Minat bacanya yang luar biasa sejak usia belia hingga dewasa, dengan genre bacaan yang beragam mulai dari sastra, agama, ideologi, sosial-budaya hingga filsafat, telah membentuk pribadi Gus Dur yang matang lebih cepat dari usianya. 

Pada saat perang ideologi berkecamuk, juga lahirnya perang dingin antar negara adidaya akhir tahun 50an dan awal 60an, Gus Dur sudah larut di dlmnya, mulai merenung dan berpikir perlunya gagasan tentang ideologi yang bisa mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi dunia, atau setidaknya menjadi jalan tengah bagi benturan berbagai ideologi.

Kondisi demikian membawa Gus Dur melirik Islam dan berharap bisa jadi solusi bagi problem ketidakadilan sosial, kemiskinan dan ketertindasan yang dialami banyak rakyat di berbagai negara. 

Ketertarikannya pada IM dengan para pemikir yang ada di dalamnya, seperti Sayid Qutub, Hasan AlBanna hingga Said Ramadhan, membuatnya belajar serius tentang gerakan yang lahir di Mesir tersebut. Bagi kalangan Gusdurian tentu saja fase ini cukup mengejutkan. Sesuatu yang mungkin tidak terbayangkan seorang Gus Dur bisa tertarik pada IM. Bahkan Gus Dur, atas dorongan pamannya, Kiai Aziz Bisri, pernah hendak mendirikan IM di Jombang tahun 60an. 

Saat Gus Dur memilih melanjutkan studi ke Mesir, tahun 1963, tempat di mana IM dilahirkan, bisa jadi kesempatan emas ia mematangkan gagasan sekaligus mendalami ideologi islamisme yang diusung IM. Tapi justru pada saat itulah Gus Dur mulai menyadari, bahwa IM tak lebih sekadar pemberhentian sejenak sebelum ia melanjutkan pengembaraan atas gagasan dan pikiran-pikirannya. Realitas yang terjadi di depan mata, melihat benturan yang keras antara IM dan rezim penguasa, telah menjadi bagian dari proses intelektualnya dan menyadarkannya bahwa IM bukanlah ideologi yang sedang ia cari. Kekagumannya pada IM akhirnya perlahan ditinggalkan dan menghilang dengan sendirinya.

Apa kritik Gus Dur pada gerakan ini?

Menurutnya, IM terlalu memonopoli kebenaran dan keinginannya agar ajaran Islam harus diwujudkan secara formal dalam tatanan sosial yang heterogen. Sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani Gus Dur. Meski lahir dan besar dalam tradisi pesantren, Gus Dur juga meyakini adanya kebenaran lain di luar Islam. Kebenaran yang lahir dari agama2 maupun peradaban manusia yang mewujud dalam karya2 sastra dan kebudayaan lainnya. Dengan pandangan ideologinya yang absolut, formalistik dan eksklusif dalam misi perjuangannya, Gus Dur tidak yakin IM mampu menjadi jawaban atas persoalan yang di hadapi dunia saat itu. Alih-alih menjadi solusi, gerakan ini malah melahirkan banyak konfontrasi dan kekerasaan yang tak berkesudahan.

Bila melihat reputasi Gus Dur di kemudian hari, episode ketertarikannya pada IM menjadi sisi menarik dalam perjalanan karirnya sebagai seorang ideolog. Satu hal yang menarik dari Gus Dur, meski mengkritik gagasan dan pemikiran IM, ia tetap menaruh rasa hormat pada para penggagas dan pentolan IM. Hal ini dibuktikan saat ia berada di antara para mahasiswa ikut melangitkan doa di depan pintu penjara saat Sayid Qutub dieksekusi gantung oleh Rezim Nasser. Apa yang dilakukannya bukanlah bentuk dukungan atas IM, tapi bentuk penghormatannya atas keberanian moral yang dilakukan Sayid Qutub dan sikap muaknya atas Rezim penguasa yang brutal dan menindas kepada kelompok yang berseberangan dengan pemerintah.

Untuk Gus Dur, lahul Fatihah….

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *