Di Indonesia, kata “guru”, telah menjadi bahasa nasional, kata yang berasal dari Sansekerta India yang sudah mengakar lama dalam budaya nusantara. 

Di India, kata guru memiliki makna dasar: gu artinya kegelapan atau kebodohan, dan ru, artinya penolak atau penyingkir. Guru berarti penyingkir kegelapan dan kebodohan, seperti disebut dalam kitab Upanishads. 

Kebodohan itu bukan hanya kebodohan pengetahuan tapi juga kebodohan spiritual. Guru menjadi semacam orang tua bagi akal dan jiwa manusia. Guru memberikan jalan keluar dari kebodohan intelektual, moral dan spiritual.

Menariknya, kata “Murid”, yang berasal dari bahasa Arab “yang memiliki keinginan”, dipakai untuk setiap orang yang belajar dari guru itu. Tidak ada guru tanpa murid dan tidak ada murid tanpa guru. 

Dalam agama Hindu, Buddha, Jain, Sikh, makna guru berbeda-beda fungsi dan pengaruhnya. Dalam Hindu, guru menempati posisi penting yang mengajarkan jalan moral dan spiritual pembebasan (moksha) dari siklus hidup mati (samsara). Bagi umat Buddha, guru membantu jalan keseimbangan menuju pencerahan akal budi. Bagi Jains, guru menapak jalan asketik meninggalkan materialisme. Bagi Sikhs, guru berwujud dalam Tuhan Akal Purakh, guru manusia, kitab suci Guru Grant Shahib dan umat Sikh. 

Yang menarik, di Indonesia, akibat dikotomi ilmu sekuler-agama, kata “guru” lebih dikaitkan dengan bidang-bidang umum, dan kata lain seperti ustadz, murabbi, dan kemudian kiyai (berasal dr Jawa kuno), dikaitkan dengan bidang agama dan spiritual. Sebagai gabungan, kata “guru agama” pun dipakai untuk ustadz yang mengajar di sekolah, sedangkan ustadz mengajar di luar sekolah. (Kata ustadz di Arab digunakan juga utk dosen, guru besar, selain guru agama di sekolah).

Di Barat atau dalam bahasa Inggris, kata guru dihubungkan dengan “ spiritual teacher” dan sering berkonotasi negatif, yang dikaitkan dengan dunia non-material dan dunia non-ilmiah. Guru juga kadang dikaitkan dengan sikap otoriter, mengajarkan atau mengindoktrinasi hal-hal supra-alami dan bahkan anti-ilmiah. Di sisi lain, ada budaya populer guru sebagai guru spiritual yang menawarkan jalan baru atau alternatif bagi materialisme sebagian masyarakat barat. Karena itu buku2 self-help, petunjuk, gerakan-gerakan agama-agama baru, cukup populer di barat. 

Singkatnya, meskipun setiap guru awalnya murid dan meskipun ia tidak berhenti belajar, guru mengajar dan memberi jalan. Semua manusia yang lain belajar dan diberi jalan. Jalan-jalan itu banyak, beragam dan berliku-liku. Saking berlikunya, guru, atau kata apapun yg digunakan, selalu mendapat tempat khusus di masyarakat manapun. 

Meskipun sering tanpa tanda jasa, tanpa imbalan yang layak, ratusan ribu mungkin jutaan guru di Indonesia, belajar dan mengajar tanpa pamrih. 

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *