Pada beberapa kasus, agama pun dapat dianggap sebagai salah satu faktor pemicu konflik, misalnya sebagai kasus kekerasan atau terorisme, hal tersebut tidak hanya terjadi pada satu agama, namun hampir pada semua agama. Lalu mengapa agama sebagai sebuah nilai spiritualitas yang seharusnya menjadi sumber perdamaian dan penyejuk hati manusia dapat menjadi sumber konflik, penyalahgunaan teks agama, sering kali menjadi dasar alasan kenapa konflik tersebut dapat terjadi, pemahaman akan teks kitab suci yang berbeda-beda malahan menimbulkan kegaduhan dan kekerasan,  

Sementara itu konflik transnasional sendiri jika dirangkum dari berbagai pengertian dapat diartikan  sebagai suatu bentuk  suatu proses sosial antara dua pihak atau lebih  dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan cara menghancurkannya, konflik ini dapat terjadi karena banyak alasan, seperti salah satu contohnya Konflik atas nama keagamaan bisa didefinisikan sebagai perseteruan atau pertikaian yang banyak terjadi di daerah Jazirah Arab, Benua Afrika, bahkan Asia dikarenakan munculnya munculnya beragam kelompok yang mengatas namakan keagamaan namun mengedepankan sikap yang bertentangan dengan sikap beragama itu sendiri yang biasanya mengedepankan perdamaian, bukannya kekerasan.

KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada suatu kesempatan pernah mengatakan bahwa awal mula dari konflik keagamaan yang terjadi di Indonesia maupun internasional biasanya muncul akibat adanya pendangkalan pemahaman agama yang dilakukan oleh para pemeluk agama. Selain itu, formalisasi ajaran agama menjadi hukum positif juga rawan memicu konflik keagamaan di Indonesia.   Menurut Gus Dur, pengaruh paham agama transnasional yang diimpor ke Indonesia juga sangat berpengaruh terhadap munculnya konflik keagamaan yang ada di Indonesia. Paham agama transnasional ini pada umumnya ingin mengahancurkan sekat-sekat nasionalisme dan kebudayaan setempat, yang jelas hal ini rawan sekali memancing konflik keagamaan di Indonesia. (https://www.nu.or.id/post/read/114890/penemuan-enam-jenis-konflik-keagamaan-di-indonesia).

Sebetulnya telah disepakatinya Pancasila sebagai ideologi dan falsafah hidup bangsa indonesia juga diterima oleh Nahdlatul Ulama (NU). Pada Munas Ulama 1982, NU menerima paham dasar Pancasila sebagai asas dalam organisasi. Pada muktamar NU yang diselenggarakan di Situbondo tahun 1980 menyatakan Pancasila sudah final. Hal ini diperkuat dengan pernyataan barisan Rais Aam Pengurus Besar NU KH Achmad Siddiq yang secara gamblang menyatakan Pancasila merupakan ideologi dan dasar negara yang menjadi asas bangsa Indonesia (https://tirto.id/menjaga-rumah-pancasila-dari-ancaman-ideologi-islam-transnasional-d9qY).

Beberapa contoh konflik transnasional terjadi karena pemahaman yang menodai atau menyimpang dari agama itu sendiri, pemahaman yang radikal, menganggap yang dipercayainya paling benar, sedang yang lain salah bahkan tidak layak ada, juga pemahaman yang liberal, bebas semaunya tanpa mengikuti kaedah yang sudah  ada.

Konflik agama sendiri di indonesia pada saat ini merupakan masalah yang cukup[ rumit, negara kita memiliki keberagaman, suku ras dan kepercayaan. Perbedaan karakter yang hadir dari keberagaman latar belakang tersebut tentulah menimbulkan pola pikir yang otomatis berbeda dan tidak mungkin untuk disamakan semuanya. Walaupun banyaknya konflik sering muncul di indonesia, dimata dunia warga negara Indonesia tetap dapat berjalan beriringan atau damai dan terkenal demokratis. 

Sementara konflik pada antar umat beragama umumnya tidak murni disebabkan oleh faktor agama itu sendiri melainkan faktor lain pun turut berpengaruh seperti ekonomi, politik dan sosial yang kemudian diagamakan.  

Padahal islam nusantara sederhananya hanya sebatas mengamalkan rasa cinta pada tanah air yang banyak diajarkan para kiai sepuh Nahdlatul Ulama yang dijadikan rujukan dalam mempelajari islam. 

Namun semakin kesini, dengan nilai-nilai perdamaian, kerendahan hati dan penghargaan budaya yang semakin ditebarkan islam nusantra, membuat banyak umat islam dari negara lain merasa tertarik, karena selain menjunjung tinggi sikap toleransi, islam nusantara juga menghargai produk budaya setempat tanpa perlu merasa menjadi lawan apalagi menghancurkan.

Sedangkan konflik internal beragama islam di indonesia banyak terjadi seakan ingin mengahancurkan sekat-sekat nasionalisme dan kebudayaan setempat, entah tujuan nya apa, namun dilihat, nasionalisme dan kebudayaan seakan menjadi halangan yang bagi apa yang hendak disebarkan oleh pembuat konflik-konflik tersebut. Padahal semangat nasionalisme yang tinggi dan beragam kebudayaan yang dimiliki indonesia adalah beberapa dari sekian pondasi kuat yang membuat indonesia merdeka, kaya akan keberagaman dan disegani sebagai negara kuat yang dapat mempertahankan itu semua.

Sedangkan islam nusantara sebagaimana dijelaskan  KH Prof. Said Aqil Siroj, bahwa Islam Nusantara bukanlah agama baru, bukan juga aliran baru. Islam Nusantara adalah pemikiran yang berlandaskan sejarah Islam masuk ke Indonesia tidak melalui peperangan, tapi kompromi terhadap budaya (https://news.detik.com/berita/d-4133868/heboh-islam-nusantara). Islam nusantara sebagaimana dijelaskan para kiai sepuh pada beberapa kesempatan, mampu untuk menjadi contoh ajaran islam yang penuh cinta kasih dan rasa saling menghormati. Islam nusantara yang dijelaskan banyak kiai sepuh, merupakan memiliki basis teologi Asy’ariyah, sedangkan  madzhab fiqihnya Syafi’i. Pandangan tasawufnya mengikuti Junaid al-Baghdadi dan al-Ghazali. Secara sederhananya, Islam Nusantara itu Islam yang diamalkan dalam wadah budaya Nusantara, sebagaimana sudah dijalankan oleh para warga NU selama ini di indonesia.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *