Categories:

oleh: Linda Martha Dewi

Salah satu hikayat melayu yang cukup terkenal hingga saat ini adalah hikayat Hang Tuah. Cerita rakyat melayu yang cukup melegenda, ada yang menyebutnya sebagai sastra sejarah, ada juga yang menyebutnya sebagai fiksi belaka. Fiksi ataupun sejarah hikayat ini tetaplah warisan budaya melayu yang perlu kita lestarikan.

Manuskrip yang ditemukan dalam bentuk digital dan dipublikasikan melalui SOAS University of London ini terdapat dua volume. Manuskrip Hikayat Hang Tuah ini ditulis menggunakan bahasa arab melayu yang diperkirakan ditulis pada tahun 1688 dan 1710. Jika ingin membaca hikayat ini, namun belum bisa membaca tulisan arab melayu jangan khawatir, pembaca bias membaca buku berjudul Hikayat Hang Tuah (Jilid 1) yang ditulis oleh Muhammad Haji Salleh.

Manuskrip Hikayat Hang Tuah ini terdapat banyak jejak sejarah di dalamnya, seperti awal mula berdirinya Malaka, kedatangan bangsa portugis, hubungan-hubungan Malaka dengan Negara dan kerajaan lain, dan sebagainya. Melalui kisah perjalanan hidup Hang Tuah yang berasal dari rakyat biasa hingga pengabdiannya, kesetiaan, dan keberaniannya terhadap raja Malaka, menjadikan Hikayat Hang Tuah tetap dikenal hingga saat ini.

Hikayat ini diawali dengan kisah kerajaan langit, yang merupakan asal silsilah para raja Melayu. Kemudian dilanjutkan denga pernikahan keturunan raja negeri surge dengan putri bumi yang cantik jelita. Mereka dinobatkan menjadi raja dan ratu Bukita Segantung (Palembang) dan anak-anak mereka ditakdirkan menjadi raja-raja di Kepulauan Melayu, salah satu putra mereka menjadi Raja Bintan.

Kisah hidup Hang Tuah diawali oleh ayahnya Hang Mahmud yang bermimpi tentang sinar bulan lembut dan menerangi anaknya. Karena mimpi yang didapatkannya itu, Hang Mahmud mengajak istrinya Dang Merdu untuk pindah ke Bintan dimana terdapat sebuah kerajaan yang telah mapan. Dari sinilah kisah kepahlawanan  Hang Tuah dimulai.

Ketika berusia 10 tahun Hang Tuah dengan keempat sahabatnya, Hang Jebat, Hang Kasturi, Hang Lekir, dan Hang Lekiu berlayar menuju utara Singapura. Dalam perjalanan ini mereka bertemu dengan bajak laut, namun dengan strategi yang cerdik mereka mampu mengalahkan bajak laut tersebut.

Setelahnya Hang Tuah dengan para sahabatnya berhasil mengalahkan pengacau yang berniat untuk mencelakai Bendahara. Kedua berita tersebut terdengar hingga ketelinga Sultan yang baru dan kemudian kelima orang sahabat itu diminta untuk menjadi ajudan di istana. Kelimanya sampai ketika kerajaan masih dalam kondisi yang kurang stabil dan berusaha melakukan perdagangan dengan kerajaan lain untuk membangun ekonomi kerajaan.

Bersama dengan keempat sahabatnya, Hang Tuah mempelajari bela diri kepada Aria Putra, seorang guru terkenal. Hang Tuah diceritakan telah menguasai 12 bahasa diusianya yang masih muda. Dari sini dapat dikatakan bahwa Hang Tuah telah disiapkan menjadi seorang tokoh pahlawan yang dikagumi masyarakat.

Kemudian kisah dilanjutkan dengan perpindahan kerajaan ke tempat yang lebih stategis, dan dari sinilah sejarah kerajaan Malaka berawal. Ditemukan sebuah tempat yang dikatakan bagus dijadikan sebagai kerjaan, dikarenakan terdapat seekor kancil berwarna putih yang dapat menyerang dan mengalahkan seekor anjing pemburu, dan ditempat itu terdapat pohon yang bernama ‘Malaka’. Karena lokasinya yang strategis Malaka berkembang menjadi kerjaan dan pelabuhan yang berpengaruh pada saat itu.

Kisah berlanjut ketika Hang Tuah yang telah menjadi kesayanga Sultan dikirim ke kerajaan Majapahit sebagai utusan dalam peminangan putri Betara yang bernama Raden Geluh Cendera Kirana. Ketika upacara pernikahan dilaksanakan Hang Tuah dan para sahabatnya diserang oleh para pengacau dan diperdaya dengan berbagai macam cara, dan pada akhirnya mereka menang. Dalam perjalannya Hang Tuah juga berhasil mengalahkan pengembara bernama Taming Sari yang akhirnya Batara memberikan keris sakti Taming Sari kepadanya.

Lantaran dirinya yang sangat dipercaya dan disayangi oleh raja, banyak yang cerburu terhadapnya, kecemburuan itu mengakibatkan banyaknya fitnah yang diterima oleh Hang Tuah. Fitnah pertama diakibatkan oleh dirinya yang berbicara dengan selir kesayangan raja dan mengakibatkan dirinya terusir ke Indrapura. Kecemburuan dan keirian itu tidak berhenti sampai disitu, lagi-lagi Hang Tuah dibicarakan memiliki hubungan gelap terhadap dayang istana.

Hang Tuah dihukum mati, namun dapat diselamatkan oleh Bendahara dan disembunyikan jauh dari pengawasan orang-orang Malaka. Kemudian Hang Jebat ditunjuk menggantikan posisi Hang Tuah. Selama menduduki posisinya Hang Jebat malah memanfaatkan kesempatan. Hang Jebat menduduki istana beserta dayang-dayang yang dianggap sebagai penghianatan terhadap raja. Kemudian Hang Tuah dipanggil kembali oleh Bendahara untuk melawan Hang Jebat dari Malaka yang dianggap sebagai pemberontak.

Pertarungan dengan saudara dan sahabat, Hang Tuah harus membunuh Hang Jebat yang memiliki keris Taming Sari. Akhirnya Hang Tuah berhasil mengalahkan Hang Jebat dengan triknya yang menipu. Pada klimaks cerita ini yang diceritakan Hang Tuah sebagai pahlawan yang telah disiapkan sebagai keadilan yang setia dan tabah, mengahdapi pemberontak yang mencari keadilan.

Pada bagian kedua Malaka telah menjadi kekuatan besar dan ingin menjalin hubungan dengan negeri-negeri lain. Hang Tuah menjalani banyak penjelajahan sebagai utusan Malaka untuk menjalin hubungan dengan negeri lain. Hang Tuah menjadi utusan yang hebat dan kerajaannya juga mendapa pengakuan yang baru. Perjalanannya ke Timur Tengah menjadi perjalanan spiritual karena dia dan sahabatnya mengunjungi tempat suci umat Islam. Pada bagian ini cerita menjadi lebih spiritual dan tenang setelah perang yang diceritakan sebelumnya.

Cerita kembali ke Malaka ketika ancaman Portugis menjadi nyata. Hang Tuah yang telah tua dan sakit-sakitan, tetapi masih sanggup membela Malaka untuk terakhir kalinya. Tak lama setelahnya Raja menyerakhan tahtanya kepada putri kesayangannya. Kemudian raja menjalani kehidupan yang lebih religious dan diikuti oleh Hang Tuah.

Kisah perjalanan hidup Hang Tuah yang heroik dengan petualangan dalam mempertahankan tahta dan kerajaan, serta sejarah yang terselip sebagai latar menjadikan manuskrip ini kaya akan ilmu dan budaya. Hang Tuah yang terus menerus belajar dan berkembang menjadikannya teladan bagi masyarakat Melayu dulu hingga sekarang.

Melalui manuskrip ini kita belajar malalui pahlawan yang sangat diagungkan masyarakat melayu, dengan kesetiaan dan konsistensinya terhadap pendirian menjadikannya sosok pahlawan sempurna yang diinginkan oleh masyarakat. Pahlawan yang dapat menjadi teladan banyak orang, karena itu manuskrip ini sangat terkenal dikalangan masyarakat melayu.

Sumber gambar: (https://digital.soas.ac.uk/LOAA005791/00001)

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *