Terkadang kita menyepelekan kisah lesan. Padahal kalau dipikir secara mendasar, tidak sedikit kisah tertulis dalam buku yang sumber awalnya juga dari lesan.

Sejarawan NU, Kiai Mun’im DZ pernah menyampaikan ke saya bahwa terkait kisah para kiai dan perjuangannya untuk NKRI, justeru sumber lisan lebih kaya, lebih impresif, bagi peneguhan NKRI.

Sejarawan Jombang, Bapak Dian Sukarno mengatakan, metodologi penulisan sejarah mengacu dua aliran. Pertama, aliran Amerika yang menganut positivisme. Kedua, aliran Britania disebut narativisme. Aliran positivisme harus menyertakan sumber primer, contoh prasasti dan sumber tertulis. Sedangkan narativisme lebih longgar, cerita tutur pun dapat dijadikan rujukan.

Dengan demikian, masalahnya bukan pada sumber lesan atau tertulis, tapi adalah pada bisa dipercaya tidaknya sang nara sumber, dan apakah dia kuat ingatannya. Bila meminjam ilmu Rijal hadis (tsiqat dan dlabitnya perawi). Selain itu, penting mendayagunakan kemampuan nalar dalam menyerap kisah.

Kembali ke judul, kisah lesan ini saya peroleh dari Mbah Abdullah alias Mbah “Gimbal”, murid Mbah Kiai Hilal, Kediri. Kalau lupa kisah Mbah Kiai Hilal sang sufi “nyentrik” silakan baca

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=372326423564788&id=100023623007183.

Kebetulan baru saja saya bertemu dengan individu yang tidak mau dikenal ini, yakni Mbah Abdullah (kalau ada orang yang mengenalkan diri sebagai Mbah Abdullah atau Mbah “Gimbal”, berarti orang lain bukan yang saya kisahkan ini).

Beliau bertutur, semasa remaja sekitar tahun 1970-an pernah mendapatkan kisah bahwa suatu saat, Gajah Mada (meninggal 1364) yang masih muda berkelana dan bertemu dengan putra Ronggolawe (sebagai pengingat, Ranggalawe sendiri meninggal di Kali Tambakberas tahun 1295). Putra Ronggolawe yang pertapa ini memberi nasehat kepada Gajah Mada agar mencari pengerannya (Tuhannya) dengan ditunjukkan agar bertapa di suatu tempat di sebuah hutan.

Lalu Gajah Mada bertapa dan ditemui seseorang. Oleh seseorang yang tidak dijelaskan siapa identitasnya, Gajah Mada diberi pusaka godo (gada).

***

Sepuluh tahun kemudian sekitar tahun 1982-an, Mbah Abdullah nyantri ke Mbah Kiai Hilal. Mbah Kiai Hilal suatu saat berkisah kepada Mbah Abdullah bahwa beliau punya guru, yang gurunya ini punya guru hingga naik ke atas sampai guru yang setingkat usianya dengan Gajah Mada. Dua-duanya (sang guru dan Gajah Mada) sama-sama pertapa dan sama-sama bukan muslim ala kita saat ini.

Sang guru menceritakan bahwa Gajah Mada pernah ditanya, “Dari mana Anda memperoleh pusaka godo itu?” Jawab Gajah Mada, “Saya mendapatkan pusoko itu dari Nabi Kilir.”

Kata Mbah Kiai Hilal kepada Mbah Abdullah, yang dimaksud Nabi Kilir adalah Nabi Khidir. Nabi Khidir mengajari tentang Pengeran siji kepada Gajah Mada (bukan Gaj Ahmada lho).

Terlepas kisah di atas anda terima atau tidak, namun kalau banyak orang percaya dengan individu yang perlu diuji kejujurannya saat di acara kematian dia omong bertemu Nabi, maka saya yakin dan percaya akan kejujuran Mbah Kiai Hilal dan juga kejujuran Mbah Abdullah. Masalah kisah yang diriwayatkan benar atau tidak, ya silakan menyangkal dengan argumen mustahil atau tidak bila Gajah Mada bertemu dengan Nabi Khidir. Nusantara memang banyak kisah mistis dan mungkin juga mitos. Kalau ingin tahu baca semisal W.L. Olthof dalam “Babad Tanah Jawi”.

Lebih dari itu, pelajaran pentingnya menurut Mbah Abdullah bahwa Nabi Khidir dalam mendekati orang Nusantara tidak model frontal seperti kelompok muslim tertentu, tapi lebih elok dan halus. Disuruh mencari Pengeran siji atau Tuhan yang satu di saat waktu itu dikenal banyak Tuhan. Maka tidak heran para wali pun sangat halus dalam mendekati orang Indonesia dengan mendekati budaya dan sedikit menggeser dengan tidak menyinggung, apalagi melukai.

****

Saya baru saja searching internet ada judul jurnal “Serat Suluk babaraning Ngelmi Makrifat Wasiyat Kala Kanjeng Nabi Kilir” http://garuda.ristekbrin.go.id/documents/detail/182825. Saya belum baca apakah yang dimaksud adalah Nabi Khidir atau yang lain.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *