Seringkali kita dihadapkan dengan persoalan yang seolah tidak menemukan jalan keluar. Bahkan tak jarang dalam hati timbul rasa penyesalan dan putus asa atas nasib yang seharusnya kita bisa raih dengan mudah pada masanya. Namun karena kita menyia-nyiakan kesempatan, jadilah kita menyesal setelah mengetahui akan “manfaat” jika kita bisa meraihnya di masa lalu. Ada seorang murid saya yang sangat cerdas dan bahkan kemampuannya berada di atas rata-rata mahasiswa yang lain. Saya berulangkali memotivasi agar dia terus belajar dan meraih beasiswa untuk segera sekolah S2. Tapi dia tidak terlalu memperhatikan nasehat saya. Ada semacam “kepercayaan” diri yang sangat besar bahwa dia bisa melakukannya tanpa butuh nasehat orang lain. Setelah belasan tahun kami bertemu kembali dia mengungkapkan “penyesalannya” tidak memperhatikan nasehat saya kala itu. “Saat itu saya bilang kepada dia, bahwa dia bisa menjadi seorang dosen yang hebat dengan kemampuan akademik dan baca kitab kitab gundulnya yang menurut saya sudah level advance. Jarang sekali kami para dosen menemukan mahasiswa yang sangat berbakat seperti dia. Tapi begitulah penyesalan selalu datang kemudian.
Dalam surat Al Baqarah kita diberi penjelasan yang begitu jelas tentang kitab petunjuk yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang bertaqwa. Ada tiga prinsip utama yang terkait dengan efektif dan tidaknya sebuah petunjuk. Yang pertama si pemberi petunjuk, kedua petunjuknya itu sendiri dan yang ketiga adalah orang yang menjadi sasaran petunjuk. Al Qur’an adalah firman Allah yang tidak ada keraguan sedikitpun di dalamnya akan kebenaran petunjuknya. , Jadi jelas Allah sebagai subjek utama yang menghendaki untuk memberi petunjuk kepada manusia. Otoritas kebenaran petunjuk yang ada dalam Al Qur’an tak terbantahkan. Namun demikian Allah masih menjelaskan bahwa tidak semua manusia mau dan bisa memahami petunjuk Nya. Karena hanya orang yang beriman dan bertaqwa saja yang mampu dan bisa memahaminya. Lantas bagaimana dengan manusia yang tidak beriman dan bertaqwa ? Apakah mereka tidak berhak mendapatkan petunjuk dan menerima kebenaran? Kalau demikian apa artinya kalau hanya manusia tertentu saja yang dapat memahami petunjuk Allah dalam Al Qur’an?
Manusia pada prinsipnya diciptakan sebagai mahluk cerdas yang sudah tertanam di dalam akal dan hati nuraninya Fitra ketaqwaan. Fitra yang sering disalahartikan dan disalahpahami sebagai bentuk kepasrahan tanpa ikhtiar. Kondisi inilah yang menjadi salah satu alasan kenapa kehidupan ummat manusia sellau diwarnai dengan cerita pembangkangan terhadap Allah. Karena itulah kemudian Allah memberikan kreteria siapakah orang yang bertaqwa itu. Yakni mereka yang percaya pada yang ghoib secara material namun sekaligus Dia bersifat Maha Ada. Keyakinan pada yang ghoib inilah yang melahirkan ketulusan penghambaan dalam menegakkan doa keselamatan, serta menginfakkan sebagian rezeki nya untuk kepentingan Allah. Inilah pondasi dasar ketaqwaan yang potensinya sudah melekat dalam diri manusia. Tidak manusia yang tidak mengenal Tuhannya, mereka sadar atau tidak sadar juga selalu berdo’a atas keselamatan dirinya dan juga terkadang memberikan pertolongan kepada orang lain. Kreteria inilah yang dimiliki para nabi sehingga mereka termasuk menjadi orang terpilih sebagai pembawa kebenaran Wahyu Allah. Maka wajar ketika Al Qur’an turun kepada Muhammad, Allah menjelaskan bahwa dia dan pengikutnya harus mengimani bukan saja apa yang turun pada dirinya, tetapi juga yang diturunkan Allah pada para nabi dan rasul sebelumnya. Serta kreteria terakhir yang juga sangat penting adalah meyakini keadilan Allah di hari akhir dimana semua amal akan diperhitungkan secara adil. #SeriPaijo

No responses yet