Tuhan menorehkan banyak tanda pada kepergian Mas Prie GS pada Jumat, 12 Februari 2021, pagi. Ia seperti menunggu untuk setidaknya empat peristiwa besar berlalu lebih dulu baru setelah itu ia pergi. 

Empat peristiwa itu berurutan sebagai berikut: Ia belum lama merayakan pernikahan untuk puteri sulungnya Suha dengan sangat sederhana bahkan tak mengundang teman-teman dekatnya, karena pandemi. Awal bulan ini, tepatnya pada 3 Februari, ia berulangtahun ke-56 dan dirayakan oleh sahabat-sahabatnya dengan mengirim sekuntum doa dan emoticon kue tart di halaman medsosnya. Dua peristiwa besar lain seolah memintanya bertahan: ulang tahun Harian Suara Merdeka ke-71 pada 11 Februari 2021, lembaga yang membesarkan namanya sebagai budayawan, serta tahun baru Imlek yang diguyur hujan semalaman sebelum paginya ia terkapar oleh serangan jantung dan pergi selamanya setelah itu.

Mungkin tujuh hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari, bahkan bertahun-tahun setelah ini, ia akan dikenang dengan mudah melalui empat peristiwa itu. Tetapi, satu yang paling mudah untuk mengenangnya, namun sekaligus berat untuk dijalani adalah meneruskan kebaikan-kebaikannya. Ia satu dari sedikit budayawan yang memiliki wawasan luas, pandai menulis dan menggambar, sekaligus pintar berbagi kisah. Ia membaginya dengan mencontohkan segala kekurangan kita sebagai manusia sebagai kebodohannya. Orang yang mendengar kisahnya bahkan merasa tidak sedang digurui dan secara sadar mengakui semua literatur kebodohan itu milik bersama. Pengakuan kekurangan inilah kelebihannya.

Saya pernah berbalas tulisan dengannya dan dengan nakal saya membandingkan gayanya selama ini dengan sorang komedian difabel Aditya Dani. Saya sesungguhnya sedang merentangkan jurus agar dia mau mengeksplor strateginya yang sering memperolok diri sendiri. Begini tulisnya:

“… ruang paling merdeka yang bisa saya puji, saya olok-olok, saya sumpahi, adalah diri saya sendiri. Apa bedanya dengan mengolok-olok pihak lain? Hampir tak ada. Karena di dalam orang lain itu ada saya di dalamnya. Di dalam saya ada pula rasa orang lain. Saya, orang dengan kemampuan biasa-biasa saja pun sering tergoda menjadi angkuh. Maka, betapa besar godaan para pribadi yang dianugerahi kemampuan luar biasa. Kalau kita adalah palu, maka seluruh dunia akan terlihat sebagai paku, (demikian) nasihat seorang filsuf. Kini, dari sudut yang berbeda, betapa menakjubkan peran paku itu. Dipukul hanya untuk melesak. Lalu di kedalaman yang sunyi itu ia menguatkan banyak kepentingan tanpa ia sendiri dipentingkan. Dan ia terus memilih diam. Diam itu bukan ketidakberdayaan. Itu keputusan.”

Penjelasan terakhir itu ketika saya baca lagi seperti memberi isyarat. Sampai ia diam dan tidak pernah bercerita apalagi mengeluh tentang sakitnya, jelas merupakan keputusan yang sunyi. Keputusan untuk tidak mau merepotkan orang lain secara pribadi, tetapi secara sosial akan “merepotkan” banyak pihak, karena oleh diamnya ketahanan tubuhnya terbanting, meski semua tahu ketahanan jiwanya yang sangat kuat. Saking kuatnya tak seorang pun sahabatnya tahu sakit yang dideritanya selama ini. Kerepotan itu akan terasa setelah kepergian ini karena kehadirannya selalu dirindukan banyak pihak. Mungkin tidak dalam waktu dekat perannya dapat digantikan atau jangan-jangan tak tergantikan oleh siapapun.

Kami berupaya menghibur kesedihan ini dengan menganggap bahwa yang pergi hanya tubuhnya. Jiwanya masih tersimpan di relung hati kami. Kebaikannya akan selalu dikenang, baik ia pergi atau tidak pergi. Jika saja saya tidak malu berterus terang dan menulis catatan ini dengan tinta, pasti Anda akan melihat buramnya tulisan ini oleh derai air mata kami yang menahan sedih atas kepergiannya.

Mas Prie GS, semua orang tahu Anda orang baik dan akan didoakan oleh banyak orang. Kami berdoa semoga Allah meluaskan kuburannya.

Sumber : FB Hasan aoni

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *