Apa yang membuat kita bisa hidup ? Pertanyaan yang sering melahirkan banyak sekali jawaban. Ada yang menjawab Tuhan, ada yang menjawab ruh, ada yang menjawab kehidupan itu sendiri, ada yang menjawab dunia inilah yang membuat kita hidup, bahkan ada yang menjawab manusia itu sendiri yang membuat dirinya hidup. Jika merujuk pada makna  relativitas, semua  jawaban di atas adalah benar dengan konteksnya masing-masing. Sebab kebermaknaan adalah soal diterima tidaknya sebuah peran oleh diri kita, orang lain atau bahkan sesuatu yang lebih besar lagi seperti Tuhan. 

Apa yang membuatku hidup adalah takdir. Aku memahami hidup sebagai takdir dari zat yang serba Maha,  maka aku tidak peduli dengan peran yang aku jalani. Karena aku tidak memiliki peluang untuk memilih pilihanku sendiri. Sebagaimana aku tidak bisa memilih untuk dilahirkan dari seorang penguasa, pengusaha ataukah orang biasa. Aku hanya akan menjalani sebagai bentuk kepatuhan seorang hamba pada penentu takdir. Itupun masih dengan takdir yang ditakarkan pada jiwa,  hati, akal, tubuh dan kesempatan yang ditetapkan untukku. Sedangkan hidupmu aku tidak berani menilai karena itu menjadi hakmu untuk mendefinisikan. Aku hanya bisa melihat dan menilai dari takdir yang melekat pada diriku. Itupun aku hanya ingin menyimpannya untukku sendiri. Kalaupun kamu meminta aku belum tentu mau mengungkapkan. Karena aku benar-benar tidak tahu tentang takdirmu. 

Bagaimana dengan takdir kita? Kita sama-sama ditakdirkan jadi manusia. Ada takaran yang berbeda-beda, lihat mereka ada yang kaya, berkuasa, pinter seperti nabi Sulaiman. Ada yang pintar, sabar, dan begitu baik hati, tapi hidupnya seolah dalam kegetiran yang tiada henti, seperti nabi Isa alaihi salam. Ada yang ditakdirkan seperti nabi Musa yang cerdas dan penuh percaya diri di hadapan Allah, tapi begitu tak berdaya di hadapan Khidir.  Begitulah takdir atau takaran yang sudah ditetapkan kepada kita. Semua serba berbeda agar kita bisa saling membantu dan menghormati satu sama lainnya. Bukan malah bertengkar dan merasa menjadi lebih terhormat, lebih berkuasa, lebih egois, dan ataupun merasa lebih baik dari yang lain. Meskipun kita tahu, mereka yang seperti itu sudah dalam takdir Nya pula. Makanya kita tak perlu terlalu memikirkan dan memasukkan dalam perasaan dan pikiran kita. Karena memang itulah peran yang harus mereka jalankan. Kita sendiripun sedang menjalankan peran yang mungkin tidak disukai oleh orang lain. Kita harus menerima dengan penuh keridhoan seorang hamba. Bagiku, bagimu dan bagi kita, ikhtiar terbaik adalah memaksimalkan takaran potensi yang diberikan kepada kita dan menerima apapun konsekuensinya setelah itu. Aku, kamu dan kita  adalah hamba yang setiap saat harus sadar akan ke Mahakuasaan  Allah atas semua yang ditakdirkan pada kita dan semesta alam ini. #SeriPaijo

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *