Zulfaisal Putera melihat Abah Guru Sakumpul sebagai ulama yang kemandirian politik, tidak bisa terbelenggu oleh perkubuan politik, beliau mampu menjaga jarak yang sama dengan berbagai partai politik. Dalam kata lain, beliau salah satu ulama NU yang sangat teguh memegang garis khittah NU ’26 tidak berpolitik praktis, apalagi aktif di sebuah partai. Namun bukan berarti beliau antipati terhadap politik melainka memainkan high politic (politik tinggi) atau disebut juga sebagai politik tanpa panggung yang basis dan orientasinya pada penyadaraan dan pemberdayaan rakyat (umat).
Sedangkan Humaidy, menganggap Abah Guru Sakumpul tidak hanya memiliki kemandirian politik, tapi juga kemandirian ekonomi. Beliau membuka pengajian di Kampung Kraton dan Majelis di Sakumpul setelah merasa mandiri secara ekonomi sehingga beliau di dalam hati tak terbersit sedikitpun untuk mendapat imbalan jasa dari jama’ah berupa salam tempel atau mengedarkan celengan bahkan justru beliau menjamu jama’ah sebagai tamu beliau dengan makan-minum yang diambil dari kocek beliau dan seringkali beliau bersadaqah kepada jama’ah beliau yang dalam kasyf beliau sedang kesulitan dan kesusahan. Tentu juga, pengajian itu beliau buka atas izin guru-gurunya terutama dari izin Nabi Muhammad Saw. Demikian juga, beliau menganjurkan kepada murid-murid beliau, kalau ingin membuka pengajian, selain izin dari guru-guru dan Rasulullah Saw, sebaiknya sugih terlebih dahulu hingga ketika mengajarkan agama tidak mengharap imbalan duniawi yang merusak niat hati.
Dengan beliau punya independensi dan jiwa merdeka yang berderajat tinggi, secara otomatis mempunyai imajinasi yang kaya dan kreatifitas yang hampir tak terbatas. Sangat banyak kreatifitas beliau mengalir seperti air bah yang kesemuanya dalam rangka menghidupkan Rasa, Kalam, Amal, Ilmu keagamaan. Di sini hanya dua hal yang kami ketengahkan suatu kreatifitas beliau yang akan menjadi kenangan abadi dan terus diingat sepanjang zaman.
Pertama, ceritera Humaidy lagi, saat kuliah S2 di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Salah satu dosen di kelasnya bernama Prof. Dr. H. Agil Munawwar M.A. (Menag zaman Presiden Megawati Soekarno Puteri) yang sekitar tahun 1999 menjabat sebagai Sekretaris Poros Langit dari ulama-ulama khawas NU yang mempunyai tingkat spiritual tinggi sekaligus sebagai pelindung spiritual Gus Dur. Mereka itu di antaranya adalah KH. Abdullah Faqih dari PP. Langitan, Tuban (Jatim), KH. Abdullah Abbas dari PP. Buntet, Cirebon (Jabar), KH. Ilyas Ruhiyat dari PP. Cipasung, Tasikmalaya (Jabar), Mbah Watucongol, Muntilan, Magelang (Jateng), Mu’allim H. Muhammad Hamdan Chalid dari PP. Rakha, Amuntai (Kal-Sel), Tuan Guru H. Turmudzi, Baghu, Lombok (NTB) dan Anre Agutta H. Sanusi Baco (Sul-Sel).

No responses yet