Jamaah : “Jo kenapa ada beberapa kiai yang tidak suka memajang foto di rumahnya. Bahkan ada yang mengharamkan memasang foto dirinya kepada para santrinya”.

Paijo : “Kang sampeyan pernah nggak lihat gambar nabi?”

Jamaah : “Waduh kang aku sama sekali belum pernah lihat gambar nabi. Walaupun konon ada film yang dibuat orang barat tentang nabi tapi aku tidak benar-benar ingin melihatnya. Sebab kata guru saya gambar nabi bisa menjadi sumber fitnah bagi agama Islam dan ummatnya. Meskipun aku tidak paham pesan guruku itu Jo. Aku ikuti saja Jo.”

Paijo : “Alhamdulillah kang, sampeyan punya guru yang hebat sehingga bisa membuat santrinya nurut tidak melakukan apa yang beliau larang. Benar kata guru sampeyan kang,  bayangkan jika gambar nabi itu diperbolehkan diproduksi secara massal.  Maka akan banyak sekali versi gambarnya dan pasti ummat akan bingung dan bahkan bisa saling berperang karena gambar. Suatu hari saya pernah mengunjungi rumah Imam Khomeini dan disana ada sebuah lukisan yang konon itu adalah wajah nabi (meskipun aku tidak percaya, karena wajah dalam lukisan itu nampak seperti seorang perempuan). Lukisan itu konon adalah sebuah hadiah dari seorang muallaf yang ngaku bermimpi bertemu nabi yang membuatnya mendapat hidayah dan masuk Islam. Ada dua kemungkinan soal lukisan itu. Pertama bisa jadi wajah yang dilukis itu adalah wajah orang yang diimpikan sang muallaf yang mengaku sebagai nabi. Tetapi lukisan itu tetap tidak bisa mewakili wajah nabi. Sebab mimpi yang singkat tidak akan membuat ingat detail wajah yang diimpikan. Apalagi dia belum pernah ketemu sebelumnya. Kedua itu hanya rekayasa agar bisa “menggoda” ummat agar percaya tentang wajah nabi, sehingga akan muncul fitnah dari gambar itu. Alhamdulillah ummat masih sangat cerdas dan tidak percaya begitu saja.”

Jamaah : “Terus kaitan nya dengan foto kiai apa Jo?”

Paijo : “Meskipun ulama berbeda pendapat soal boleh tidaknya memasang foto Kiai. Tetapi  menurut Yuk Tin dan gurunya, lebih baik kita ikut yang melarang (meski tidak mengharamkan). Kalau akang begitu ingin memasang foto guru akang,  taruh saja pada album foto kenangan keluarga. Jangan di pajang di dinding rumah atau kamar. Saya kuatir nanti akan disalahpahami oleh anak-anak kita kang. Sebab foto itu bisa menjadi alat untuk melakukan kedholiman atas nama sebuah ajaran yang sebenarnya jauh kaitannya dengan Islam. Di Iran foto Imam Khomeini banyak dipasang sebagai simbol “Revolusi Islam”.Tetapi tak jarang regim melakukan intimidasi kepada para oposisi yang tidak sejalan dengan doktrin revolusi yang disematkan pada sosok Imam Khomeini yang sangat kharismatik tersebut. Artinya telah terjadi sebuah pemujaan yang berlebihan. Dimana saya yakin hal itu juga tidak dikehendaki oleh sang imam jika beliau masih hidup. Sebab hakekat revolusi yang harusnya membebaskan, malah menjadi alat kekuasaan untuk melakukan kedholiman. Meskipun dengan alasan menjaga stabilitas keamanan negara.”

Jamaah: “Begitu ya Jo, padahal Imam Khomeini adalah sosok yang santun, sederhana, cerdas, tegas, penuh kasih sayang kepada sesama. Tapi kita tetap tidak boleh berlebihan memujanya.”

Paijo : “Konon Imam Khomeini adalah juga seorang habib atau keturunan nabi Muhammad.  Tapi intinya kang, foto itu jangan sampai menjadi sumber fitnah bagi keimanan kita dan juga fitnah sosial dan politik di masyarakat. Sebab yang sering saya jumpai orang hanya memasang foto Kiai hanya sebatas sebagai “jimat”. Bukan sebagai sarana inspirasi untuk ditiru ahlaq luhurnya.”

Jamaah : “Astaghfirullahhaladhimm Jo, alih-alih meniru ahlaq luhur. Aku sendiri pernah  mengikuti orang yang ngaku habib tapi sukanya marah-marah, mengumpat, mencaci dan berkata kotor. Anehnya semua gaya dan penampilannya banyak ditiru oleh sebagain besar pengikutnya, termasuk diriku  sebelum hijrah Jo. Aku selalu membawa poster foto habibana kemana-mana  disaat melakukan sweeping kemaksiatan. Untung bukan foto nabi Muhammad yang saya bawa Jo, bayangkan betapa sedihnya nabi Muhammad jika gambarnya dibawa-bawa untuk melakukan kedholiman kepada yang lemah. Bahkan kepada ummat Islam sendiri yang ingin beliau selamatkan. Kalau begitu akan aku simpan foto para kiai itu dihatiku saja Jo. Biar aku bisa setiap saat memandang kemuliaan ahlaq beliau-beliau itu yang nyambung ke ahlaqnya Rasullullah.”

Paijo : “Alhamdulillah akhirnya akang bisa paham juga. Padahal aku sendiri belum sesadar akang soal ini. #SeriPaijo

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *