Dalam kitab Tanbihul Ghabi Ila Tanzih Ibni ‘Arabi, Imam Jalaluddin as-Suyuthi (w. 1505) menuliskan beragam “kisah kecil” tentang Syaikhul Akbar Ibnu Arabi (w. 1240). Kisah ini memberikan gambaran unik yang dinarasikan untuk membela Ibnu Arabi. As-Suyuthi yang amat terkenal dengan Tafsir Jalalain di Indonesia sejak lama dalam kitab ini melukiskan kesaksian, karamah, dan adab Syaikhul Akbar. Orang dengan tingkatan ibadah dan refleksi hidup sedalam ini tidak mungkin dikafirkan. Jika muncul ucapannya yang bertentangan dengan syariah, dengan melihat ibadahnya, maka paling aman adalah menakwilkannya. Begitu kira-kira narasinya.
Misalnya adalah satu kisah di mana beliau menahlilkan seorang yang selagi hidup terus-menerus melaknatinya. Begini kisah lengkapnya sebagai mana saya tuturkan ulang dari kitab as-Suyuthi.
Seorang di Damaskus mewajibkan dirinya untuk melaknati Ibnu Arabi setiap selesai shalat sebanyak 10 kali. Jadi jika wirid seorang muslim pada umumnya adalah kalimat-kalimat yang baik, orang ini justru menjadikan laknat atas Ibnu Arabi sebagai wiridnya. Ketika orang ini wafat, Ibnu Arabi justru mendatangi prosesi pengurusan jenazahnya bersama para pelawat lainnya.
Ketika beliau pulang, beliau berkumpul dengan para sahabatnya. Namun beliau tidak berbincang-bincang dengan mereka. Beliau memilih melakukan shalat berkali-kali. Ketika datang waktu makan siang, beliau disuguhi makanan. Namun, beliau tidak bergeming dan tidak makan. Beliau terus-menerus shalat. Hingga setelah shalat isya, beliau bermunajat dalam berdoa. Setelah itu beliau berbalik dan menunjukkan wajah yang sangat sumringah. Lalu beliau meminta makan.
Para sahabatnya yang heran menanyakan hal tersebut kepada Ibnu Arabi. Beliau menjawab, “Aku berketetapan kepada Allah bahwa aku tidak akan makan dan minum hingga Allah mengampuni orang yang selalu melaknatiku itu. Maka aku berzikir yang pahalanya kupersembahkan untuknya sebanyak tujuh puluh ribu laa ilaha illallah dan aku setelah selesai aku “mengetahui” Allah telah mengampuninya”.
***
Pada bagian lain kitab ini, as-Suyuthi menjelaskan situasi yang terjadi antara Imam Izzuddin bin Abdis Salam (w. 1262) dan Ibnu Arabi. Pada mulanya Izzuddin bin Abdis Salam memiliki pandangan miring terhadap para shufi pada umumnya. Beliau berpandangan sama seperti umumnya ahli fikih, yaitu mengingkari jalan para sufi.
Namun, hal ini berubah ketika beliau bertemu dengan Syaikh Abul Hasan as-Syadzili (w. 1258). Sepulang dari haji, pendiri tarekat syadziliyah ini menemui Izzuddin bin Abdis Salam dan menyampaikan salam dari Nabi saw. untuk beliau. Sejak hari itu, Izzuddin bin Abdis Salam memiliki pandangan yang baik terhadap para sufi. Bahkan beliau juga ikut majelis-majelis para sufi.
Perubahan ini juga terlihat pada sikap Izzuddin bin Abdis Salam terhadap Ibnu Arabi. Pada mulanya beliau menilai buruk Ibnu Arabi. Namun hal ini berubah setelah itu. Pada suatu ketika beliau berjalan bersama dengan salah seorang murid yang berkhidmah melayaninya.
“Tuan, engkau berjanji untuk menunjukkan kepadaku seorang Wali Qutb?” kata muridnya.
Maka ketika mereka sampai di salah satu Masjid Agung di Damaskus, Izzuddin bin Abdis Salam mengatakan, “Itulah Wali Qutb”.
Beliau menunjuk pada Ibnu Arabi yang sedang duduk di dalam masjid itu.
“Tuan, bukankah engkau mengatakan tentang dia apa yang telah engkau katakan?”, kata muridnya.
“Dia adalah Wali Qutb”, kata Izzuddin bin Abdis Salam.
Perkataan ini beliau ulang berkali-kali.
Dalam menjelaskan perubahan sikap ini, as-Suyuthi menyebutkan bahwa Izzuddin bin Abdis Salam berusaha menjaga hati para mukmin yang masih lemah yang tidak mampu memahami Ibnu Arabi melalui perkataan-perkataannya. Sehingga Izzuddin bin Abdis Salam menilai Ibnu Arabi sebagaimana penilaian yang dia katakan. Yang pada intinya adalah ajaran Ibnu Arabi harus dijauhi oleh mereka. Dan beliau juga berupaya menjaga aspek lahiriah syariat. Sedangkankan beliau sendiri sebenarnya telah sampai pada tataran yang sama dengan Ibnu Arabi, sehingga beliau tidak mengingkarinya dan menilainya sebagai Wali Qutb.
***
Mungkin juga perubahan ini terjadi karena Izzuddin bin Abdis Salam melihat karamah Ibnu Arabi. Suatu hari seseorang mendatangi beliau di kamarnya di Damaskus. Izzuddin bin Abdis Salam sedang bersama Ibnu Arabi saat itu. Dia berkata bahwa dia akan pergi ke satu daerah tertentu.
“Jangan, Arab Badui akan menangkapmu!”, larang Ibnu Arabi.
“Saya tetap harus pergi”, kata orang itu.
Maka orang itu pergi. Hingga pada satu ketika Ibnu Arabi berkata:
“Orang Badui mendatanginya dan merebut pakaiannya. Dan dia ini sedang kembali ke sini.”
Dan sampai satu ketika Ibnu Arabi berkata, “Ini dia orangnya telah kembali. Wahai fulan!”.
Maka dia masuk dan menemui kami sedangkan dia dalam keadaan tidak berpakaian. Kami, Ibnu Arabi, Izzuddin bin Abdis Salam, dan Abdul Ghaffar, sedang duduk ditempat kami.
***
Kisah kecil terakhir menjelaskan pemahaman yang sama. Ibnu Arabi memahami orang-orang yang salah paham terhadap dirinya. Orang-orang yang menurut as-Suyuthi tidak melakukan takwil atas kata-kata yang ada didalam kitab-kitab Ibnu Arabi.
Sikap permusuhan ini terjadi berulang kali ketika beliau hidup. Salah satunya, ketika Ibnu Arabi bersama muridnya berjalan bersama. Disepanjang jalan, seseorang terus-menerus mengutuk Ibnu Arabi. Namun Syaikhul Akbar tetap diam dan tidak melihat padanya.
“Wahai tuanku, tidakkah engkau melihat hal ini?”, kata muridnya.
“Kepada siapa dia berbicara?”, tanya Ibnu Arabi.
“Dia berbicara kepadamu”, jawab muridnya.
“Tidak, tidak! Dia tidak mungkin mengutukku”, jelas Ibnu Arabi.
“Bagaimana bisa demikian?”, tanya sang murid heran.
“Dia membuat membuat imajinasi sifat-sifat tercela, lalu dia mengutuk sifat-sifat tercela itu. Aku sendiri tidak memiliki sifat-sifat itu.”, tandas Ibnu Arabi.

No responses yet