Kita sering menyaksikan banyak orang yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Cinta seperti ini terbagi menjadi dua macam. Jenis yang pertama merupakan kebalikan dari jenis cinta yang telah dibahas di depan—cinta karena mendengar sifat orang yang dicintai. Dalam kasus ini, seseorang tiba-tiba jatuh cinta pada seseorang yang ia jumpai pertama kali. Ia mencintai orang yang tidak ia kenal, nama dan tempat tinggalnya pun tidak ia ketahui. Banyak orang yang mengalami peristiwa semacam ini, seperti pengalaman beberapa orang yang akan aku ceritakan di bawah ini.
Sahabatku, Abû Bakr Muhammad ibn Ahmad ibn Ishâq menceritakan sebuah kisah yang ia dengar dari seseorang yang cukup terpercaya. Aku lupa namanya, tetapi besar kemungkinan dia adalah al-Qâdhî ibn al-Hidâ’. Menurut penutur kisah, Yûsuf ibn Hârûn, seorang penyair yang terkenal dengan julukan al-Ramâdî, suatu ketika ia berjalan-jalan di sepanjang jalan al-‘Athârîn di kota Cordova. Tempat tersebut dikenal sebagai tempat berkumpulnya kaum wanita. Di sana Yûsuf ibn Hârûn melihat seorang gadis yang mampu merebut segenap isi hatinya. Cintanya pada gadis itu menjalar ke seluruh bagian tubuhnya. Yûsuf kemudian pergi dari tempat itu untuk mengikuti jejak si gadis yang tiba-tiba ia cintai itu. Si gadis pergi menuju sebuah jembatan (qantharah), lalu menyeberanginya dan pergi ke sebuah tempat yang terkenal dengan sebutan Rabadh (daerah pinggiran kota). Ketika gadis itu sampai di sebuah taman milik Dinasti Marwân yang terletak di sebelah pekuburan milik keluarga mereka di seberang sungai, ia melihat Yûsuf ibn Hârûn sendirian jauh dari orang-orang, sedang memperhatikan dirinya. Si gadis lalu mendekatinya dan berkata kepadanya, “Mengapa kau mengikutiku?”
Yûsuf berterus terang bahwa ia sangat mencintainya. Mendengar jawaban itu si gadis berujar, “Jauhkan pikiran itu darimu! Jangan kau pancing kemarahanku! Tidak ada harapan bagimu kepada diriku sama sekali, dan tidak ada jalan bagimu untuk mendapatkanku.”
Yûsuf berkata, “Sesungguhnya dengan memandangmu saja aku sudah merasa cukup.”
“Kalau hanya itu, boleh saja.”
Yûsuf lalu bertanya kepadanya, “Tuan putriku, apakah Anda ini wanita merdeka atau seorang hamba?”
“Aku hamba sahaya.”
“Siapakah namamu?”
“Khalwah.”
“Siapakah majikanmu?”
Ia menjawab, “Pengetahuanmu, demi Allah, tentang apa yang ada di langit ketujuh lebih dekat kepadamu dibanding apa yang engkau tanyakan itu. Jawaban itu tidak akan kau dapatkan!”
Yûsuf masih penasaran, “Tuan putriku, di mana aku bisa melihatmu lagi setelah ini?”
“Seperti kau melihatku hari ini, pada waktu yang sama setiap hari Jumat.” Kemudian ia berkata kepada Yûsuf, “Kau yang pergi atau aku yang lebih dulu pergi?”
“Pergilah dalam lindungan Allah.”
Lalu ia pergi menuju jembatan dan Yûsuf tidak bisa mengikutinya sebab ia selalu menoleh ke arah Yûsuf untuk memastikan apakah Yûsuf mengikutinya lagi atau tidak. Setelah gadis itu melewati ujung jembatan, Yûsuf mencoba untuk mencarinya tetapi ia tidak bisa menemukannya.
Lalu Abû ‘Amr, atau Yûsuf ibn Hârûn, berkata, “Demi Allah, sejak saat itu hingga sekarang aku biasa mendatangi jalan al-‘Athârîn dan kawasan Rabadh. Sayang, sejak saat itu aku tidak pernah mendapat kabar tentang gadis itu dan tidak pernah bertemu dengan orang yang mengenalnya. Hingga sekarang hatiku selalu gelisah memikirkannya.”
Itulah kisah cinta Yûsuf kepada Khalwah. Sejak saat itu, Khalwah menjadi sebuah nama yang selalu menghiasi syair-syair Yûsuf ibn Hârun.
Di kemudian hari, Yûsuf mendapat berita tentang Khalwah, gadis pujaannya. Itu terjadi setelah Yûsuf pergi meninggalkan Cordova ke Zaragoza dalam rangka mencari tumpuan cintanya. Kisah petualangan cinta Yûsuf ibn Hârun cukup panjang. Dan kisah yang serupa dengan itu banyak terjadi. Tentang percintaan semacam ini aku mempunyai beberapa bait syair, di antaranya:
Pandanganku membenamkan kesedihan
Maka air pun berjatuhan tak tertahankan
Aku tak pernah jumpa sebelum melihatnya kini
Pada perjumpaan yang pertama dan terakhir kali
Sedangkan jenis kedua dari cinta pada pandangan pertama berbeda dengan model cinta yang akan dibahas sesudah ini. Cinta model ini adalah cinta seorang lelaki pada pandangan pertamanya kepada seorang gadis yang namanya ia ketahui, begitu pula tempat tinggal dan tempat kelahirannya. Perbedaannya dengan cinta yang akan kita bahas di depan terletak pada keberlangsungan arus cinta, apakah lambat atau cepat menghilang. Seorang laki-laki yang jatuh cinta kepada seorang wanita pada pandangan pertama, kemudian segera memutuskan untuk menjalin hubungan cinta dengannya, menunjukkan kesabarannya yang sedikit, sifatnya yang cepat mengeluh, dan cepat bosan. Tidak hanya cinta, segala sesuatu di dunia ini pun mengikuti hukum tersebut: apa pun yang cepat tumbuh dan berkembang, cepat pula ia mati dan tumbang; sedangkan yang lambat tumbuh, lambat pula habisnya.

No responses yet