Tadi siang saya berdiskusi dengan mahasiswa S3 yang kebetulan juga menjabat sebagai ketua pusat studi gender. Beliaunya sedang mengkaji soal “peran ganda” para perempuan dalam relasi keluarga. Karena saya belum menemukan substansi persoalan yang akan dikaji saya minta diberi contoh tentang ketidakadilan gender dalam relasi kerumahtanggaan. Akhirnya beliau menceritakan kejadian seorang suami yang berasal dari kota yang sedang mencuci baju di rumah istrinya yang berasal dari dari desa. Singkat cerita sang suami disindir sama tetangganya, “Kok laki-laki yang mencuci, kemana istrinya?” Sebaliknya ketika sang istri kebetulan sedang di rumah sang suami di kota, ketika si istri mencuci baju sang suami malah ditegur sama ibu mertuanya, “Anak-anak saya sudah biasa mencuci bajunya sendiri, nggak perlu kamu mencuci baju suamimu.”
Lantas saya bertanya “ketidakadilannya” dimana? Sang ketua gender menjawab ya terletak pada pandangan masyarakat desa yang berpotensi pada proses eksploitasi terhadap perempuan. Mencuci itu kan sesuatu yang harusnya biasa dilakukan baik oleh laki atau perempuan. Kalau lihat respon para lelaki desa dan sang ibu mertua itu kan jadi bertolak belakang. Di desa potensi ketidakadilannya sangat besar dibandingkan di kota. Saya melanjutkan pertanyaan apa konsekwensinya ketidakadilan itu dengan relasi dalam keluarga? Sang ketua menjawab bahwa ketidakadilan itu akan berpotensi merusak keharmonisan hubungan keluarga. Dalam hati saya ingin bertanya, kalau hipotesisnya seperti itu, maka seharusnya tingkat konflik, kekerasan dan perceraian suami istri di desa lebih besar dari pada di kota. Namun faktanya seringkali tidak demikian.” Namun saya tidak jadi mengutarakan pertanyaan itu, tetapi malah bertanya apakah anda sudah berusaha mengungkap bagaimana kalau fenomena itu dicermati dengan pandangan si pelaku (si suami atau si istri? )
Perbincangan kami berlanjut pada taraf yang lebih substansial ketika saya bertanya bagaimana sebuah “tradisi” yang anda asumsikan berpotensi menimbulkan konflik justru memiliki “pendukung” budaya yang banyak. Lantas kenapa pula tradisi yang dalam kacamata anda berkeadilan justru tidak banyak di dukung oleh anggota masyarakat? Saya tidak begitu yakin dengan ungkapan sindiran para lelaki pada si suami dari kota itu benar-benar merepresentasikan budaya mereka. Karena bisa jadi bahwa mereka sebenarnya sedang dalam “tekanan” untuk menyindir diri mereka sendiri yang sedang tak berdaya menghadapi kekuasaan perempuan di ruang domestik.
Teman diskusi itu menimpali “Saya kok malah semakin bingung dan ragu dengan isu riset saya ya pak?” Sayapun menimpali, sebuah riset memang bisa diawali dari sebuah peristiwa atau fenomena, tetapi harus kuat pijakan epistemologinya. Kalau kita ingin melihat sebuah fenomena dari perspektif konstruksi sosial, maka kita harus benar-benar yakin bahwa ada nilai-nilai, pengetahuan, kultur dan perangkat struktur sosialnya yang dengan jelas melandasi fenomena tersebut. Penelusuran terhadap kekuatan pengaruh aspek-aspek di atas itulah yang akan bisa membuktikan kekuatan analisis kita. Karena bisa jadi para lelaki yang menyindir si suami orang kota itu sendiri yang hidup dalam “hegemoni” kaum perempuan. Coba kita perhatikan hampir semua pengamat pesantren percaya bahwa kultur pesantren sangat patrimonial. Padahal sesungguhnya pesantren sangat matrilinal,

No responses yet