Dalil Al-Qur’an

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan jangan engkau mengikuti apa yg tidak engkau ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggung jawaban”. (QS. al-Isra’ : 36)

Larangan berdasarkan dhon

Menurut Abul Fida Al-Hafizh Al-Muhaddits Imaduddin Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi  Asy-Syafi’i atau  Imam Ibnu Katsir rahimahullah (1301 – 1372 M di Damaskus, Suriah) dalam kitab Tafsir Al-Qur’anul Azhim atau Tafsir Ibnu Katsir,  Allah subhanahu wa ta’ala melarang mengatakan sesuatu tanpa pengetahuan, bahkan melarang pula mengatakan sesuatu berdasarkan dhan (dugaan) yg bersumber dari sangkaan dan ilusi.

Banyak orang melakukan sesuatu tanpa ilmu, tanpa pengetahuan sehingga apa yg dikerjakan menjadi tidak berkualitas, bahkan cenderung menyimpang.

Itulah sebabnya perbuatan jangan hanya ikut2an. Sesungguhnya hal itu berbahaya terhadap dirinya sendiri maupun orang lain. Apalagi, setiap perbuatan apapun akan dimintai pertanggungjawabannya besok di kehidupan akhirat.

Dengan mengikuti ayat ini, kita tidak akan berbicara tentang sesuatu yg tidak kita pahami, apalagi sok tahu terhadap sesuatu, dampaknya akan merugikan dirinya dan orang lain.

Hikmah dari ayat ini juga memberikan batasan2 hukuman, karena banyak kerusakan yg disebabkan oleh perkataan yg tanpa dasar. Janganlah kamu mengikuti perkataan dan perbuatan yg tidak kamu ketahui ilmunya, dan janganlah kamu mengucapkan, aku melihat ini padahal aku mendengar ini padahal kamu tidak mendengarnya. 

Bacalah ayat diatas dgn seksama, “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabnya”

Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui ilmunya, karena Allah Ta’ala akan menanyakan anggota badan ini pada hari Kiamat, tentang apa yg telah di ucapkan oleh pemiliknya, atau yg dikerjakannya, maka dia akan bersaksi degn apa yg dia ucapkan, atau yg dikerjakan dari perkataan dan perbuatan yg dilarang.

Tidak boleh berkata dusta atau berbuat ngawur tanpa didasari oleh ilmu, karena dapat menyebabkan kerusakan. Dan Allah Ta’ala akan menanyakan seluruh anggota badan dan meminta persaksiannya pada hari Kiamat.

Murid senior Imam Hasan Al Basri rahimahullah (642 – 728 M Basrah), yaitu Abul Khattab Qatadah bin Diʿamah as-Sadusi atau Imam Qatadah rahimahullah (wafat 735–736 M di Basrah Iraq), berkata bahwa maksudnya adalah: “Janganlah kamu mengatakan bahwa aku melihat sedangkan kamu tidak melihat, aku mendengar sedangkan kamu tidak mendengar, aku mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahuinya. Karena sesungguhnya Allah akan bertanya semua itu kepadamu”

Setelah menyebutkan pendapat para ulama Salaf tentang ayat ini, Imam Ibnu Katsir rahimahullah, dalam kitab Tafsir Al-Qur’anul Azhim berkata: “Kesimpulan penjelasan yg mereka sebutkan adalah: bahwa Allah Ta’ala melarang berbicara tanpa ilmu, yaitu (berbicara) hanya dengan persangkaan yg merupakan perkiraan dan khayalan.” 

Terakhir, mari kita fahami, sebuah hadits bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya perbuatan mengada2kan yg paling dusta, adalah ketika seseorang mengaku melihat sesuatu dgn kedua matanya, sedangkan ia tidak melihatnya” (HR Imam al-Bukhari)

Wallahu a’lam Semoga bermanfaat

Al-Faqir Ahmad Zaini Alawi Khodim JAMA’AH SARINYALA

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *