Categories:

Oleh: Zahrayni Naidu Fadlillah (Mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka)

Kata emosi berasal dari akar kata movere (Latin), berarti “menggerakkan, bergerak”. Secara literal emosi diartikan setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu, setiap keadaan mental yang hebat atau meluap-luap. Daniel Goldman merupakan salah satu orang yang sangat tertarik atas kajian mengenai emosi, ia menyebutkan adanya ratusan emosi yang dimiliki oleh manusia. Goldman memilah emosi ke dalam delapan jenis yaitu amarah, kesedihan, rasa takut, kenikmatan, cinta, terkejut, jengkel, dan malu. Muncul sebuah teori yang Bernama Emotional Quotient (EQ), menurut teori ini, keberhasilan seseorang dalam hidupnya bukan ditentukan oleh intelligentia, melainkan Emotional Quotient yang tinggi. Emosi merupakan bagian dari kehidupan, karena manusia mengalami berbagai peristiwa yang melibatkan emosi.

Robert Plutchik (dalam Santrock, 1988:399) mengategorikan emosi ke dalam beberapa segmen: bersifat positif dan negatif, primer dan campuran, banyak yang bergerak ke kutub yang berlawanan, dan intensitasnya bervariasi. Salah satu contohnya, Ketika kita ingin mempresentasikan suatu materi dihadapan banyak orang, kita akan merasakan emosi yang meletup-letup, keringat dingin membasahi tubuh, dan bicara pun akan terasa sulit. Contoh lain nya, saat kita sedang dalam sesi wawancara pekerjaan, dari banyaknya peserta itu diantara nya ada salah satu peserta yang amat sangat menggagumkan, dan sangat percaya diri di depan pewawancara, disitu kita akan merasakan rasa gugup, dan takut yang amat berlebihan, itu disebut dengan emosi.

Kecerdasan emosi dapat diartikan dengan kemampuan untuk “menjinakkan” emosi dan mengarahkannya kepada hal-hal yang lebih positif. Hubungan antara otak dan emosi mempunyai kaitannya secara fungsional. Daniel Goldman menggambarkan bahwa otak berfikir harus tumbuh dari wilayah otak emosional. Didalam Al-Qur’an, aktivitas kecerdasan emosional sering kali dihubungkan dengan kalbu. Kata kunci utama EQ didalam Al-Qur’an dapat ditelurusi melalui kata kunci qalb (kalbu) dengan istilah-istilah lain yang mirip dengan fungsi kalbu seperti jiwa (nafs), intuisi (hadas), dsb.

Dengan adanya emosi, manusia dapat mengkomunikasikan apa yang dia rasakan atau bahkan sekedar memberi sinyal-sinyal tertentu pada dirinya sendiri dan orang lain yang ada di sekitarnya. Dengan emosi juga kita dapat memilih tindakan yang sesuai dengan kondisi lingkungan sosial kita, menahan diri untuk berkomukasi dengan orang lain disaat emosi negatif. Bahkan kita mungkin secara tidak sadar menularkan emosi kepada orang lain. Manusia adalah makhluk yang unik, punya emosi dan sikap yang beragam, ia bisa menjadi subyek dan objek kajian sekaligus.

Fungsi emosi dalam kehidupan manusia

  1. Emosi berfungsi sebagai pembangkit energi. Tanpa adanya emosi, manusia tidak sadar atau sama dengan orang mati.
  2. Emosi berfungsi sebagai pembawa informasi. Keadaan diri sendiri dapat diketahui melalui emosi yang dialami.
  3. Emosi berfungsi sebagai komunikasi intrapersonal dan interpersonal.
  4. Emosi berfungsi sebagai informasi tentang keberhasilan yang telat dicapai.

Terjadinya emosi pada manusia merupakan rangkaian mekanisme untuk dapat bertahan hidup. Emosi takut dapat mendorong seseorang untuk mencari perlindungan, emosi marah akan menjadi rangkaian instrumen perlawanan terhadap sesuatu yang mengancam, emosi senang menjadi mekanisme untuk menikmati sesuatu yang menyenangkan dalam hidup. 

Perubahan-perubahan reaksi perilaku yang dengan gamblang digambarkan oleh ayat-ayat Al-Qur’an seperti di dalam surat Al-Ahzab ayat 10-11.

 اِذۡ جَآءُوۡكُمۡ مِّنۡ فَوۡقِكُمۡ وَمِنۡ اَسۡفَلَ مِنۡكُمۡ وَاِذۡ زَاغَتِ الۡاَبۡصَارُ وَبَلَغَتِ الۡقُلُوۡبُ الۡحَـنَـاجِرَ وَتَظُنُّوۡنَ بِاللّٰهِ الظُّنُوۡنَا ؕ‏ ١٠

هُنَالِكَ ابۡتُلِىَ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ وَزُلۡزِلُوۡا زِلۡزَالًا شَدِيۡدًا‏ ١١

“(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika penglihatan (mu) terpana dan hatimu menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu berprasangka yang bukan-bukan terhadap Allah. Disitulah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang dahsyat.”

            Memanfaatkan emosi memerlukan cara dan media penyaluran karena tidak semua orang dapat mengendalikan emosi. Ada beberapa orang yang saat emosi lebih memilih diam, dan ada juga yang lebih memilih menyalurkan emosi nya saat menangis, bisa juga dengan menulis dan melukis, beribadah sesuai agama masing-masing pun bisa membuat emosi seseorang menjadi reda dan terkendali. Saat beribadah, seseorang akan merasa dekat dengan sang pencipta.

            Respon anda bisa terpengaruh oleh kesan yang anda tangkap. Itu yang biasa disebut dengan emosionalitas. Ada dua jenis emosionalitas, yaitu:

  1. Emosionalitas Tinggi: Anda mudah terpengaruh oleh kesan-kesan yang anda terima.
  2. Emosionalitas Rendah: Anda tidak mudah terpengaruh oleh kesan-kesan yang diterima.

Al-Qur’an memberikan petunjuk manusia agar mengendalikan emosinya agar dapat mengurangi ketegangan-ketegangan fisik dan psikis, dan menghilangkan efek negatif. Pengendalian emosi yaitu:

  1. Dzikrullah (mengingat Allah) merupakan salah satu model pengalihan dari masalah yang dihadapi, dalam wujud kalimah thayyibah, wirid, doa, dan tilawah Al-Qur’an.
  2. Husn al-Zhann (Atribusi positif) adalah suatu mekanisme yang menempatkan persepsi berada dalam wacana positif. Setiap masalah selalu dilihat dari aspek positifnya, dan cobalah untuk menyingkirkan sisi negatif nya.
  3. Empati, ajaran islam mendorong umatnya untuk berempati dengan sesama, karena empati yang dalam akan melahirkan pertolongan yang tulus.
  4. Sabar-syukur. Kehidupan yang membawa kesenangan harus disyukuri, sedangkan peristiwa yang terjadi tanpa diharapkan harus disikapi dengan sabar.
  5. Pemberian maaf (al-Afw), menahan marah bukan berarti menyimpan untuk sewaktu-waktu diletupkan, tetapi melemburnya dengan pemberian maaf.fa
  6. Regresi, merupakan salah satu bentuk mekanisme pertahanan diri dengan cara mundur dari perkembangan yang lebih tinggi ke yang lebih rendah. Taubat merupakan salah satu bentuk regresi.
  7. Relaksasi, bisa dengan berwudhu, mengubah posisi saat sedang emosi, dan berdiam diri.

Kesimpulan

Faktor emosi manusia telah memberikan banyak hal mulai dari sisi positif maupun negatif. Tanpa adanya emosi, kehidupan ini akan terasa hambar tanpa dinamika dan kebermaknaan. Dengan adanya emosi, manusia dapat melakukan tindakan yang dianggap perlu untuk stabilisasi kehidupannya dan mengomunikasikan apa yang dialami saat itu kepada orang lain. Terdapat enam emosi dasar yaitu senang/bahagia, marah, takut, sedih, heran/takjub, dan benci/jijik. Al-Qur’an memberikan petunjuk manusia agar mengendalikan emosinya agar dapat mengurangi ketegangan-ketegangan fisik dan psikis, dan menghilangkan efek negatif.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *