zakat fitrah dari sagu tersebut. Tidak diharuskan bagi mereka untuk mendatangkan makanan pokok selain sagu [seperti beras, gandum, dll] dari luar wilayah mereka, yang memang bukan menjadi makanan pokok negeri mereka. Hal yang wajib dan ditetapkan dalam kitab-kitab rujukan madzhab kita [madzhab Syafi’i] adalah mengeluarkan zakat firah dari makanan pokok mayoritas penduduk sebuah negeri, meski di negeri tersebut terdapat dua buah makanan pokok atayu lebih. [dalam kasus seperti itu maka] yang wajib untuk dikeluarkan zakat fitrahnya adalah makanan pokok yang banyak dikonsumsi oleh para penduduk negeri. Jika antara dua makanan pokok atau lebih itu taraf konsumsinya sama, makan para penduduk negeri boleh memilih mana saja untuk menunaikan zakat fitrahnya. Tidak diharuskan seseorang untuk mendatangkan sebuah makanan pokok lain dari luar wilayah negeri mereka. Wallahu a’lam. Telah memerintah untuk menuliskan [fatwa] ini, seorang mufti madzhab Syafi’i di Makkah dan kota-kota Hijaz lainnya, seorang yang mengharapkan ampunan Tuhannya, ‘Abdullâh b. Sayyid Muhammad Shâlih al-Zawâwî. Semoga Allah senantiasa bersama keduanya. Amin).

Pendapat Syaikh ‘Abdullâh al-Zawâwî di atas merupakan pendapat konvensional-klasik hukum zakat fitrah dalam madzhab Syafi’I, yang mana seorang Muslim harus membayar zakat fitrahnya dengan bahan makanan pokok mereka, seperti beras, gandum, atau sagu. Saat ini, berkembang pendapat para ulama yang membolehkan membayar zakat fitrah dengan uang, senilai harga takaran zakat fitrah yang semestinya ditunaikan.

Wallahu A’lam
Bandung, Muharram 1440 H/ Oktober 2018
Alfaqir A. Ginanjar Sya’ban

119 KOMENTAR

  1. It’s the best time to make a few plans for the future and it is time to be happy.
    I have read this publish and if I may I desire to
    recommend you some interesting things or suggestions. Maybe you could
    write subsequent articles referring to this article.
    I desire to read more things about it!

  2. It’s perfect time to make some plans for the future and it is time to be happy.
    I’ve read this post and if I could I want to suggest you some interesting
    things or suggestions. Maybe you could write next articles referring to this article.
    I wish to read even more things about it!

  3. Hi! I’ve been reading your site for a while now and finally
    got the courage to go ahead and give you a shout out
    from Humble Tx! Just wanted to tell you keep up the great work!

  4. It is the best time to make some plans for the
    future and it’s time to be happy. I’ve read this post and
    if I could I want to suggest you few interesting things or
    suggestions. Perhaps you can write next articles referring to this
    article. I wish to read even more things about it!

  5. In accordance with my observation, after a foreclosed home is marketed at an auction, it is common for that borrower to be able to still have some sort ofthat remaining unpaid debt on the financial loan. There are many loan providers who try and have all rates and liens cleared by the future buyer. Having said that, depending on selected programs, polices, and state guidelines there may be several loans which aren’t easily resolved through the switch of lending products. Therefore, the obligation still rests on the customer that has received his or her property in foreclosure. Thanks for sharing your thinking on this weblog.

  6. I’ve been browsing online more than 2 hours today, yet I never found any interesting article like yours.

    It is pretty worth enough for me. In my opinion, if all website owners
    and bloggers made good content as you did, the net will be
    much more useful than ever before.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here