Categories:

Oleh : Dinda Lestar

Indonesia memiliki hampir puluhan ribu manuskrip yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Manuskrip ini merupakan naskah tulisan tangan yang dibuat oleh nenek moyang kita di masa lampau. Karena usianya yang mencapai ratusan tahun, maka manuskrip-manuskrip ini perlu dijaga dan dipelihara agar tidak rusak.

Pemerintah Indonesia telah mengupayakan digitalisasi manuskrip ini untuk memelihara dan menjaga kondisi manuskrip. Upaya pemerintah ini tentunya atas dukungan peran pegiat budaya yang telah melakukan digitalisasi manuskrip dengan memanfaatkan teknologi yang semakin canggih.

Digitalisasi manuskrip ini dilakukan agar masyarakat luas dapat mengaksesnya serta mempelajarinya dengan mudah, sehingga manuskrip ini bisa dijadikan suatu perantara ilmu masa silam dengan masa kini.

Beberapa situs web yang telah melakukan digitalisasi manuskrip di antaranya British Library, Perpustakaan Nasional, DREAMSEA, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Salah satu manuskrip yang telah didigitalkan yaitu manuskrip Syair Makrifat dan Syair Dagang. Syair ini tersimpan di British Library dan dapat ditelusuri melalui http://www.bl.uk/manuscripts/Viewer.aspx?ref=or_6899_fs001r,  dengan tebal halaman 69. 

Menurut metadata British Library, naskah ini ditulis pada tahun 1800/1899 atau sekitar abad ke-19 dengan bahasa Melayu dan aksara Arab (Jawi). Naskah ini terbagi menjadi dua bagian teks yaitu Syair Makrifat dan Syair Dagang. Untuk itu tulisan ini berisi pembahasan mengenai kandungan Syair Makrifat dalam naskah Syair Makrifat dan Syair Dagang.

Kandungan Syair Makrifat Halaman f.19v-f.20r

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI V) makrifat adalah tingkat penyerahan diri kepada Tuhan, yang naik setingkat demi setingkat sehingga sampai ke tingkat keyakinan yang kuat.

Dikutip dari laman Republika.co.id bahwa Ghazali, dalam kitabnya Ihya Ulumiddin menyebut dua tahap besar yang harus dilakukan untuk meniti ke jalan makrifat. Pertama, tahapan menyucikan hati. Kedua, tahapan menenggelamkan diri ke dalam pendekatan pada Allah Sang Pencipta.

Menyucikan hati perlu ditempuh dengan bertaubat kepada Allah SWT, sebab dengan bertaubatlah manusia akan membebaskan hati dari segala dosa. Hati yang sudah terbebas dari dosa akan menuntun kita ke jalan makrifat.  

