Pengakuan, ya pengakuan menjadi impian era melenial. Demi sebuah pengakuan, tak jarang seseorang harus lari dari kenyataan dirinya.

Demi sebuah kata sakral “pengakuan”, seseorang rela menyembunyikan identitas dirinya, kemudian mengemasnya dengan baju anomali yang indah. Penyakit ini sudah mulai menjangkiti banyak sisi kehidupan.

Ada pejabat yang biasa hidup glamour dengan segudang fasilitas. Tapi untuk sebuah pengakuan, ia memainkan peran yang kontradiksi dengan kenyataan. Ia bungkus dirinya dengan baju populis, bicara kerakyatan, atribut kedederhanaan, menyuguhkan kepekaan sosial.

Ada sosok yang terbiasa feodal, tapi ia mendesain dirinya dengan karakter terbuka, suka kritikan, terbiasa dengan retorika demokratis. Ini tentu sangat jauh dari kenyataan yang sebenarnya.

Tidak jarang orang yang jauh dari agama, pemahaman yang dangkal, bahkan kadangkala untuk sekedar membaca al-Qur’an saja jauh dari kata layak. Jangankan menguasai makna teks keagamaan, untuk sekedar mengurai kata dasar bahasa Arab (yang dalam dunia pesantren dikenal dengan tashrifan) saja tidak bisa. Hatta pada level tashrif untuk pemula. Tapi untuk lari dari kenyataan dirinya, ia bungkus dengan bahasa-bahasa keagamaan yang membuai. Hijrah, syar’ie, sunnah, imamah-khilafah dan lain-lainnya begitu deras meluncur dari setiap kata yang terlontar.

Itu baru sebagian kecil contoh realitas yang dihadapi era melenial.

Sebenarnya wabah ini cukup membahayakan karena akan membuat masyarakat terkungkung oleh kenyataan-kenyataan doktrinal. Ya, masyarakat akan digiring pada sebuah doktrin, cuci otak, formalisasi. Dan tentu akan membunuh wawasan, mempersempit nalar, dan menjebak pada fanatisme yang hanya berdasar pada penampakan (penampilan) bukan kenyataan (substansial).

Ketika ada orang yang punya kedekatan dengan kelompok tertentu, keyakinan tertentu, atau aktifitas tertentu, ia serang habis-habisan lewat bungkus kepalsuan dan keindahan retorika. Tapi ia menjadi buta ketika kenyataan itu dialami dirinya sendiri. Kadang ia nyaring berteriak :” tokoh agama kok bawa-bawa yang beda keyakinan masuk pesantren!!”. Tapi ketika dirinya yang asyik-masyuk dengan keyakinan lain tersebut, bahkan ia ajak yang berbeda keyakinan mengisi tabligh akbarnya, ia malah tidak merasa berdosa. 

Semestinya bangun ukhuwah basyariyah dan wathoniyah secara kuat. Jangan karena berharap ‘pengakuan’ ia mempolitisirnya. Bahkan kadangkala ilmu utak-atik ayat al-Qur’an dipakai sebagai jurus untuk melumpuhkan orang lain. Ini jelas pelecehan tidak hanya terhadap al-Qur’an tapi juga terhadap DZAT Yang Menurunkan, dan Sosok Sang Penerimanya.

Inilah penyakit MYTHOMANIA, penyakit yang perkenalkan pertama kali oleh seorang psikiater bernama Ferdinand Dupre tahun 1905. Penyakit, dimana seseorang lari dan bersembunyi dari kenyataan dirinya hanya untuk sebuah pengakuan. Apesnya, jika pengakuan itu telah didapat, maka ia akan menjadikannya  alat untuk mencapai ambisinya.

Maka benarlah norma agama kita : IDZA ASBAHTA FALA TANTADZIRIS MASA’ WA IDZA AMSAYTA FALA TANTADZIRIS SHOBAH…

Dalam Norma Sufistik : MAN AROFA NAFSAHU FAQOD AROFA ROBBAHU

Sepertinya urgensi sertifikasi tidak hanya untuk para da’i tapi perlu diperluas bagi para aktifis dan akrobatis-politik yang sering koar-koar di media sosial maupun media massa. Ahhh ini hanya catatan pengantar tidur saja, gak usah serius teuing menanggapinya.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *