Nabi Muhamad shalallahu alaihi wasallam pernah bersabda: ”Aku berlindung kepada Allah, dari ketamakan yg menjadi watak.”

Seorang Shahabat yg agung, Mu’adz bin Jabal bin Amr bin Aus al-Khazraji Al-Anshari Radhiyallahu Anhu (605 M, Madinah – 639 M, North Shuna, Yordania) berkata : “Berlindunglah kalian kepada Allah, dari sifat tamak yg melahirkan tabiat buruk, dan dari sifat tamak terhadap kepuasan yg semu, dan dari sifat tamak terhadap sesuatu yg bukan menjadi bagiannya.”

Sifat tamak yg melahirkan tabiat buruk adalah sifat tamak yg menjerumuskan manusia kepada akhlaq dan sifat yg tercela, menyebabkan kegelapan hati dan membutakan penglihatannya. Ini adalah bentuk dari ketergelinciran, penyimpangan dan pelecehan terhadap hukum, nurani, keteladanan dan akhlaq yg utama.

Jika ketamakan sudah menjadi watak seseorang, maka apapun yg menguntungkan dirinya dianggap benar, padahal sifat yg melekat tsb, justru menjatuhkan seorang manusia pada kehinaan hakiki, pada akhirnya akan menghancurkan dan merusak agamanya. Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam telah mengingatkan dgn sabdanya :

عَنْ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِيْ غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِيْنِهِ

“Dari Abu Bashir Ka’ab bin Malik bin Amru bin al-Qin as-Salamay al-Khazrojy Al-Anshari radhiyallahu anhu (wafat 50 H / 670 M), ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua serigala yg lapar yg dilepas di tengah kumpulan kambing, tidak lebih merusak, dibandingkan dgn sifat tamak manusia, terhadap harta dan kedudukan yg sangat merusak agamanya,” (HR. Imam At-Tirmidzi rahimahullah, wafat 892 M, Termez, Uzbekistan).

Ketamakan ini merupakan sikap tercela yg dapat merusak ‘ubudiyah dan diniyyah. Bahkan, bisa menjadi pangkal semua kesalahan. Ketamakan, menandakan adanya ketergantungan dan penghambaan manusia terhadap manusia. Disini makin terlihat, kehinaan dan kenistaan dari sikap tamak tsb. 

Ada nasihat dari Syekh Ahmad Ibnu Muhammad Ibnu Atha’illah As-Sakandari Asy-Syadzili Al-Maliki atau Ibnu Atha’illah rahimahullah (1260 – 1309 M Kairo, Mesir), ” Tidaklah tumbuh dahan2 kehinaan, kecuali dari benih ketamakan.” Oleh karena itu, janganlah kita menanam benih ketamakan dalam hati, sehingga tumbuh pohon kehinaan yg dahan dan rantingnya akan bercabang2.

بِسْمِ اللَّهِ عَلَى نَفْسِي وَمَالِي وَدِينِي، اللَّهُمَّ رَضِّنِي بِقَضَائِكَ، وَبَارِكْ لِي فِيمَا قُدِّرَ لِي حَتَّى لا أُحِبَّ تَعْجِيلَ مَا أَخَّرْتَ، وَلا تَأْخِيرَ مَا عَجَّلْتَ

“Dengan menyebut nama Allah atas diriku, hartaku dan agamaku. Ya Allah, jadikanlah aku orang yg ridha atau menerima atas ketetapanmu, serta berkahilah aku atas rezeki yg Engkau tentukan sehingga aku tak tergesa meminta sesuatu yg Engkau akhirkan, atau mengakhirkan sesuatu yg Engkau hendak percepat.”

Agar terhindar dari sifat rakus dan menerima dgn harta dan rezeki yg telah diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, maka hendaknya kita berdoa, dgn doanya Sayyidina Umar Bin Khatthab radliyallhu anhu (wafat 3 November 644 M,  Madinah), yg termaktub dalam kitab Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, karya Abdullah bin Muhammad bin Al-Qadli Abu Syaibah Ibrahim bin ‘Utsman bin Kuwasta atau Imam Ibnu Abi Syaibah rahimahullah (wafat  2 Agustus 849 M, Kufah, Irak), sbg berikut : Dari Sayyidina Umar Bin Khattab Radhiyallahu Anhu, dia berdoa :

اللَّهُمَّ اجْعَلْ غِنَائِي فِي قَلْبِي، وَرَغِّبْنِي فِيمَا عِنْدَكَ، وَبَارِكْ لِي فِيمَا رَزَقْتَنِي، وَأَغْنِنِي مِمَّا حَرَّمْتَ عَلَيَّ

“Ya Allah, jadikan kekayaanku di dalam hatiku, senangkan aku terhadap sesuatu yg ada di sisi-Mu, berkahi rizeki yg telah Engkau berikan padaku, dan cukupkan aku dari sesuatu Engkau halangi dariku”.

Semoga bermanfaat

Al-Faqir Ahmad Zaini Alawi Khodim Jama’ah Sarinyala Kabupaten Gresik

CHANNEL YOUTUBE SARINYALA

https://youtube.com/channel/UC5jCIZMsF9utJpRVjXRiFlg

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *