Sejak Adam “dihukum” dengan diturunkan menjadi penghuni dunia, setelah diciptakan sebagai “mahluk sorga”. Adam dibekali petunjuk dengan kalimat-kalimat taubat. Begitu patuh dan menyesalnya nabi Adam sehingga Allah mengampuni dan meridhai nabi Adam kembali setelah proses pertaubatan yang panjang. Namun apa yang terjadi dengan keturunan Adam? Mereka tetap terbelah menjadi dua kelompok besar. Pertama mereka yang mengikuti petunjuk Allah yang diturunkan lewat para nabi dan rasul. Kedua kelompok yang abai terhadap petunjuk Allah. Hal ini menandakan bahwa fitra suci jiwa manusia yang seharusnya tunduk dan patuh pada Sang Pencipta, tak selamanya menemukan cahaya kebenaran. Mereka tersesat karena nafsu dan bujukan iblis yang selalu menghembuskan keraguan kepada pikiran, perasaan dan juga rasa hati yang sering berubah-ubah. 

Manusia memang mahluk yang diberi potensi kecerdasan luar biasa oleh Allah. Kecerdasan ini bahkan sudah diberikan ketika manusia masih belum lahir. Potensi ini semakin “sempurna” ketika manusia harus beradaptasi dengan lingkungan dunia ketika dia lahir. Segala cara akan dia gunakan untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Ketika seorang bayi haus atau terganggu dia akan menangis keras agar ada yang memperhatikan dan memberikan bantuan. Salah itu ibu bapaknya atau orang lain. Menangis ini bahkan menjadi senjata utama manusia hingga tua. Paling tidak ketika kita sedang mengalami jalan buntu atas persoalan hidup kita sebagai orang beriman. Kita terbiasa menangis di hadapan Allah, setelah gagal menangis di hadapan manusia. Dalam konteks menghadapi problem kehidupan inilah Tuhan menurunkan kitab petunjuk Nya di setiap zaman dan atau ummat. Nah kita sebagai ummat terakhir mewarisi Al Qur’an sebagai kitab petunjuk.eaki kita selalu bertanya-tanya apakah kitab yang diturunkan seribu lima ratus  tahun lalu tersebut masih cukup relevan? Apalagi ketika dunia lebih digerakkan oleh hukum-hukum rasional dan material hasil kreasi manusia. Hukum yang seringkali dengan sengaja menjauhkan manusia dari kesadaran spiritual. Itulah kenapa sebagai ummat Muhammad kita diwajibkan mengimani kitab-kitab suci yang diturunkan kepada ummat terdahulu di samping mengimani Al Qur’an sebagai kitab ummat Islam yang terupdate paling akhir. 

Dengan tegas Al Qur’an menyaratkan keimanan dan keislaman bagi siapapun yang ingin mendapatkan hikmah kebijaksanaan dan kebenaran dari kitab petunjuk tersebut. Karena tanpa karakter keimanan dan keislaman tersebut akan sulit memahami petunjuk yang tersurat dan tersirat di dalamnya. Dalam surat Al Baqarah dengan tegas dan jelas bahwa petunjuk itu hanya bisa dipahami pada mereka yang mengoptimalkan potensi fitra keimanan terhadap yang ghaib (tidak tampak secara material dan rasional). Sebab tanpa pondasi keimanan maka akan sulit melahirkan dampak positif bagi diri dan lingkungannya. Pengorbanan tanpa pamrih, perjuangan tanpa henti, ketulusan tanpa batas hanya bisa dilakukan oleh mereka yang begitu yakin dengan balasan atas amal baik  mereka yang “bernilai abadi”. #SeriPaijo

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *