Seorang guru menasehati muridnya tentang akhir zaman yang penuh peristiwa yang menggelisahkan. : “Muridku di zaman yang serba terbalik ini kamu tidak akan cukup melihat kebenaran dengan satu perspektif, kamu paling tidak membutuhkan tiga perspektif yakni perspektif struktural, perspektif kultural dan perspektif spiritual.
Zaman dahulu orang cuman mengandalkan ketajaman rasa spiritual. Namun zaman itu telah lewat, setelah berkembangnya rasionalitas. Akibatnya di zaman ini ukuran kebaikan bersifat material, formal dan struktural. Hal ini telah membalikkan nilai etis substantif yang universal, menjadi sangat struktural dan bahkan material. Kalau kamu tidak hati-hati laku agamamu tidaklah berbeda dengan laku duniamu. Jika cara beragamamu bisa memberikan kedamaian atas semua yang ada di sekitarmu, maka berhati-hatilah, sebab kamu akan segera dimusuhi, dianggap lemah iman dan munafik oleh kelompokmu sendiri. Kamu tidak perlu heran, sebab ini zaman terbalik. Siapa yang benar akan dihina dan siapa yang salah dipuja-puja. Di zaman terbalik ini, manusia lebih suka menilai kualitas orang lain tanpa mau mengukur kualitas diri sendiri. Sehingga yang keluar dari mulut manusia semacam ini adalah sampah dan bukan hikmah. Ini zaman terbalik yang mayoritas jadi minoritas dan yang mnoritas jadi mayoritas. Kamu tak perlu heran, karena yang lemah akan menjadi kuat dan yang kuat akan menjadi lemah.
Sekali lagi muridku, zaman sekarang semua serba terbalik. Jangankan soal memilih ilmu dan pikiran, soal makanan saja manusia sekarang lebih suka memilih makanan sampah dari pada makanan sehat. Bahkan ini sudah diajarkan sejak anak-anak, Apa mereka masih punya pikiran? Di zaman terbalik yang aku kuatirkan adalah jika matahari juga akan terbit “terbalik”. Peganglah pesanku ini, “Kalau kamu takut langkahmu akan menjauhkanmu dari yang Ghaib, lebih baik kamu diam. Tapi jika kamu yakin yang Maha Ghaib menjagamu maka teruslah berjalan. Ini zaman terbalik bisa jadi orang yang kamu anggap diam itu sebenarnya berjalan dan orang yang kamu anggap berjalan itu sebenarnya diam. Sekali lagi berhati-hatilah dalam melihat dan menilai orang lain di zaman serba terbalik ini. Janganlah kamu terburu-buru, gunakan semua potensi mata, telinga dan hati nuranimu (baik yang jasadi maupun ruhani). “Ber-Iman-lah pada yang ghaib, karena itulah yang sebenar-benar Wujud”. #BerkahRabu
Kisah Unik Dunia Pendidikan: Belajarlah Mengenal Diri

No responses yet