HABIB ALI KWITANG : Ulama Kharismatik, Pejuang Kemerdekaan

2
200

Oleh : Suma Wijaya (Ketua V LTN NU Jakarta Selatan)

Habib Ali Kwitang al-Habsyi adalah tokoh sentral ulama pejuang di tanah Betawi. Ia merupakan tokoh penting dalam jejaring habaib pada akhir abad ke-19 dan paruh pertama abad ke-20, hampir jejaring habaib di Nusantara dan Haramain terkoneksi dengannya, bahkan ia juga menghubungkan antara ulama Pribumi dan ulama Hadrami. Terlahir pada tanggal 20 Jumadil Awal 1286 H / 20 April 1870 M, dan wafat pada hari Ahad, 20 Rajab 1388 H / 13 Oktober 1968 M dalam usia 98 tahun, dimakamkan di Komplek Masjid ar-Riyadh Kwitang, Jakarta Pusat.

Habib Ali bin Abdurrahman bin Abdullah bin Muhammad bin Husein bin Abdurrahman bin Husein bin Abdurrahman bin Hadi bin Ahmad (Shahib Syiib) al-Habsyi bin Muhammad bin Alwi bin Abubakar al-Habsyi atau populer dengan sebutan Habib Ali Kwitang. Ayah beliau tinggal di Jakarta dan dimakamkan di Cikini belakang Taman Ismail Marzuki, sedangkan Ibundanya Nyai Salmah berasal dari Jatinegara. Kakek buyutnya Habib Muhammad bin Husein al-Habsyi datang dari Hadramaut Yaman, bermukim di Pontianak dan mendirikan Kesultanan Hasyimiah dengan para Sultan dari Klan Algadri.

Tidak banyak karya yang ditulis oleh Habib Ali Kwitang, -Sejarahwan Muda NU Zainul Milal Bizawie menyebutkan dalam bukunya Masterpiece Islam Nusantara-, setidaknya ada 2 (dua) karya: 1) al-Azhar al-Wardiyyah fi as-Shuurah an-Nabawiyyah, 2) ad-Durar fi ash-Shalawat ala Khair al-Bariyyah.

Silsilah (Genealogi) Keilmuan

Saat usia 10 tahun, ayahnya Habib Abdurrahman bin Abdullah al-Habsyi wafat dan menyampaikan wasiat kepada istrinya agar putranya yakni Habib Ali Kwitang dikirim ke Hadramaut dan Makkah untuk belajar ilmu agama Islam di tempat-tempat tersebut.

Selama 6 tahun Habib Ali Kwitang bermukim di Hadramaut dan tinggal di rubath Habib Abdurrahman bin Alwi Alaydrus, guru-gurunya antara lain; Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi (Shahib Maulid Simthud Duror), Habib Ahmad bin Hasan al-Atthas, Habib Hasan bin Ahmad Alaydrus, Habib Zein bin Alwi Baabud, Syaikh Hasan bin Awadh Mukaddam, Habib Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur (Mufti al-Dhiyar al-Hadramiyyah), Habib Umar bin Idrus bin Alwi Alaydrus, dan Habib Alwi bin Abdurrahman al-Masyhur.

Pada tahun 1303 H / 1886 M saat usianya 16 tahun, Habib Ali Kwitang kembali ke tanah air, kemudian berguru kepada para alim ulama yang ada di Nusantara saat itu, diantaranya; Habib Muhammad bin Thohir al-Haddad (Tegal), Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi (Surabaya), Habib Abdullah bin Muhsin al-Atthas (Empang Bogor), Habib Husein bin Muhsin al-Syami al-Atthas (Jakarta), Habib Muhammad bin Ahmad al-Muhdhor (Bondowoso), Habib Ahmad bin Muhsin al-Haddar (Bangil), Habib Abdullah bin Ali al-Haddad (Bangil), Sayyid Utsman bin Abdullah bin Yahya (Mufti Betawi), Habib Muhammad bin Alwi al-Shulaibiyah Alaydrus, Habib Salim bin Abdurrahman al-Jufri, Habib Husein bin Muhsin al-Atthas, Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib al-Atthas (Pekalongan), KH. Abdul Hamid (Jatinegara), dan Guru Mujtaba bin Ahmad (Jatinegara).

Kemudian nyantri lagi ke Makkah al-Mukarramah sesuai yang diwasiatkan oleh ayahandanya, dan mendapatkan ijazah dari ulama Makkah, diantaranya; Imam Muhammad bin Husein al-Habsyi (Mufti Makkah), Sayyid Abu Bakar al-Bakri Syatta al-Dimyathi (pengarang kitab Ianathut Thalibin), Syaikh Muhammad Said Babsail, Syaikh Umar Hamdan al-Maghribi, Sayyid Abbas al-Maliky al-Hasani, Syaikh Umar bin Abubakar Bajunaid, dan Habib Abdullah bin Muhammad Sholih al-Zawawi.

Sedangkan di kota Madinah al-Munawwarah, nyantri kepada Habib Ali bin Ali al-Habsyi, Habib Abdullah Jamalullail (Syaikh al-Asaadah), Syaikh Sulaiman bin Muhammad al-Azabi, anak dari pengarang kitab Maulid Azabi. (Milal, 2016: 335-336)

Majelis Taklim Kwitang

Sekembalinya ke tanah air, Habib Ali Kwitang membuka pengajian tetap di kediamannya yang kemudian populer dengan sebutan Majelis Taklim Kwitang. Dakwahnya meliputi pelosok nusantara hingga ke desa-desa yang terpencil di lereng-lereng gunung serta ke manca negara meliputi Singapura, Malaysia, India, Pakistan, Srilangka, dan Mesir (Milal, 2016: 336).

Pada tahun 1940-an beliau mendirikan Masjid ar-Riyadh Kwitang dan disampingnya didirikan sebuah madrasah yang diberi nama Madrasah Unwanul Falah. Dari Majelis inilah lahir para ulama besar Betawi dan tokoh pejuang kemerdekaan yang berguru dan berkhidmat kepada Habib Ali Kwitang, diantaranya; KH. Abdullah Syafii (Pendiri Pesantren Asy-Syafiiyah), KH. Thohir Rohili (Pendiri Pesantren Atthohiriyah), KH. Fathullah Harun, KH. Ahmad Thabrani Paseban, KH. Abdul Hadi Pisangan, KH. Muhammad Naim Cipete, KH. Muhammad Sasi Cilitan, KH. Zayadi Muhajir, KH. Muhajirin, KH. Abdul Rasyid Ramli, KH. Rahmatullah Shidiq, Muallim Syafii Hadzami, Dr. KH. Nahrawi Abdussalam, KH. Abdurrazak Makmun, KH. Ismail dan masih banyak ulama lainnya.

Menurut penilaian Muhammad Asad Syihab, -seorang penulis produktif yang terbit di Timur Tengah dan mengenal Habib Ali Kwitang puluhan tahun- majelis taklim Habib Ali Kwitang dapat bertahan selama lebih dari satu abad karena inti ajaran Islam yang disuguhkannya berlandaskan tauhid, kemurnian iman, solidaritas sosial serta akhlakul karimah.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa ajaran dakwah Habib Ali Kwitang berupa pelatihan kebersihan jiwa (Tazkiyatun Nafs), tasawuf mutabarah dan dialog antar makluk dengan sang khalik serta sesama makhluk. Menurutnya, Habib Ali tidak pernah mengajarkan ideologi kebencian, iri, dengki, ghibah, fitnah dan namimah. Sebaliknya Habib Ali mengembangkan tradisi kakek buyutnya dari keluarga ahlul bait yang intinya menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, menghormati hak-hak setiap manusia tanpa membedakan manusia atas latarbelakang status sosialnya.

Pejuang Kemerdekaan

Pada era pergerakan nasional, banyak tokoh nasional yang berkunjung ke rumah Habib Ali Kwitang sekadar meminta nasihat, petuah dan doa, salah satunya adalah Bung Karno yang saat itu baru bebas dari tahanan politik. Kehadiran Bung Karno diajak oleh MH. Thamrin untuk menemui Habib Ali al-Habsyi Kwitang dan memperoleh nasihat serta ikut pengajian di Majelis Taklim Kwitang, konon berlangsung hingga 3 bulan lamanya.

Diceritakan (dalam pustakamuhibbin.club), bahwa Bung Karno sehari sebelum proklamasi kemerdekaan selepas shalat subuh, datang dengan menyamar menemui Habib Ali Kwitang guna memohon doa restu bahwa besok tanggal 17 Agustus 1945 akan diadakan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia dan setelah mendapat doa restu, Bung Karno secepatnya kembali ke kediamannya yang tak jauh dari rumah Habib Ali Kwitang.

Dua jam setelah proklamasi kemerdekaan tepatnya setelah shalat Jumat, Habib Ali Kwitang kembali ke atas mimbar mengkhabarkan kemerdekaan Indonesia serta mengajak jamaah untuk memasang bendera Merah Putih. Berita tersebut langsung menyebar ke pelosok Betawi dan sekitarnya dan disambut oleh seluruh masyarakat dengan mengibarkan bendera merah putih di kampungnya masing-masing.

Habib Ali Kwitang selain sebagai ulama, dikenal juga sebagai seorang tokoh politik dan pejuang kemerdekaan, yaitu aktif di Partai Sarikat Indonesia (PSI) pimpinan HOS Tjokroaminoto dan Haji Agus Salim. Keterlibatannya dalam pergerakan anti kolonial dan penjajah, mengantarkannya mencicipi tahanan politik bersama Haji Agus Salim pada zaman pendudukan Jepang. Namun demikian, setelah kemerdekaan Indonesia telah tercapai beliau meninggalkan atribut aktivitas politiknya dan kembali fokus ke jalan dakwah. (Milal, 2016: 337)

NU di Batavia

Kendati tidak memperlihatkan berpihak pada salah satu partai dan tidak pernah mengemukakan pilihannya pada orang lain, tetapi beliau terlihat lebih dekat dengan Nahdlatul Ulama (NU) dan kerap kali menghadiri undangan kegiatan yang diadakan oleh NU.

I7Hal ini menjadi wajar, karena Habib Ali Kwitang dan Guru Marzuqi adalah tokoh penting dibalik berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) di tanah Betawi, karena keduanya adalah sahabat KH. Hasyim Asyari saat nyatri di Makkah al-Mukarramah dan bahkan banyak muridnya yang menjadi tokoh-tokoh NU saat itu semisal KH. Idham Khalid yang menjabat Ketua Umum PBNU.

Habib Ali Assegaf menantu dari Habib Ali Kwitang menceritakan bahwa dulu sewaktu NU berdiri dan akan masuk kota Batavia, Habib Ali meminta kepada salah satu muridnya dan sekaligus sahabatnya yakni Guru Marzuqi untuk pergi ke Tebuireng Jombang untuk melihat langsung apa itu NU dan apa saja tujuannya, segera Guru Marzuqi pergi dan sekembalinya langsung memberitahukan perihal Jamiyah Nahdlatul Ulama yang didirikan oleh KH. Hasyim Asyari kepada Habib Ali.

Setelah mendengar penjelasan tersebut, Habib Ali Kwitang meminta kepada seluruh murid-muridnya untuk bergabung di organisasi NU diantarannya; KH. Muhammad Naim, KH. Abdul Razak Mamun dan tentu yang paling menonjol adalah Guru Marzuqi. Guru Marzuqi mendeklarasikan NU pada tahun 1928 di Batavia dan sekaligus menjabat sebagai Rais Syuriah pertama hingga wafatnya pada tahun 1934.

Persahabatan Habib Ali Kwitang dengan Hadratus Syaikh Hasyim Asyari (Pendiri NU dan Pesantren Tebuireng) sudah terjalin sejak lama, saat keduanya nyantri di Makkah al-Mukarramah dan berguru terutama kepada Syaikh Abu Bakar Syattha al-Bakri al-Dimyathi. Keakraban ini terus berlanjut setelah kembali ke tanah air, jika berada di Jakarta maka selalu bersilaturrahmi ke rumah Habib Ali Kwitang atau mengikuti pengajian minggu pagi di Majelis Taklim Habib Ali Kwitang, pun begitu sebaliknya saat Habib Ali Kwitang berkunjung ke Jawa Timur, menyempatkan untuk mampir ke Tebuireng menemui sahabatnya itu.

Silaturrahim juga dilanjutkan oleh anak dan cucunya, seperti KH. Wahid Hasyim yang sering berkunjung ke Kwitang dengan mengajak anaknya, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang masih kecil saat itu. Bahkan Gus Dur saat kecil sempat “ngalap berkah” dengan membaca dan mengkhatamkan beberapa kitab kecil dihadapan Habib Ali Kwitang dan disaksikan oleh ayahnya, KH. Wahid Hasyim. Maka tak heran ketika Gus Dur menjadi Presiden RI ke-4, masih sering berziarah ke makam Habib Ali Kwitang dan menghadiri pengajian di Majelis Taklim Kwitang.

Dalam perkembangannya (Antoe Dzibril dalam muslimoderat.net), peran Habib Ali Kwitang dalam NU menyedot perhatian para habaib di Jawa untuk ikut bergabung dalam NU. Namun demikian, Habib Ali selalu menolak bila ditawarkan untuk masuk dalam jajaran kepengurusan NU, tetapi beliau akan selalu hadir bila NU membuat acara seperti Rapat Akbar di Gedung Olahraga Lapangan Ikada (Monas) Jakarta. Bahkan di tahun 1960 an, Habib Ali mengajak KH. Ali Mansyur Sidik untuk membacakan Shalawat Badar di majelisnya, dan shalawat badar ini kemudian menjadi identik dengan shalawatnya NU.

Keharuman nama Habib Ali Kwitang menjadi pembicaraan ramai kala itu. Kemasyhurannya dilukiskan dengan indah dalam bait syair para pujangga, diantaranya; Syair yang dilukiskan oleh Habib Muhammad al-Muhdhor, Sayyid Ahmad Assaqaf, Syaikh Fadil Irfan, Shaleh bin Ali al-Hamid, Toha bin Abu Bakar Assaqaf, dan Syaikh Yusuf bin Ismail al-Nabhani yang memasukkan nama sang habib dalam kitabnya yang bernama Jami Karamat al-Auliya juz II.

KH. Wahab Hasbullah dalam kesempatan pidatonya di Majelis Habib Ali Kwitang pada saat itu, menyatakan bahwa Habib Ali Kwitang adalah pintu gerbang kota Jakarta setelah Habib Kramat Luar Batang dan Habib Utsman bin Yahya. Di zaman ini ujarnya, siapa saja harus melewati gerbangnya agar masuknya tidak kesasar (tersesat) dan siapa saja yang sudah masuk dalam pintu gerbangnya insyallah selamat dan berkah, barokah anak keturunan Kanjeng Nabi Muhammad Saw.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here