Semua bangsa punya sejarahnya sendiri. Apakah itu sejarah yang kelam atau sejarah yang terang membanggakan.  Setiap Bangsa memang berkewajiban untuk mengenang peristiwa “penting” dalam perjalanan sejarah  negrinya. Sebagaimana sejarah bangsa kita sendiri yang sedang kita “peringati” kemarin dan hari ini. Sebuah peristiwa yang begitu kelam sehingga masih menyisakan “kegelapan” hingga hari ini. Namun di sisi lain juga melahirkan sebuah hikmah yang “berpotensi”  bisa menerangi  pekatnya situasi di sudut-sudut negeri hingga hari ini. Terkadang memang sering muncul pertanyaan kenapa dan untuh apa kita “peringati”? Masih patutkah kita memperingati sebuah tragedi jikalau hal itu cuman dijadikan sarana merawat dendam dan kebencian sesama anak negeri? Lantas dimana kesucian ajaran Pancasila yang mewajibkan kita merawat cintah dan kasih kemanusiaan dalam rasa keadilan?  Tidakkah kita mengenang sejarah  agar kita tidak mengulangi “kesalahan” yang sama membiarkan “kebodohan” menguasai bangsa ini? Kebodohan yang membuat mereka yang sedang “berkuasa” bisa semakin serakah dan kejam.  Seolah merasa pantas menjadi raja,  bahkan dewa yang selalu benar dan tak bisa salah. Kebodohan yang telah melahirkan seorang “Raja”, dimana senyumnya pada anak-anak kecil tak berdosa pun, sudah penuh intimidasi dan rasa curiga. 

Kemarin pada tanggal yang sama kita didoktrin oleh mereka yang “menang” untuk memperingati sebuah tragedi anak negeri yang seharusnya tidak boleh terjadi. Gus Dur selalu berpesan dalam setiap kesempatan membincang “tragedi” ini agar kita bisa ber- rekonsiliasi dalam seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.  “Kita harus (saling) memaafkan dan menghilangkan dendam. Meskipun kita tak mungkin melupakan dan menghapus memori sejarah itu dari pikiran”. Sejarah telah dicatat dan didokumentasikan dalam beragam “warna” narasi, dengan beragam interpretasi, yang saling berupaya membuktikan kebenaran yang tersembunyi.  Gus Dur yang dididik dalam tradisi “kemanusiaan” sejati, berulang kali mengajak kita “berkaca” pada sejarah untuk saling memahami. Bukan untuk saling memusuhi. Sebagai bangsa yang besar dan bermartabat, sudah seharusnya kita terbebas dari “kegelapan” sejarah masa lalu. Kita harus selalu memaafkan diri sendiri agar bisa kembali saling  mencintai,  baik sebagai anak bangsa atau sebagai manusia yang berketuhanan.

Tragedi G 30 S, tidak boleh terus menerus dijadikan beban bagi generasi anak negeri, yang bahkan tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sejarah tragedi ini terlalu gelap untuk diungkap dan dimengerti bagi generasi baru bangsa ini yang tidak pernah mengalami sendiri. Karena itu, jangan sekali-kali mereka dipaksa menerima satu versi sejarah yang “membodohi”. Karena jika itu terus dilakukan, maka tidak menutup kemungkinan di masa depan akan mendatangkan tragedi serupa yang jauh lebih mengerikan dan mengiris-ngiris nurani. Seperti yang terjadi pada bangsa Yahudi, yang terus menyimpan dendam akibat kelamnya sejarah genosida yang mereka alami. Akibatnya mereka saat ini terus berniat, berbuat dan membuat kerusakan, dimana pun mereka berpijak di bumi ini. Trauma genosida yang mereka alami, alih-alih dijadikan pelajaran agar mereka tidak jadi korban kembali. Justru dijadikan pembenar atas tindakan mereka untuk melakukan genosida kepada bangsa lain terutama bangsa Palestina dan bangsa-bangsa yang dianggap sebagai musuh abadinya. 

“Jas Merah!” Begitulah konon Soekarno berulang kali berorasi di ujung sejarah kekuasaannya yang terus melemah karena ketidakmampuannya memegang kendali politik. Resesi ekonomi yang melanda negri, mengundang semua kekuatan politik untuk “mengambil” kesempatan dengan segala cara agar bisa berkuasa. Itulah konon yang menjadi latar gelap sehingga terjadi tragedi kemanusiaan yang tetap menyisakan misteri buat anak Negeri. Sudah cukup banyak energi bangsa ini yang digunakan dengan sia-sia hanya untuk merawat dendam dan kebencian sesama anak negeri. Sudah saatnya kita bangkit saling memaafkan dan mulai menatap masa depan yang lebih baik dan bermartabat. Saat ini bangsa kita sedang membutuhkan kuatnya tekad persaudaraan dalam kebhinekaan dan kemanusiaan.  Agar bangsa kita bisa selamat dari resesi ekonomi yang saat ini melanda dunia akibat Pandemi Corona.  

“Jas Merah” tidak harus selalu dimaknai dengan “Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah”, apalagi jika hal itu hanya dijadikan sebagai sarana untuk memupuk perpecahan anak bangsa.  Sebaliknya “Jas Merah” harus bisa dimaknai dengan “Jangan Sekali-kali Menyerah” untuk bangkit demi kejayaan Nusantara Indonesia. Merdeka! Merdeka! Merdeka! #SeriPaijo

Tawangsari 1 Oktober 2020

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *