Dawuh Imam Ghozali, untuk ngerti hakikat kematian kita kudu ngerti hakikat kehidupan. Untuk ngerti hakikat kehidupan, kita harus ngerti hakikat ruh.

Ruh itu ada 2, ruh ruhaniyah dan ruh jasmaniyah. Ruh ruhaniyah ini terbagi lagi jadi 2, ruh ruhaniyah itu sendiri dan ruh sulthoniyah yang disebut ainul bashor.

Ruh ruhaniyah ini seperti seperangkat lensa teropong atau teleskop. Sedangkan ruh sulthoniyah ini seperti titik fokus lensa teropong itu. Ruh ini diam di tempatnya. Ruh inilah hakikat atau inti diri kita. Ruh adalah unsur halus yang menjadi penghubung kita dengan Gusti Allah. Ruh inilah yang menjadikan seseorang hidup atau mati.

Ruh inilah yg dimaksud firman Gusti Allah dalam Al Isro’ 85

قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي

“Katakanlah ruh itu urusan Tuhanku”

Dan firman Gusti Allah

وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي

“dan Aku telah meniup kan kedalamnya ruh-Ku”

Berbeda dengan jiwa atau ruh jasmani yang mengatur gerakan jasmaniah. Ruh ini selalu bergerak kesana kemari. Ruh jasmaniyah ini berisi segala nafsu yang berpotensi merusak. Jika kehilangan ruh jasmaniyah, orang akan tertidur.

Saya terinspirasi film Greyhound yang dibintangi Tom Hanks. Kalo boleh dibilang, tubuh kita ini diibaratkan sebuah kapal perang, ruh ruhaniyah dan jasmaniyah ini ada di ruang utama. Kapten kapal sebagai pemegang kendali kordinasi sebuah kapal, selalu diam di tempatnya mengamati apa yang sedang dihadapi kapal dengan teropongnya. Sedangkan bawahannya kapten ini sebagai ruh jasmaniyah yang bergerak kesana kemari, menggerakkan kemudi kapal hingga menggerakkan meriam mau diarahkan ke mana.

Kalo antara kapten dan bawahannya ini ada kordinasi yang bagus, maka kapal perang itu selamat dalam pertempuran. Kalo gak ada kordinasi yang baik, maka kapal perang gak bakal selamat. Semua tanggung jawab keselamatan sebuah kapal ini tergantung kaptennya. Sehingga inti sebuah kapal ini adalah kaptennya.

Begitu juga tubuh kita, kalo antara ruh ruhaniyah dan ruh jasmaniyah ini sinkron, maka kita selamat. Sedangkan kalo kedua ruh ini gak terhubung atau kordinasinya ruwet, apapun yang kita lakukan tidak akan benar.

Seberapa jernih dan jauh ruhaniyah kita bisa memandang pantulan sinyal-sinyal robbaniyah yang dikirim oleh Gusti Allah dan seberapa wibawanya ruhaniyah itu bisa menguasai ruh jasmaniyah, menentukan keselamatan bahtera tubuh kita. Sehingga nanti yang dimintai tanggung jawab keselamatan dunia akhirat kita ini adalah ruh ruhaniyah ini. Ruh ruhaniyah inilah yang terus hidup kekal abadi hingga di akhirat kelak diadili di pengadilan akhirat dan dimasukkan surga atau neraka. Inilah hakikat kita yang sebenarnya.

Maka setelah mengetahui hal ini, tujuan kehidupan kita jelas, yaitu menguasai ruh jasmaniyah kita untuk bisa dikendalikan menuju sinyal petunjuk Gusti Allah yang telah dikirim oleh-Nya. Seberapa jelas kita menangkap sinyal tersebut, tergantung bagaimana kita memelihara teropong ruh ruhaniyah itu terhindar dari kerak yang menghalangi pandangan.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *