Catatan Singkat Pesantren Mahir Arriyadl Ringinagung Pare Kediri
20 tahun yang lalu, pertama kalinya kami mengenal Pesantren Ringinagung. Tepatnya pada hari Rabu 31 Mei 2001. Waktu itu, selepas lulus SMPN 1 Tanon Sragen, bapak, ibu, dan kakak mengantarkanku ke pesantren yang didirikan pada tahun 1870 oleh Raden Sepukuh, salah satu keturunan Keraton Solo. Dalam perjalanannya, gelar ningrat ditanggalkan oleh Raden Sepukuh, lebih memilih panggilan Imam Nawawi. Konon, nama ini disematkan oleh teman-temannya, karena Raden Sepukuh yang masih memiliki garis keturunan ke Sunan Kalijaga itu sudah berusia tua, tetapi masih tetap nyantri dan belum menikah. Sebagaimana Imam al-Nawawi (631-676 H) yang masyhur dikenal memilih melajang untuk fokus berkhidmah kepada ilmu.
Sepanjang perjalan, hampir 8 jam, ibu sesantiasa memegang erat tangan saya. Waktu itu, saya belum tahu mengapa ibu berbeda seperti biasa. Saat istirahat makan siang, beliau menyuapi aku sebagaima waktu kecil dulu. Hanya saja, anehnya beliau tidak makan sesuapun. Terkadang, matanya berkaca dan suaranya pelan lirih. Selang beberapa tahun kemudian, baru saya mengerti bahwa ibu sedang berjuang melawan kecamuk perasaan berat melepas anaknya jauh belajar di pesantren. Hal ini sering saya dapati ketika orang tua santri mengantar putra-putrinya ke pesantren. Apalagi di hari pertama kali mondok.
Setelah beberapa kali menanyakan rute jalan menuju Ringinagung, tepatnya waktu Ashar, kami tiba di pesantren yang kini dikenal dengan nama pesantren Mahir Arriyadl. Dengan arahan Kiai Tanwirul Qulub, kiai di kampung saya, bapak dan ibu langsung menyowankan saya ke Kiai Zaid Abdul Hamid (w.2009), salah satu pengasuh pesantren Ringinagung yang disepuhkan. Kiai Zaid adalah salah satu murid Hadlaratussyaikh Hasyim Asy’ari (1871-1947). Satu hal yang masih saya ingat waktu itu adalah cara Kiai Zaid menyambut tamu. Meskipun tidak pernah mengenal sebelumnya, beliau seakan akrab. Dengan ramah bercakap-cakap dengan bahasa Jawa kromo halus. Ini adalah pelajaran pertama yang saya petik dari beliau. Memuliakan tamu. Siapapun itu.
Sejak hari itu, Rabu sore 31 Mei 2001, saya diterima menjadi salah satu di antara ribuan santri Ringinagung. Berkesempatan mendapatkan bimbingan dari puluhan masyayikh dan dewan asatidz. Belajar ragam ilmu agama mulai dari dasar, kelas 4 Ibtidaiyah Madrasah al-Asna hingga lulus jenjang Aliyah tahun 2009. Jika ada sebagian teman yang bertanya, kenangan indah apa dalam hidup anda? Tanpa ragu, saya menjawab bahwa pernah berkesempatan nyantri di Ringinangung adalah salah satu anugerah terindah dalam hidup. Tidak hanya keberkahan keilmuan yang saya petik, namun juga suri teladan laku hidup dari dewan masyayikh.
Semoga.

No responses yet