Oleh: Puput Waina, Rinita Suhendi, Selvi Zahrotunnisa, (Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof.Dr.Hamka)
Manusia ialah mahluk ciptaan tuhan yang paling sempurna baik secra fisik, manusia dianugerahi stuktur tubuh yang sempurna, ditambah dengan pemberian akal yang menjadikan manusai menjadi special disbanding mahluk tuhan yang lainnya. Tingkatan akal yang ada pada manusia berbeda-beda.
Banyak orang yang mengira bahwa orang yang cerdas adalah orang yang mempunyai Intellegence Quotient (IQ)yang tinngi, namun disamping itu kecerdasan tidak hanya dinilai dari tinnginya nnilai IQ seseorang, tidak semua orang yang memeiliiki IQ yang tinggi memiliki kemampuan beradaptasi, sosialisaai, pengendalian emosi dan kemampuan spiritual yang baik.
Selama ini banyak orang yang mengira bahwa untuk meraih prestassi belajar yang baik dibutuhkan nilai IQ yang tinggi, namun menurut psikologi membutikan bahwa IQ bukanlah satu-satunya faktor yang memengaruhi prestasi belajar seseorang, tetapi banyak faktor yang memengaruhi prestasi belajar seseorang salah satunya kecerdasan emosional.
Emotional Quotients (EQ)
Menurut Salovey dan Mayer yang dikutip dalam jurnal (Asna Andriani, 2014) kecerdassan emosional atau emotional quotients merupakan himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan perasaan dan emosi baik pada diri sendiri maupun orang lain, memilah-milah semuanya, dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan.
Emotional Quotients (EQ) adalah serangkaian kecakapan untuk melampangkan jalan di dunia yang penuh penderitaan dan permassalahan sosial (Matwaya & Zahro, 2020). Istila Emotional Quotients pada awalnya merupakan pengembangan dari kata emosi yan merujuk pada suatu kecerdasan dalam mengelolah emosi secara tepat. Emosi berperan penting karena emosi alah penyambung hidup bagi kesadaran diri dan kelangsungan diri yang yang secara mendalam menghubungkan kkita dengan diri kita sendiri dan orang lain serta dengan alam dan kosmos. (Asna Andriani, 2014)
Kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk mengenali emosi, diri, mengelola emosi diri, memotivasi diri sendiri, mengnali emosi orang lain (empati) da kemampuan untuk membina hubungan (kerjasama) dengan orang lain. Individu yang memiliki kecerdasan emosional yang baik adalah individu yang terampil dalam mengonntrol emosi dalam dirinya dan orang lain, terampil dalam memahami orang lain dan lebih cakap dalam bidang akademis.
Jadi untuk menjadi pribadi yang berkualitas, tidaklah cukup hanya dengan nilai IQ semata, tetapi didukung dengan kecerdasan emosional yang dapat memperhatikan diri sendiri maupun orang lain. Oleh karena itu dibutuhkan keseimbangan anatara kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ), dengan seimbangnya kecerdasan intelektual dan emosional yang akan membentuk pribadi yang tegar, memliki pandangan yang luas, tidak hanya mementingkan tentang kepuasan duniawi namun juga selalu mengingat tentang kembalinya ke akhirat, bertkwa , bersyukur dan sabra menghadapai segala tantangan yang ada dan melahirkan sifat optimis dan tidak mudah berputus asa.
Kecerdasan Emosi dalam Al-Qur’an
Nafs
Kata “Nafs” secara hharfiah artinya jiwa atau diri, dalam istilah Indonesia lebih diartikan sebagai ”diri” dikarenkan diri mencangkup unsur utama manusia yaituu jasad dan jiwa. Kata nafs diartikan sebagai komponen dasar manusia dalam bentuk immaterial yang sering digunakan dalam konteks manusia. Bisa berarti sisi batin seseorang yang berpotensi menjadi baik dan buruk, nafs seseorang berfungsi membimbing. orang untuk bersikap lembut dalam hidup mereka. Pada dasarnya, nafs cenderung melakukan pekerjaan yang baik daripada pekerjaan yang buruk. Dalam Al-Qur’an ada beberapa ayat yang menunjukkan kajian tentang nafs di anataranya yang tercermin dalam Q.S Asy-Syam /91:7-8;
فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا ﴿ ٨﴾ وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا ﴿ ٧﴾
“…dan jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada nafs (jiwa) itu jalan kefasikan dan ketaqwaan”
Dalam Al-Qur’an pun terdapat satu isyarat bahwasannya dari kedua potensi tersebut, sesuangguhnya potensi kebaikan nafs juga di jelasakan dalam surat Al-Baqarah/2;286;
ا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا ۗ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ اِنْ نَّسِيْنَآ اَوْ اَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهٗ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهٖۚ وَاعْفُ عَنَّاۗ وَاغْفِرْ لَنَاۗ وَارْحَمْنَا ۗ اَنْتَ مَوْلٰىنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَ ࣖ
“ Allah tidak akan membebani seseorang (nafs) melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebijakan) yang diusahakannya dn ia mendapat siksa (dari kejahatannya ) yang dikerjakannya..”
Dari ayat diatas dapat dipahami bahwa dengan nafs memungkinkan manusia memiliki aspek baik dan buruk, dari kedua aspek terssebut tidaklah sama, unsur positif lebih dominan daripada aspek negatif, pada hakikatnya nafs cenderung melakukan pekerjaan yag baik daripada yang buruk. Dapat di generilisasikan bahwa manusia pada dasarnya diciptakan membawa potensi yang baik, tingkatan nafs terdapat dalam Q.S.al-Fajr/89:27-30;
ا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ﴿٢٧﴾ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ﴿٢٨﴾ فَادْخُلِي فِي عِبَادِي ﴿٢٩﴾ وَادْخُلِي جَنَّتِي ﴿٣٠
“ Hai jiwa (nafs) yang tentang, kembalilah pada tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhainya, maka massuklah kedalam jama’ah hamba-hambaku, dan masukakanlah ke dalam surgaku”
Pada ayat ini dijelaskan bahwa nafs juga merupakan wadah yang menampung gagassan dan kemauan yan menginginkan perubahan dalam dirinya.
Lubb
Kata lubb bentuk jama’nya adalah albab, dalam Al-Qur’an disebutkan sebnyak 16 kali yang artinya cerdik, At-Tabri menyatakan bahwa lubb adalah kemamuan membedakan antara yang baik dan yang buruk. Dengan demikian makna dasar ulul albab dapat diartikan sebagai orang yang memiliki akal pengetahuan. Dari sini dapat disimpulkan bahwa orang memiliki kemampuan untuk membedakan antara yang baik dan yang jahat dengan menggunakan bukti rasional. Dengan pembuktian yang rasional ini, diharapkan masyarakat mampu menghadapi perilaku kehidupan sehari-hari dengan benar. Dari kata lubb ini bisa Diakui bahwa melakukan sesuatu pertama-tama harus dilihat secara relatif, yang berarti bahwa kecerdasan emosional dan kecerdasan bekerja sama sedemikian rupa sehingga melakukan sesuatu harus dipertimbangkan sebelumnya dengan hati-hati.
Fu’ad
Kata fu’ad diset sebnyak 16 kali, tujuh kali diantaranya dipakai berhubungan dengan penglihatan dan pendengaran, selebihnya duhubungkan dengan pendengaran saja atau penglihatan saja, serta yang menunjukan sifat emosional dan psikologi, terdapat dalam Q.S Qasas/28;10; yang didalammnya mengandung makna keteguhan hati
وَاَصْبَحَ فُؤَادُ اُمِّ مُوْسٰى فٰرِغًاۗ اِنْ كَادَتْ لَتُبْدِيْ بِهٖ لَوْلَآ اَنْ رَّبَطْنَا عَلٰى قَلْبِهَا لِتَكُوْنَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ
“ dan menjadi kosonglah hati ibu musa, sesuangguhnya hamper saja ia menyatakan rahasia tentang musa, seandainnyakami teguhkan hatinya supaya ia termasuk orang-orang yang percaya”
Fu’ad dapat diartikan sebagai orang yang dapat mengendalikan dirinya, yang dapat mengendalikan emosinya sehingga dapat dengan tenang menghadapi setiap masalah yang menghadangnya. Artinya seseorang dapat dikatakan cerdas emosi apabila ia mampu mengendalikan emosinya dan mengendalikan dirinya dengan baik dalam keadaan apapun yang mungkin dibutuhkan oleh orang tersebut. Untuk perilaku yang ditimbulkan oleh seseorang, ia tenang dalam menghadapi masalah atau hambatan.
Hilm
Muhammad Ismail Ibrahim mengidentifikassikan kata hilm dengan aql merupakan hilm ini dengan ‘aql yang mempunyai pengertian, bahwa orang yang mampu memfungsikan hilm ini keadaan jiwanya menjadi tenang, tidak mudah marah dan suka memaafkan, hilm juga didentikkan dengan nafs dalam Q.S. Al-Fajr/ 89;27-30. Pada dasarnya hil merupakan potensi pada diri yang ada pada diri manusia yang berfungsi mengontrol perilaku dan tindakan manusia dalam kehidupannya . Dengan Hilm, manusia bisa tenang dalam menghadapi segala hal, tidak emosional dan bijak dalam bertindak.
Hijr dan Nuhyah
Kata hijr dan nuhyah mempunyai makna daya kemampuan nalar, Muhammad Ismail Ibrahim membedakan kedua kata hijr dan nuhyah , hijr yaitu menjaga supaya tidak tercampur antara yang baik dan yan buruk, sedangkan nuhyah berfungsi yuntuk menjaga dari hal-hal yang tidak baik. Hijr dan nuhyah terdapat dalam Q.S Al-Fajr /89;5 dan Q.S Taha / 20 ;54
هَلۡ فِىۡ ذٰلِكَ قَسَمٌ لِّذِىۡ حِجۡرٍؕ
“Padahal yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima oleh orang-orang yang berakal dhihijr.”
كُلُوْا وَارْعَوْا اَنْعَامَكُمْ ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى النُّهٰى ࣖ
“..terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah SWT bagi orang yang berakal (ulinnuha)”
Dari ayat diatas seorang dikatakan hijr (mempunyai nalar) dan ulian-nuha (mempunyai daya rasional) jika orang itu mengetahui dan menjaga kebaikan dan keburukan hidupnya. Dia juga tahu apa yang harus dilakukan oleh kekuatan rasionalnya.
Kesimpulan
Dari ayat-ayat Al-Qur’an dan Pada dasarnya, masih terdapat berbagai kelemahan konsep tersebut, khususnya sisi Musabat ayat tersebut. Tapi setidaknya kita bisa membuat konsep langsung dari Al-Qur’an yang sampai saat ini belum banyak kita lakukan karena kita lebih mementingkan mengamati dan menikmati teori dan konsep orang lain. Kerangka dasar EQ yang penulis temukan dari sudut pandang Al-Qur’an, yaitu:
1) Kemampuan untuk memilih antara yang baik dan yang jahat,
2) tanggung jawab,
3) kesadaran diri,
4) rasionalitas,
5) ketekunan,
6) kasih sayang
Referensi
Asna Andriani. (2014). Kecerdasan emosional ( emotional quotient ) dalam peningkatan prestasi belajar. Edukasi, 02, 459–472.
Maiyura. (2014). Kecerdasan Emosional (EQ) Manusia Dalam Perspektif al-Qur’an.
Matwaya, A. M., & Zahro, A. (2020). Konsep Spiritual Quotient Menurut Danah Zohar dan Ian Marshall Dalam Perspektif Pendidikan Islam. Attadrib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, 3(2), 41–48. https://doi.org/10.54069/attadrib.v3i2.112

No responses yet