Pada waktu itu, di gedung (namanya lupa) yang berlokasi di sebelah timur masjid Unair, dekat  rektorat lama diadakan suatu acara mahasiswa (saat ini gedung itu nampaknya sudah dibongkar).

Karena sedang berlangsung acara, maka banyak mahasiswa yang berseliweran. Saya berjalan menuju gedung itu bersama teman aktivis masjid (saya lupa, kalau gak salah ingat  dengan Mas Muhammad Syamsu Rijal ) melihat seseorang yang bukan mahasiswa berada di dekat pintu masuk  gedung tersebut. 

Orang itu dengan santainya kebal-kebul, merokok. Entah bagaimana kok ujug-ujug saya emosi tanpa selow dulu. Padahal selain saya sedang puasa, saya juga tidak merokok, sehingga sama sekali tidak kepengen merokok di saat ada orang yang lagi nyedot rokok.Tanpa basa-basi, saya datangi orang itu dan saya tegur keras. 

Dia menjawab bukan beragama Islam. Malah saya lebih emosi  lagi. Entah ucapan apa yang saya keluarkan, yang jelas rokoknya lalu dimatikan. Saya masih ingat ada teman kuliah yang setelah lulus menjadi pemikir bebas, yakni Mas Anom Surya Putra yang malah secara diam-diam mendukung atau malah “memprovokasi” saya. 

Tentu saat itu saya merasa bangga karena bisa menegur orang yang merokok di saat Ramadhan. Selanjutnya  kisah ini saya sampaikan ke teman Hizbut Tahrir yang saat itu “menguasai” masjid Unair. Tentu teman-teman merasa bangga dengan “keberanian” saya yang masih semester awal. Lalu bagaimana sikap saya saat ini?

Tentu sikap emosional adalah salah. Apalagi yang saya tegur ternyata tidak beragama Islam. Namun juga kurang pas bila ada orang yang menyebarkan asap rokok di saat banyak orang di sekitarnya berpuasa. Kalau sekedar merokok saja tentu bisa ditahan dengan mencari lokasi dan posisi yang enak serta nyaman, tidak mengganggu yang lain.

Narasi di atas bukan berarti bisa ditarik konklusi bahwa saya melarang orang makan di warung atau restoran pada siang hari di saat Ramadhan. Tentu tidak begitu. Karena kalau saya melarang, berarti saya punya cara pandang membabi buta dan berkaca mata kuda. Karena di warung itu banyak orang kecil bekerja, dan di warung itu juga ada orang yang berhalangan alias uzur.   

Sekalipun demikian, saya tidak dalam posisi membebaskan mereka yang bekerja untuk tidak puasa, karena semua tergantung kemampuan diri. Banyak saya jumpai orang desa yang bekerja di sawah dan tentu kena panas  matahari, tapi mereka tetap kuat berpuasa.

Bagi saya, masalahnya hanya bagaimana kita bermasyarakat bisa rukun dan tepo-sliro atau saling menghargai. Hal itu adalah nilai yang dijunjung tinggi nenek moyang kita. 

Dengan begitu, ketika ada warung yang tetap buka dan dengan sedikit ada kain penutup (selambu) saya kira adalah “local wisdom” sebagai penanda bahwa si pemilik warung dan yang makan memahami yang lain yang sedang menahan makan-minum. Tentu penanda bisa pakai model lain sesuai dengan situasi dan kondisi.

Manfaat lain tentang tepo-sliro yang tidak kalah penting adalah membantu anak-anak kita yang sedang “berlatih” berpuasa. Di era sekarang,  mereka bergelut dengan godaan berpuasa secara lebih beragam, terutama sajian makanan-minuman yang menarik. Alangkah bijaknya kalau kita membantu meringankan beban mereka agar tidak lebih tergoda makanan serta melatih tepo-sliro.

Ingat ya, saya tidak dalam posisi ingin dihargai karena sedang  berpuasa. Karena bagi saya, puasa atau tidak puasa ya sama saja. Sama-sama lapar atau sama-sama kenyang, atau sama-sama saja. Hal yang jelas, saya punya pengalaman musafir yang boleh tidak puasa. Kebetulan saya ingin mencoba makan siang hari di bulan Ramadhan. Saat mau masuk warung, saya merasa gak enak, lalu mencari warung yang masuk gang dan sepi, eh masih merasa gak enak. Akhirnya gak jadi ke warung.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *