Jika ditanya siapakah murid didik Habib Umar yang terbaik, termasyhur, dan memiliki pengaruh yang paling besar untuk saat ini ? mungkin kebanyakan akan langsung menunjuk satu nama : Habib Ali Al-Jufri. 

Namun banyak yang tidak mengetahui bahwa Habib Ali terlahir dalam keluarga “politik”. Ayah beliau, Dr. Abdurrahman Al-Jufri adalah seorang politikus ulung yang juga pernah menjabat sebagai wakil presiden Yaman Selatan pada dekade 90-an. Aliran takdir memang sulit ditebak kemana muaranya. tidak ada yang menyangka bahwa seorang Ali Zainal Abidin Al-Jufri, anak bapak wakil presiden yang sudah biasa hidup kaya, mewah dan manja semenjak kecil malah lebih memilih untuk menekuni ilmu agama dan meluangkan banyak waktunya untuk nyantri dan berkhidmah kepada Habib Abdul Qadir Assegaf di Jeddah. beliaulah yang kelak meminta Habib Ali untuk pergi ke Tarim dan berguru kepada Habib Umar Bin Hafidz. 

Bagi saya, Satu hal yang sangat menginspirasi dari beliau adalah : tingginya adab dan keyakinan yang sangat besar terhadap seorang guru. 

” Al-Madad ‘Ala Gadril Masyhad ” 

begitulah suatu petuah yang begitu populer dikalangan kami para pelajar Hadhramaut. Artinya : pemberian dan kemanfaatan yang diberikan Allah terhadap seorang murid atau santri, itu tergantung sebesar apa keyakinan yang ia miliki terhadap gurunya, setulus apa rasa hormat dan tadhim yang ia rasakan terhadap gurunya.. ” 

” kalian tahu kenapa Habib Ali Al-Jufri bisa mencapai kedudukan yang begitu tinggi seperti saat ini.. ? ” waktu itu guru kami Habib Hasan Al-Muhdhar bertanya kepada kami. Kami diam seraya menunggu jawaban.. 

” itu semua karena keyakinan -masyhad- beliau yang begitu tinggi terhadap Habib Umar ” jawab Habib Hasan. Beliau lalu bercerita : 

” dulu Habib Umar pernah mengadakan perkumpulan khusus bersama kami -murid-murid beliau angkatan pertama -Duf’ah Ula-. Waktu itu beliau menyuruh salah seorang dari kami untuk berdiri dan berbicara. – dalam sebuah majlis bersama murid-muridnya, beliau memang sering menunjuk langsung beberapa orang untuk berdiri memberikan ceramah -. Namun kawan kami itu menolak dengan halus dan berkata : 

” saya masih belum siap Habib.. ” 

Akhirnya Habib Umar menunjuk orang lain untuk berbicara di depan kami.. 

Ketika itu kebetulan Habib Ali juga hadir dan duduk tepat disebelah kawan kami itu. Habib Ali berkata padanya : 

” Habib Umar menyuruhmu untuk berbicara di depan tapi engkau malah tidak mau berdiri.. ? “

” saya masih belum siap habib.. ” jawabnya..

Habib Ali mengulangi pertanyaannya : 

” Habib Umar memintamu untuk berdiri tapi engkau malah tak mau berdiri.. ?” 

” serius, saya belum siap Habib.. ” jawabnya lagi.. 

” dengar baik-baik..” Habib Ali menatapnya lantas berkata dengan penuh keyakinan. ” andai saja Habib Umar mengatakan kepada dinding : “berbicaralah” maka niscaya dinding itu akan berbicara seketika itu juga !.. ” 

Habib Ali seakan ingin menegaskan, bahwa dengan barokah niat tulus untuk melaksanakan perintah guru, hal seberat apapun pasti bisa kita lakukan.. 

keyakinan penuh kepada seorang guru yang jarang dimiliki oleh banyak santri di zaman ini. Adab luhur dan tadhim total inilah yang membuat Habib Ali bisa menjadi sosok agung yang kita kenal saat ini. Beliau dikenal sebagai seorang ulama penyebar cinta dan kedamaian, beliau selalu menyuarakan penolakan terhadap kebencian dan kekerasan atas dasar apapun, Bahkan atas dasar agama sekalipun. Ditengah ancaman kelompok radikal seperti ISIS, Al-Qaeda, dll yang ditujukan kepadanya, ia tetap menjadi sosok yang tenang, teduh, sejuk dan menyejukkan. 

Pernah salah seorang bermarga Al-Katsiri -keturunan kerajaan Hadhamaut- berkata kepada Habib Ali di Tweeter-nya : 

” wahai Syaikh !! Engkau adalah gembong munafik terbesar yang pernah aku kenal di Hadhramaut !! “

dengan indah dan elegan, Habib Ali membalas komentarnya :

” jika memang seperti itu, maka doakanlah saudaramu ini agar Allah memberikannya hidayah dan menerima taubatnya. Semoga Allah senantiasa memberkahimu dan seluruh keluarga terpandang Al-Katsiri lainnya.. ” 

Ada orang lain yang tak kalah keji komentarnya : 

” @Habib Ali ! aku membencimu dan aku berharap Allah membuka semua Aib-Aibmu. Semoga kelak aku bisa bisa melihat semua itu dalam dirimu wahai orang yang bermuka suram !! “

Habib Ali menjawab : 

” semoga Allah senantiasa mencintaimu wahai saudaraku yang mulia. Semoga Allah menjadikan hari-harimu cerah dan bersinar hingga kelak engkau dapat bertemu dengan-Nya dengan wajah terang dan hati yang bersih dan dalam keadaan Allah ridha kepadamu.. ” 

Tatkala alam sosmed kita lebih sering dijejali tetek bengek politik, caci maki yang diobral disana-sini , kebencian antar kelompok dan ormas. betapa butuhnya kita kepada satu saja “sosok” penenang, penengah , peneduh dan penyejuk seperti Habib Ali Al-Jufri.. Karena pada akhirnya perdebatan, caci-maki, dan kebencian tak akan pernah bisa menghasilkan apapun.. 

“Kebencian tak akan bisa membangun manusia.. 

Kebencian tidak akan pernah bisa menjaga tanah air.. 

Kebencian tak akan pernah bisa mengangkat Derajat suatu bangsa.. 

Kebencian tak akan pernah bisa menciptakan suatu kebahagian.. 

Tapi Cinta dapat mewujudkan semua itu…” (Habib Ali Al-Jufri). 

‘iinat, 26 November, 2018.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *