Saya menemukan dua buku dengan judul yang sama, Islam-The Straight Path. Yang satu disusun oleh Kenneth W. Morgan, lebih tepat sebagai editor karena buku itu merupakan kumpulan tulisan orang lain. Anak judul buku ini, Islam Interpreted by Muslim, yakni Islam menurut pemahaman beberapa sarjana yang selain mewakili bidang keahlian mereka dalam Islam juga mewakili berbagai negara. Buku ini diterbitkan oleh The Ronald Company Press tahun 1958 yang karenanya telah menjadi klasik. Adapun buku yang satu lagi ditulis oleh John L. Esposito, Islam: The Straight Path (Oxford and New York: Oxford University Press, 1994).
Tulisan ini akan menguraikan buku pertama dari Kenneth W. Morgan, namun sekilas dapat dibandingkan dengan buku John L. Esposito. Ada persamaan antara buku Morgan dan buku Esposito, barangkali memang tercermin dari judul keduanya. Bahwa keduanya sebagai upaya memperkenalkan ajaran dan praktik Islam dari awal mulanya hingga praktik kontemporernya.
Melalui buku ini, John L. Esposito sendiri sukses menelusuri perkembangan Islam dan pengaruhnya terhadap sejarah dan politik dunia. Ia menulis dengan gamblang dan dengan cakupannya yang luas. Buku yang telah dicetak pada edisi kelima ini memberikan wawasan yang tajam tentang salah satu agama yang bagi dunia Barat paling sedikit dipahami.
Bila dibandingkan dengan karya Morgan, yang karena ditulis lebih ke sini di mana terjadi banyak perubahan di dunia Islam dan Barat, buku Esposito ini lebih memberikan perspektif Islam modern yang kaya dalam konteks reformasi dan kebangkitan kembali Islam dan fenomena ekstrimisme yang membentuk pandangan dunia Islam di abad ke-21. Jadi buku Esposito ini lebih upto date diabandingkan buku Morgan dalam aspek sejarah dan budaya Islam, meskipun keduanya sama-sama menyajikan Islam mulai dari prinsip-prinsip dasarnya seperti keimanan dan praktik sejak dari awal pembentukannya hingga masa modern.
Yang cukup menggembirakan bagi kita, kedua buku di atas sama-sama menggunakan judul Islam The Straight Path, yang artinya Islam Jalan Lurus yang barangkali keduanya terilhami oleh ayat Alquran, “al-sirat al-mustaqim” yang sering diartikan sebagai jalan lurus. Barangkali juga judul buku tersebut sebagai bentuk pengakuan keduanya, setidaknya secara akademik, bahwa Islam adalah agama yang benar. Kata jalan lurus itu dalam Alquran banyak ditafsirkan sebagak jalan yang benar. Maulana Muhammad Ali dalam The Holy Qur’an ketika menafsirkan Q.s. 2:5, dia menjelaskan bahwa jalan yang lurus adalah jalan yang benar, jalan yang mengantarkan manusia pada kesempurnaan.
Abdullah Yusuf Ali menafsirkan jalan lurus (the straight way) dalam ayat tersebut seringkali sebagai jalan yang sempit dan terjal yang dijauhi manusia. Namun, jalan inilah jalan orang-orang yang berjalan dalam terang kasih karunia Tuhan, sedangkan mereka yang tidak melalui jalan ini adalah yang berjalan di dalam kegelapan murka Tuhan (The straight Way is often the narrow way or the steep way, which many people shun….the people who walk in the light of God’s grace, anf which are those that walk in the darkness of Wrath).
Mufasir klasik Ibn Kathir mengartikan jalan yang lurus adalah jalan yang terang, jalan yang selamat, yakni Kitab Allah, Islam itu sendiri. Karena itu, judul Islam The Straight Path menunjukkan esensi Islam sebagai jalan yang benar, jalan yang diterangi cahaya karunia Allah, jalan yang menyelamatkan, yang menuju kesempurnaan manusia.
Seperti sudah disampaikan tadi, tulisan ini akan membicarakan buku Islam The Straight Path-nya William Morgan. Penyusun buku ini, lahir di Great Falls, Montana pada 1908 dan meninggal di Winchester pada 2011. Dia adalah Profesor sejarah perbandingan agama di Colgate University.
Selain Islam The Straight Path ia juga menyusun The Religion of the Hindus (Ronald Press, New York, 1953 dan Delhi, 1987); The Basic Beliefs of Hinduism (The Ronald Press Company, 1953); The Path of the Buddha-Buddhism Interpreted by Buddhists (Ronald Press, New York 1956); Asian Religions: An Introduction to the Study of Hinduism, Buddhism, Islam, Confucianism, and Taoism by Kenneth W. Morgan (The American Historical Association; The MacMillan Company, 1964) dan Zen Comments on the Mumonkan by Zenkei Shibayama New York: Harper & Row, 1974).
Buku Kenneth W. Morgan, Islam The Straight Path merupakan kumpulan esai yang ditulis oleh para sarjana Islam terkemuka untuk pembaca Barat. Bab-bab buku ini menjelaskan asal-usul, gagasan, gerakan dan keyakinan Islam, dan berbagai manifestasinya di Afrika, Turki, Pakistan, India, Cina, dan Indonesia.
Dalam pengantarnya Kenneth W. Morgan mengatakan bahwa keyakinan Islam, dan konsekuensi dari keyakinan itu, dijelaskan dalam buku ini oleh para sarjana Muslim yang taat. Buku ini bukan studi perbandingan, atau upaya untuk membela Islam dari apa yang dianggap Muslim sebagai kesalahpahaman Barat tentang agama mereka. Ini hanyalah sajian singkat dari sejarah dan penyebaran Islam dan tentang keyakinan dan kewajiban Muslim seperti yang ditafsirkan oleh cendekiawan Muslim terkemuka di zaman modern.
Ada sebelas sarjana dari berbagai negara: Turki, Mesir, Syiria, Libanon, Irak, Iran, Indonesia, dan Cina untuk menjadi juru bicara dunia Islam pada masa modern, yang tulisannya dimuat dalam buku ini. Mereka adalah Muhammad Abdullah Draz, Profesor Ilmu Tafsir Al-Azhar Kairo; Shafiq Ghorbal, sarjana Mesir yang sangat dihormati; Mahmud Shaltut, Profesor Ilmu Perbandingan Hukum Universitas Al-Azhar Kairo; A.E. Affifi, Mahaguru Filsafat Islam Universitas Iskandariah, Mesir; Mahmood Shehabi, mahaguru Ilmu Fikih dan Filsafat Timur Universitas Teheran; Ishak Musa Husayni, Mahaguru Sastra Arab Universitas Kairo Mesir; Hasan Basri Cantai dari Turki; Mazheruddin Siddiqi dari Pakistan, Dawood C.M. Ting dari Cina; P.A. Djajadiningrat, Mahaguru Fakultas Sastra Universitas Indonesia dan Mohammad Rasyid, seorang sarjana Islam terkemuka dari Indonesia.
Sesuai dengan jumlah penulisnya, maka buku ini terdiri dari sebelas bab. Bab 1: Asal Usul Islam oleh Mohammad Abd Allah Draz. Bab ini memaparkan bahwa jalan lurus Islam membutuhkan ketundukan kepada kehendak Tuhan seperti yang diungkapkan dalam Alqur’an, dan pengakuan Muhammad sebagai Utusan Tuhan yang dalam kehidupan sehari-harinya menafsirkan dan mencontohkan wahyu ilahi yang diberikan melalui dia. Orang beriman yang mengikuti jalan lurus itu adalah seorang Muslim.
Bab 2: Ide dan Gerakan dalam Sejarah Islam, oleh Shafik Ghorbal. Penulis mendeskripsikan sejarah dan masalah masyarakat Islam dari zaman nabi Muhammad hingga jaman modern. Juga kompilasi statistik jumlah Muslim di berbagai negara terdaftar.
Bab 3: Keyakinan Islam dan Kode Hukum oleh Mahmud Shaltout. Penulis berpendapat bahwa telah dibuktikan bahwa Alqur’an tidak mungkin merupakan karya Muhammad atau manusia lain, tetapi telah diberikan kepada Nabi melalui Wahyu Suci. Tidak ada keraguan sama sekali tentang hal ini. Dengan demikian, keyakinan Islam itu Benar.
Bab 4: Interpretasi Rasional dan Mistik Islam oleh A. E. Affifi. Bab ini membahas interpretasi yang diperoleh dari tulisan-tulisan mazhab Muslim klasik – mistik dan rasionalis, termasuk para teolog dan filsuf – yang biasanya tidak dianggap oleh mazhab ortodoks sebagai Muslim yang ketat, tetapi yang pengaruhnya terhadap pemikiran Muslim dan religius praktis masih hidup terasa bahkan sampai hari ini.
Bab 5: Syiah, oleh Mahmood Shehabi. Bab ini menjelaskan bahwa agama adalah seperangkat aturan, regulasi, dan rencana yang telah Tuhan tetapkan untuk membimbing kehidupan manusia sedemikian rupa sehingga dia akan bahagia di dunia dan akhirat. Orang yang religius adalah orang yang tunduk pada aturan Tuhan dan mematuhinya.
Bab 6: Kebudayaan Islam di Negara-negara Arab dan Afrika oleh Ishak M. Husaini. Bab ini menjelaskan bahwa interaksi antar kelompok umat Islam dipengaruhi oleh keragaman budaya yang luas di berbagai negara Islam. Keragaman ini bukan karena variasi dalam lingkungan geografis atau peradaban yang berbeda, tetapi hanya karena perbedaan sektarian (aliran) yang diakui.
Bab 7: Kebudayaan Islam di Wilayah Turki oleh Hasan Basri Çantay. Bab ini merupakan ringkasan yang sangat baik tentang sejarah, kepercayaan, dan keragaman Islam, khususnya di wilayah Turki. Penulis menjawab pertanyaan: “Mengapa Islam begitu terbelakang hari ini?”
Bab 8: Kebudayaan Muslim di Pakistan dan India oleh Mazheruddin Siddiqi. Ia menjelaskan sejarah Islam di Pakistan dan India – pertumbuhan dan perkembanganya – dan situasi saat ini. Islam, dengan kesederhanaan keimanan dan kejelasan doktrin, membuat kesan yang luar biasa dalam pikiran Hindu, dan dalam dua puluh lima tahun pertama setelah kedatangannya pada abad ke-7 M.
Bab 9: Kebudayaan Islam di Cina oleh Dawood C. M. Ting. Bab ini menjelaskan pasang surutnya Islam di Cina. Menurutnya, debagian besar Muslim Tionghoa adalah keturunan Arab, Iran, atau Turki yang datang ke Tiongkok melalui berbagai jalur perdagangan, kawin campur dengan Tionghoa dan mengadopsi adat istiadat Han. Dengan demikian, kedua budaya tersebut bercampur yang menghasilkan banyak kontribusi unik dari Tiongkok. Islam berinteraksi dengan Konfusianisme, Taoisme dan Budha.
Bab 10: Islam di Indonesia oleh P. A. Hoesein Djajadiningrat. Penulis menguraikan bahwa catatan sejarah Islam paling awal di Indonesia berasal dari Marco Polo (A.D. 1292) ketika dia singgah di Perlack di pantai utara Sumatera ketika dia dalam perjalanan kembali ke Venesia. Dia menemukan orang-orang di sana telah masuk Islam oleh pedagang “Saracene”. Saat ini Indonesia memiliki populasi Muslim terbesar, kebanyakan Sufi, dengan ilmu kebatinannya yang khas.
Bab 11: Persatuan dan Keragaman dalam Islam oleh Mohammad Rasjidi. Ia menjelaskan bahwa teks Alqur’an masih dan akan selalu valid, tetapi kita harus memahaminya berdasarkan pengetahuan saat ini. Saat ini, ada empat kecenderungan utama di dunia Islam – ortodoksi, reformasi, tasawuf, dan Syiah. Salah satu tugas besar yang dihadapi para ulama di zaman kita adalah pemeriksaan ulang yurisprudensi Islam (fiqh) dalam terang nalar dan pengetahuan modern.
Seperti dikatakan Kenneth W. Morgan dalam pengantarnya bahwa buku ini bukan suatu usaha untuk mempertahankan Islam dari apa yang oleh kaum Muslim sebagai kesalahpahaman Barat. Buku ini ialah gambaran singkat tentang iman dan praktik Islam. Bahkan, entah ia hendak mengambil hati dunia Barat, dalam sebuah paragraf yang ditulis Dr. Ghorbal secara gamblang ia mengakui pengaruh peradaban Barat terhadap Islam. Ia mengatakan,
“Pengaruh [peradaban Barat terhadap Islam] begitu besar bahkan ketika orang-orang Islam telah memperoleh kembali kemerdekaan politik mereka, mereka menemukan bahwa kembali ke cara hidup tradisional tidak mungkin-bahkan jika itu diinginkan. Perlu ditekankan bahwa pengembalian seperti itu tidak dianggap diinginkan bahkan ketika basa-basi diberikan kepada tradisi mulia di masa lalu. . . . Harus disadari bahwa meskipun sejarah panjang Islam telah mewariskan kepada zaman modern sebuah warisan yang kaya, tidak ada masyarakat yang dapat memenuhi kebutuhan zaman kita hanya dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di dalamnya. Masyarakat Islam — serta semua masyarakat lainnya — harus menyadari kekurangan sumber dayanya dan kewajibannya terhadap kemanusiaan secara luas. Kepemilikan agama dunia bukan hanya hak istimewa, itu juga (sebagai) tanggung jawab.”
Paragraf di atas secara eksplisit berisi pengakuan, setidaknya bagi Shafiq Ghorbal, atas utang budi kaum Muslim terhadap Barat yang kecuali dalam aspek iman dan ritual, semua aspek kehidupan Muslim saat ini dipengaruhi dan diwarnai peradaban Barat. Akan cukup adil juga bila Dr. Shafiq menulis bagaimana utang budi Barat terhadap Islam di Abad Tengah Islam yang sedikit banyak telah membangunkan dunia Barat khususnya Eropa dari tidur panjangnya. Namun, karena buku ini ditulis untuk lebih ditekankan pada Islam masa modern dan bukan sebagai upaya apologis sebagaimana banyak ditulis para Islamis, maka agak tepat juga para penulisnya khususnya Dr. Syafiq tidak menyinggung kontribusi Islam di masa lalu.
Secara keseluruhan melalui buku ini, Kenneth W. Morgan ingin menunjukkan pula sikap Barat yang simpatik terhadap Islam yang mungkin ia aku sikap simpatik itu sangat minim di dunia Barat bila melihat studi kesarjanaan Barat tentang Islam di masa lalu. Kenneth W. Morgan memang menekankan sikap simpatiknya dalam studi agama-agama yang ia lakukan sebagaimana ia katakan dalam buku lainnya,
“Sympathetic study of religious ways other than one’s own helps religious seekers to see the realities of their own path more clearly . . .” (Studi simpatik tentang jalan-jalan religius lebih merupakan cara seseorang membantu para pencari agama untuk melihat realitas jalan mereka sendiri dengan lebih jelas. . .” (Kenneth Morgan, Asian Religions: An Introduction to the Study of Hinduism, Buddhism, Islam, Confucianism, and Taoism (1964).
Bagi Morgan, tugas pertama dalam mempelajari agama Asia termasuk Islam adalah mencoba untuk melihat agama seperti yang dilihat oleh orang yang mengimaninya. Ia mengatakan, “Jelas penilaian kita tidak akan valid jika kita melihat agama dari sudut pandang sarjana Jerman, atau Prancis, atau Amerika, yang diwarnai oleh bias dari kesarjanaan Kristen, Yahudi, demokratis, kolonial atau anti-kolonial. ” (Kenneth Morgan, 1964).
Dalam konteks agama Hindu ia menulis, “. . .meskipun ditujukan terutama untuk pembaca Barat yang mencari pemahaman simpatik tentang Hinduisme, harus tetap menarik bagi umat Hindu itu sendiri.” (Morgan, 1964).
Dengan demikian, buku Islam The Straight Path selain berisi uraian tentang Islam menurut penafsiran para sarjana Muslim
dalam aspek keimanan, hukum, sejarah Islam dan aspek-aspek lainnya, buku ini merupakan wujud sikap simpatik Morgan terhadap Islam sebagai salah satu agama besar dunia. Wallahu a’lam. Pagaulan, 11 April 2021.

No responses yet