Saya pun merasakan sungguh. (Tapi) Sejak terkenal alim itu akhirnya saya manfaatkan benar-benar. Mumpung terkenal alim.  Bukan sombong, tapi maslahatnya memang begini:

Saya sebagai orang yang hidup di masyarakat, misalnya bapak saya pernah melarat, mbah saya pernah melarat, misalnya pernah merasakan rasanya diejek orang, disepelekan orang. Jika seorang ulama terjebak masalah sosial, dia paling tidak melahirkan dendam, sementara dendam bagi seorang ulama juga haram, juga tidak menyelesaikan masalah. 

Saya benar-benar tahu rasanya, memang sungguh perih sekali. Tahu rasanya bapak diejek, mbah diejek, perih sungguh. Seumpama saya menuruti duniawi, ya dendam beneran pada yang menghina. Tapi saya kan sudah terkenal alim, jadi orang sowan ya hanya untuk bertanya hukum, bahkan yang saya dendami goblok2 sekarang ngajinya juga sama saya. Ya nggak pernah  bahas apa2. Ya menahan diri, awal-awalnya saya ya menahan diri, lama-kelamaan jadi orang baik akhirnya ya biasa saja. ?

Biar tahu kalian. Berat lho ulama itu, Dun. Manusia kok ketika diumpat tidak boleh membalas, jika diejek melarat juga nggak boleh membalas, jika didzalimi disuruh mendoakan yang mendzalimi supaya bertobat, apa tidak perih rasanya?  

Jadi banyak kakeknya orang yang dulu musuh mbah saya, bapak orang yang dulu musuh bapak saya, secara sosial masyarakat. Andaikan saya ungkit-ungkit pasti timbul dendam. 

Orang hidup kan ada peta sejarahnya: orang yang menjadi musuh guru saya, seakan-akan juga musuh saya, yang menjadi musuh bapak saya, seakan-akan musuh saya. Begitu juga organisasi, seakan-akan yang tidak qunut itu melawan NU, kalau qunut melawan Muhammadiyah. Padahal tidak ada permusuhan, tahu-tahu seperti itu.

Itu berat … tapi (alim itu) bisa membunuh dendam di masa lalu.

Saya itu orang kecil, tapi punya nasib misalnya kakak saya pernah jadi wakil bupati, guru saya termasuk politikus, itu sudah repot, menghadapi rival-rival politikus, seumpama saya turuti. Tapi barokahnya alim tidak bicara masalah sosial politik, tiap diajak bicara diam. Ada tamu: “Gus, menurut njenengan Rembang bagaimana?”

Emang ada apa? Aku orang alim. Tanya ilmu kujawab. Orang alim kok diajak membahas politik. 

Akhirnya sekarang sudah beres semua. Karena itu saya minta yang merasa alim, bicara ilmu saja, jangan membahas yang lainnya.

Jadi kestabilan sebuah negara itu sebetulnya tidak hanya jasa militer yang menjaga kestabilan, tapi juga jasa ulama, yang bersedia mendedikasikan dirinya hanya untuk agama.

… Dan itu bisa tuntas. Konflik yang begitu ekstrem, karena trauma abahnya Sayyid Husain dipenggal, dicincang, dibantai oleh siapa? Mbahnya matinya juga dibunuh, yaitu Sayyidina Ali … Itu bisa reda karena Sayyid Ali Zainal Abidin tidak pernah berbicara sosial politik.

Jadi terkenal alim itu ada barokahnya: kalau itu memberi kontribusi pada maslahatul ummat. Jika sampeyan yang sudah alim lalu mengungkit-ungkit orang yang dulu yang melukai ayah sampeyan, mbah sampeyan, (yang artinya juga melukai sampeyan), itu akan menjadi prahara.

Coba siapa kita, kalau tidak jadi tragedi? Misalnya keluarga Sukarno dilukai Soeharto, keluarga Gus Dur dilukai Muhaimin cs sampai mati ditarik-tarik, dipecat dari PKB, orang NU sakit hati semua. Seumpama tradisi dendam itu dihidupkan, kayak apa, bangsa ini jadi seperti apa?

Coba jika wacananya lalu demokratisasi, pertumbuhan ekonomi. Ulamanya mengurus kealiman. Kan lumayan.

Saya itu merasakan benar. Saya pun sebagai manusia juga kadang kesal pada orang yang melukai bapak saya, mbah saya, menghina beliau.. Dan orang2 itu pula yang misalnya sekarang sudah melarat lalu hormat pada saya, kadang saya juga kesal. 

Tapi itu harus dihilangkan, perasaan2 seperti itu harus dihilangkan. Melewati haddun nafsi, hak-hak dendam, hak-haknya hati yang buruk sudah benar2 dibuang. Kalau tidak, nanti jadi prahara. Islam kembali jadi kalimatul wahidah itu barokahnya Sayyid Ali Zainal Abidin, yang benar2 melupakan masa lalunya.

***

Mengenang Sayyid Ali Zainal Abidin

29 Agustus 2010

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *