Kamang, negeri penting di wilayah Agam, yang menjadi daerah bersejarah bagi pendidikan Islam dan gerakan keagamaan. Kita mengenal nama-nama beberapa Tuangku yang aktif mengajar di surau-surau, yang namanya diabadikan dalam catatan sejarah itu sendiri. Kita juga mengingat tokoh besar Paderi, Tuanku nan Ranceh, seorang anaksiak yang dapat dikatakan“keras” dalam menegakkan agama. Di sini juga terjadi peristiwa bersejarah, perjuangan kaum agama yang dikenal dengan Perang Kamang 1908. Di sini juga berdiri madrasah yang menjadi tonggak keilmuan Islam diparuh pertama abad 20, yang hingga saat ini masih berdiri kokoh. Oleh sebab itu, apabila kita hendak menceritakan tentang jalannya agama di Minangkabau ini, maka negeri Kamang tentu tidak bisa dilupakan.
Mengenai madrasah, sistem klasikal, yang tetap teguh dengan tradisi keilmuan surau, setidaknya ada dua madrasah yang patut disebut. Patut disebut karena (1) pengaruhnya yang masih kentara, meskipun sudah ada sejak zaman kolonial, dan (2) masih bertahan, mesti zaman berubah musim berganti. Dua madrasah itu ialah Madrasah Tarbiyah Islamiyah Pakan Sinayan dan Madrasah Tarbiyah Islamiyah Tarusan. Dua madrasah kita sebut, tentu ada yang lain, sebab masih mempertahankan keilmuan Islam sesuai dengan tradisi kitab kuning; di tengah perkembangnya model dan sistem pendidikan dewasa ini.
Tokoh ulama dari dua madrasah ini cukup menarik. Pertama, Madrasah Tarbiyah Islamiyah Pakan Sinayan (YATI) dikenal dengan ulamanya alm. Syaikh H. Mansur Dt. Nagari Basa. Seorang sufi Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah, ahli fiqih Syafi’iyyah dan seorang ushuli mumpuni. Mesti seorang sufi yang identik dengan hidup beruzlah, Syaikh Haji Mansur termasuk aktif dalam berbagai bidang dan profesi. Beliau pernah menjadi anggota Sidang Konstituante tahun 1950-an, pengurus inti PERTI, bahkan juga aktif dalam NU di tahun 1950-an tersebut. Murid Syaikh Muhammad Jamil Jaho ini, juga pernah menduduki ketua Presidium IAIN Imam Bonjol Padang, jabatan semacam rektor hari ini. Namanya diabadikan sebagai pernamaan aula di IAIN Imam Bonjol Padang (sekarang: UIN Imam Bonjol). Di samping aktif dalam berbagai profesi, ia tidak mengajar, berbagai kita di pesantren (madrasah yang ia dirikan), terutama sekali dalam Fiqih, Ushul Fiqih dan Mantiq, selain memimpin suluk di surau, di madrasahnya itu.
Madrasah kedua yang kita sebut, ialah MTI Tarusan, dengan ulamanya Buya Arifin Djamil Tuanku Solok. Buya Tuanku Solok, adalah sosok ‘alim, murid dari Syaikh Sulaiman Arrasuli Candung. Dalam catatan yang ada, Buya Tuanku Solok merupakan satu di antara murid angkatan pertama Syaikh Sulaiman Arrasuli Candung itu.
Kedua madrasah ini, berhubungan kuat, bersanad kepada Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti), wadah persatuan madrasah (pesantren) yang teguh dengan i’tikad Ahlissunnah wal Jama’ah (Asy’ariyah dan Maturidiyah), berfiqih secara Mazhab Syafi’i, dan bertasawuf sesuai ajaran Imam Junaid al-Baghdadi dan Imam Ghazali, serta menjalannya amal thariqat mu’tabarah.
********
Siang tadi saya diundang sebagai pemateri pelatihan bagi santri-santri di MTI Tarusan. Materi yang dibahas ialah tentang tauhid/ akidah, mengulang-ulang pelajaran tentang i’tikad yang dibangsakan kepada Imam Asy’ari dan Imam Maturidi, serta menjawab beberapa soal terkait akidah masa kini.
Setiap di sebut daerah Kamang, yang teringat bagi saya ialah Tarusan. Kenapa Tarusan? Karena Tarusan adalah kampung halaman kakek buyut yang wafat puluhan tahun lalu, tahun 1950-an. Setiap memandang barisan bukit serta sawah yang terhampar, dan melewati “telaga ajaib”, Tarusan, timbul haru. Ada dua keharuan saya, (1) ialah soal kakek buyut, dan (2) tentang perjuangan ulama-ulama Perti di daerah ini.
Kakek buyutku, ayah dari kakek, ialah sosok yang tidak pernah bosan saya ceritakan, bahkan dari wirid-wirid pengajian yang saya asuh. Mengapa tidak. Ia adalah sosok anaksiak (santri) yang teguh dan kokoh secara faham agama. Kabar yang saya terima, beliau datang dari Kamang ke kampung halamanku di Payakumbuh (tepatnya Limapuluh Kota) setelah Perang Kamang 1908, sebelumnya menuntut ilmu di Surau Gadang Batuhampar (Kampung Dagang Batuhampar). Niscaya beliau di Batuhampar berguru kepada Syaikh Arsyad Batuhampar (w. 1924), ulama tersohor seantero Minangkabau ahli qiraat sab’ah, kuat mengajarkan Sifat Dua Puluh, dan mursyid Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah (beliau juga merupakan guru dari Syaikh Sulaiman Arrasuli, dalam bidang thariqat Naqsyabandiyah ini). Kakek buyutku datang ke Payakumbuh, sebagai seorang malin yang mengajarkan Kaji Sifat Dua Puluh (akidah Asy’ariyah dan Maturidiyah) dengan langgam lama, didendangkan dalam bahasa Minang. Ulama-ulama di Kamang, banyak menyauk ilmu di Batuhampar, terutama dalam bidang Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah. Syaikh H. Mansur yang kita sebutkan di atas, mendapat ijazah thariqat di Batuhampar. Begitu juga seorang mursyid, yaitu Syaikh Inyiak Cubadak, juga ijazah dari Batuhampar Payakumbuh.
Namanya Thaib. Gelarnya Inyiak Alam. Ia juga terkenal dengan nama “Inyiak Copek”. Sebab dinamakan Inyiak Copek (Copek = cepat, cepat berjalan) karena beliau mempunyai keramat mampu melipat bumi, yang dalam istilah ahli hikmah disebut “Thayyul Ardh”. Sering ia pulang-pergi dari daerah yang jauh sekejap mata. Pernah ia berwudhu’ shalat maghrib di Payakumbuh, dan shalat Maghrib dengan wudhu’ tersebut di Kamang, yang jaraknya puluhan KM.
Beliau pernah datang dalam mimpi sekali saja. Samar-samar sosoknya masih teringat. Beliau memakai peci santri, dan memakai sarung. Begitu pakaiannya, dan itu pula yang saya dengar dari orang tua-tua di kampung.
Beliau mempunyai beberapa orang isteri. Ini disebabkan karena ia masuk kategori anaksiak. Zaman itu, anaksiak jadi rebutan untuk dinikahi. Bukan atas hasrat – nafsu sendiri, namun karena kehendak masyarakat, meminta beliau beristeri dimana-mana tempat. Satu isterinya di Payakumbuh. Satu isterinya di Baso. Dan isteri yang lain di Tarusan. Meski ada beberapa isteri, hubungan kekeluarga antara Payakumbuh dan Tarusan yang masih bertahan hingga kini. Jika akan suka cita, ataupun duka cita, maka anak cucu dari dua daerah ini selalu berkabar; tanda hubungan keluarga tidak putus.
Ingatan saya pada sosok buyut, semakin menguat apabila Kamang sudah dimasuki. Ingatan bukan karena keramat-keramatnya. Apa arti keramat, dan kejadian aneh-aneh itu. Namun yang menjadi ingatan selalu ialah soal teguhnya dalam agama, dan keteguhan dalam agama ini, dalam kaji tentunya, adalah hal yang mahal hari ini. Saya mengetahui beberapa zuriyatnya, di kampung saya, tidak lagi berpegang pada pengajiannya; bahkan “melawan”kajinya. Mereka sudah memakai kaji baru, yang menafikan segala kaji-kaji yang lama itu.
********
Di bukit Kamang itu buyutku di makamkan. Saya belum lagi dapat menjenguk makamnya di bukit itu, karena jalan curam, dan semak belukar. Meski begitu, Surat al-Fatihah dan do’a dilantunkan, sebagai tanda bahwa seorang cicit, berkunjung ke kampung sang buyut.
Beberapa cucu dari Inyiak Alam, yaitu bapak-bapakku di Tarusan, belajar agama bersama Buya Arifin Jamil Tuanku Solok, hingga memperoleh ijazah. Saya mengetahui betul, betapa mereka-mereka begitu teguh dengan agama, dan faham kaji, sebagaimana kakeknya dulu. Rahimahullah….
Ditulis di Mungka, Limapuluh Kota

No responses yet