Sumber: digital manuskrip British Library

  • Transliterasi teks sebelah kanan

Inilah simpulan iman kita 

Mengetahui wajib semata-mata 

Mengetahui keadan Tuhan kita 

Inilah makrifat yang empat nyata

Telah diketahui sekaliannya itu 

Dua puluh sifat menjadi satu 

Tatkala syahadat disanalah tentu 

Inilah kalimah makna dengan itu

Inilah wajib sekalian kita

Asyhad itu wajib dikata

Lafaz dan makna hendaklah serta

Nafyi dan itsbāt di sanalah nyata

Tatkala diketahui sifat dua puluh

Bercahayalah iman seperti suluh

Katalah syahadat bersungguh-sungguh 

Inilah kata yang amat takuh

Asyhadu itu kalimah makrifat

Di sanalah terhimpun segala pendapat 

Maknanya mengetahui zat dan sifat 

Keadaan Allah tiada bertempat

Sekurang-kurang makrifat kita

Dalilnya jamal tanda yang nyata //

  • Tranliterasi teks sebelah kiri

Jikalau tiada dalilnya serta 

Menjadi taqlid semata-mata

Apabila taqlid pada ilmu ini 

Tiada makrifat kita di sini 

Melainkan tanda dalil burhān 

Terkenallah wujud hak subchān 

Pertama tanda dalil naqli 

Kedua tanda dalil aqali 

nadzarīlah di sana ahlul-ʻaqli 

Makrifat kita supaya kekal

Mengambil tanda kepada alam 

Nyatalah beroleh siang dan malam 

Menunjukkan ada khāliqul-ʻalam 

Pusatlah makrifat Islam

Apabila dipandang dengan mata

Bumi dan langit sekalian rata

Dengan hati dipikirkan serta 

Menunjukkan Ia perbuatan semata

Ditilik alam diamat-amati

Dipikirkan dengan mata hati

Nyatalah baharu olehnya pasti

Wujud dan adam berganti-ganti //

Penjelasan dari terjemahan teks Syair Makrifat halaman f.19v-f.20r yaitu terdapat dua puluh sifat Allah yang di dalamnya terbagi menjadi empat bagian, hal itu perlu diketahui semuanya tidak boleh setengah-setengah karena itulah kita mengenal Tuhan kita Allah dan itulah makrifat yang nyata. 

Apabila diketahui dua puluh sifat Allah itu, maka bercahayalah iman kita.Telah diketahui semuanya bahwa dua puluh sifat Allah itu dikemas menjadi satu. 

Dalam teks tersebut terdapat kutipan “Asyhad itu wajib dikata” “Lafaz dan makna hendaklah serta” asyhad disini berarti syahadat.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan bahwa syahadat adalah persaksian dan pengakuan (ikrar) yang benar, diikrarkan dengan lisan dan dibenarkan dengan hati bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah. Melalui teks tersebut menjelaskan bahwa syahadat selain dilafalkan juga perlu diyakini dan dipahami sepenuh hati maknanya sesuai nafi dan isbat.

Teks tersebut juga menjelaskan kesungguhan dalam mengucapkan kalimat syahadat, karena itu merupakan kalimat makrifat yang di dalamnya terkumpul pendapat mengenai makna dan sifat Allah SWT. Sekurang-kurangnya makrifat kita dalilnya masih terlihat nyata, sebab jika tidak ada dalilnya maka akan menjadi taklid. 

Dikutip dari lama Fatwa Tarjih bahwa para ulama Ushul mendefinisikan taqlid ialah menerima perkataan (pendapat) orang, padahal engkau tidak mengetahui darimana sumber atau dasar perkataan (pendapat) itu. Itu artinya jika dalil menjadi taklid maka dalil tersebut tidak ada makrifatnya.

Agar makrifat kita kekal maka perlu diperkuat dengan dalil naqli dan aqli. Dalil naqli merupakan dalil yang bersumber dari Al-Quran dan Hadis, sedangkan dalil aqli adalah dalil yang bersumber dari ilmu pengetahuan lain. 

Hal ini berarti menjelaskan apabila ingin makrifat kekal maka, langkah pertama yaitu memperdalam ilmu agama melalui Al-Quran atau Hadis dan untuk memperkuat hal itu langkah kedua yaitu mencari tanda dalam dalil aqli.

Apabila dipandang dengan mata, bumi dan langit ini sepertinya sama dan apabila dipikirkan dengan hati hal itu menunjukkan perbuatan kita. Melihat alam dan dipikirkan dengan mata hati bahwa wujud dan adam itu tiada berganti-ganti. 

Artinya yang dikutip melalui e-journal IAIN Langsa Aceh atas penelitian Ismail Fahmi Arrauf Nasution, bahwa wujud secara etimologis bermakna “ditemukan”. Sementara adam bermakna ketiadaan, bila wujud seperti cahaya, maka ketiadaan seperti kegelapan, keduanya tidak bisa hadir bersama.

Itulah penjelasan mengenai makrifat yang terkandung dalam naskah Syair Makrift dan Syair Dagang. Khususnya pada halaman f.19v-f.20r pada situs web.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *