Buku ini sudah berkali-kali saya baca. Pertama ketika sedang kuat-kuatnya menelusuri karya ulama, ketika strata 1 perkuliahan. Kedua, saya baca berulang-ulang saat menulis tesis, 6 tahun yang lalu. Beberapa hari ini saya ulang baca, dengan sebab sedang mengarang biografi ulama Kaum Muda. Ada beberapa catatan saya terhadap buku ini. Beberapa hal yang tidak singkron dengan pengetahuan saya setelah membaca beberapa manuskrip terkait tema yang dibahas. Serta hal-hal yang patut dikoreksi seperti nama kitab Syaikh Ahmad Khatib dan Syaikh Sa’ad, serta siapa yang digelari al-mu’annid dalam kitab Haji Rasul.
Ketika riset tesis, saya beberapa kali datang ke Maninjau. Saya juga membaca langsung manuskrip peninggalan Syaikh Amrullah Tuangku Kisa’i al-Khalidi al-Naqsyabandi. Data-data itu ada dimuat dalam buku ini.
Satu hal yang menjadi pertanyaan saya, mengapa beliau, buya kita, tidak menulis keterangan dari Catatan Harian ayah beliau dalam biografinya ini. Sebab tidak mungkin beliau tidak tau tentang catatan itu.
Dari sini, saya menyadari bahwa, untuk saat ini, sangat penting bagi penulis dan peneliti membaca referensi primer secara langsung, terutama manuskrip-manuskrip hasil tangan tokoh yang kita kaji.
Coba. Berapa banyak yang menyangka Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau seumpama Kaum Muda tulen, anti mazhab, anti ushalli, anti tarekat; ketika kitab-kitabnya dibaca langsung, itu tak bersua. Malah yang jelas terpampang bahwa beliau ialah Asy’ariyah tulen, bermazhab Syafi’i ketat, dan sufi bertarekat.

Categories:Cerita Santri
No responses yet