Oleh: KH Husen Muhammad
Makna ayat al-Quran
Untuk menjawab persoalan ini, Syeikh al-Kurani mengulas panjang lebar sambil mengutip sejumlah sumber legitimasinya dari al-Qur’an, Hadits Nabi dan pandangan sejumlah tokoh otoritatif. Syeikh al-Kurani antara lain menyebut beberapa sumber yang menyatakan bahwa :
ان للقران ظهرا وبطنا وحدا ومطلعا
“setiap ayat al-Qur’an mengandung makna lahir, batin, had dan mathla’”.
Imam al-Ghazali dalam Ihya menyebut kata-kata itu sebagai hadits Nabi riwayat Ibnu Hibban dalam Sahihnya. Sebagian orang menyebutnya sebagai kata-kata sahabat Nabi: Ali bin Abi Thalib.
Riwayat yang lain menyebutkan :
“القرآن يحوى سبعة وسبعين الف علم ومائتى علم إذ كل كلمة علم. ثم يتضاعف ذلك أربعة اضعاف إذ لكل كلمة ظاهر وباطن وحد ومطلع”.
“Al-Qur’an mengandung 77.200 ilmu. Sebab setiap kata adalah ilmu. Lalu dikalikan 4, karena setiap kata mempunyai makna zahir, batin, had dan “mathla”.
Lalu apakah makna empat kata : dhahir, bathin, had dan mathla’ tersebut?. Syeikh al-Kurani dalam buku ini menyebutkan beberapa tafsir atasnya, antara lain dari Jalal al-Suyuthi. Katanya :
Zhahir adalah apa yang nampak. Bathin adalah yang samar bagai ruh yang suci yang tersembunyi. Had adalah pembatas, bagai “barzakh”, jembatan yang mengantarkan makna lahir ke makna batin. Mathla’ adalah makna yang mengantarkan kepada pengetahuan tentang hakikat. Tafsir lain dikemukakan oleh Sufi besar Abd Allah Abu al-Harits al-Muhasibi mengatakan: “Dhahir adalah bacaannya (tilawah), bathin adalah ta’wil, had adalah puncak pemahaman dan mathla’ adalah melampaui batas, ekstrim dan kedurhakaan”.
Sulami (w.937), sufi terkemuka lain mengatakan :
“ما من أية الا ولها اربعة معان: ظاهر وباطن وحد مطلع” فالظاهر التلاوة, والباطن الفهم, والحد احكام الحلال والحرام, والمطلع هو مراد الله تعالى من العبد بها
“Dhahir adalah bacaannya, bathin adalah ta’wil, had adalah hukum halal-haram dan mathla’ adalah kehendak Tuhan kepada hamba-Nya”.
Berbeda dengan kedua tokoh besar ini, al-Syeikh al-Akbar Muhyiddin ibn ‘Arabi mengatakan :
ان الظهر هو التفسير والبطن هو التأويل والحد هو ما يتناهى اليه الفهم من معنى الكلام, والمطلع ما يصعد اليه منه فيطلع على شهود الملك العلام
“Dhahir adalah tafsir, bathin adalah ta’wil, had adalah puncak pemahaman manusia dan mathla’ adalah puncak pengetahuan yang dengannya seseorang mencapai kondisi dapat menyaksikan Tuhan”.
Syeikh al-Kurani menambahkan bahwa makna bathin sendiri bahkan mengandung sampai tujuh tingkatan bahkan sampai tujuh puluh.
Kata lain dari semua itu adalah bahwa makna sebuah teks al-Qur’an sangatlah multikompleks, multi dimensi dan bahkan tidak terbatas.
Sufi agung Syeikh Abd Allah Sahl al-Tustari (w. 896) mengatakan:
لو اعطى العبد بكل حرف من القران الف فهم لم يبلغ نهاية ما اودعه الله فى اية من كتابه لانه كلام الله. وكلامه صفته. وكما لا نهاية لله فكذلك لا نهاية لفهم كلامه. وانما يفهم كل بمقدار ما يفتح الله عليه
“Andaikata seorang hamba Allah dianugerahi seribu pemahaman atas satu huruf al-Qur`an, niscaya dia tidak akan mencapai pemahaman atas maksud Tuhan yang diungkapkan dalam kitab suci-Nya. Karena ia adalah Kalamullah. Kata-kata Tuhan adalah Sifat-Nya. Manakala Tuhan Maha Tak Terbatas, maka kata-kata-Nya juga tak terbatas. Apa yang dapat dipahami oleh masing-masing orang adalah sebatas apa yang dianugerahkan Allah kepadanya.”
(Bersambung)
02.04.19
HM

No responses yet