Sebelum membaca tulisan singkat ini, mari aminkan doa berikut agar Allah selamatkan kita dari tipu daya makhluk terkutuk.
“Ya Allah, Perihalah Kami Dari Godaan Syaitan Yang Terkutuk”
Manusia diciptakan sebaik baik bentuk, demikian dijelaskan Allah dalam surat at-Tin ayat 4. Manusia yang bagus bentuknya akan ditempatkan Allah pada tempat yang paling rendah (ayat 5 surat At-Tin). Hanya orang orang yang beriman dan beramal saleh yang akan mendapatkan pahala yang tidak pernah putus putus, inilah bunyi ayat ke enam surat At-Tin. Manusia beriman dan beramal saleh pasti akan mendapat kemenangan di dunia dan akhirat.
Meraih kemenangan pasti banyak rintangan dan cobaan, satu diantaranya datang dari musuh abadi manusia yaitu Iblis. Mufassirin menyimpulkan bahwa Allah menyebut kata syaithan (dalam bentuk mufrad dan jama’) sebanyak 88 kali, kata Iblis disebut sebanyak 11 kali. Allah selalu mengingatkan bahwa Iblis adalah musuh nyata bagi manusia. Sebab menolak perintah Allah untuk sujud kepada Adam, Allah menghukum iblis menjadi terkutuk, Iblis kemudian bersumpah akan menjadi musuh bagi anak Adam.“Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan menghalangi mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” Inilah pernyataan Iblis yang dikisahkan Allah dalam surat Al-A’raf ayat 16-17.
Iblis akan melakukan berbagai cara dan propaganda untuk menggoda manusia, trik dan intrik dijalankan demi memuluskan keinginan menggoda anak cucu Adam, agar manusia yang diciptakan dalam sebaik baik bentuk ditempatkan pada tempat hina bersama dengan Iblis. Manusia yang mengharap keridhaan Allah dan selamat dari godaan Iblis harus benar benar paham dengan trik dan intrik yang dijalankan oleh musuh bebuyutan. Diantaranya sebagaimana disebutkan dalam kitab Mukhtasar Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali pada bab yang ke dua puluh tiga tentang cara memerangi syahwat.
Diriwayatkan bahwa pada suatu waktu, Nabi Musa ‘alaihissalam duduk di salah satu majelis, datanglah Iblis dengan membawa barnas (jubah) beragam warna. Mendekati Nabi Musa, Iblis melepaskan jubahnya seraya memberi salam, tanpa menjawab salam Nabi Musa langsung bertanya kepada Iblis, “apa alasanmu datang padaku?” Aku datang memberi salam karena kedudukanmu di sisi Allah. Musa bertanya, “apa itu yang ada padamu?” Iblis menjawab, “barnas, dengannya aku kuasai hati para anak Adam”. Dari percakapan Nabi Musa dan Iblis, ada tiga hal jika dikerjakan oleh manusia maka Iblis sungguh sangat mudah menguasainya.
Pertama, apabila merasa ‘ujub terhadap diri sendiri. ‘Ujub adalah perilaku atau sifat mengagumi diri sendiri dan senantiasa membanggakan diri sendiri. Imam Al Ghozali menjelaskan bahwa perasaan ‘ujub adalah kecintaan seseorang akan suatu karunia yang ada pada dirinya dan merasa memilikinya sendiri serta tidak menyadari bahwa karunia tersebut adalah pemberian Allah SWT. ‘Ujub adalah maksiat bathin yang harus dijauhi, sebab sifat ‘ujub yang dimiliki oleh seseorang akan mengantarkan dirinya menjadi sombong dan memandang rendah orang lain. Hadih maja telah mengingatkan bahwa ‘ujub, sum’ah, riya teukaboe sinan yang loe ureung binasa (ujub, sum’ah, riya dan takabbur adalah penyebab orang binasa). Jadi, jika sifat ‘ujub telah hinggap pada jiwa seseorang, maka Iblis akan sangat leluasa mengendalikan manusia tersebut, sehingga lahirlah sifat sifat tercela lainnya sebagai manivestasi ‘ujub. Imam An Nawawi dalam at-Tibyan fi adab hamalati al-Qur’an memberikan salah satu tips agara terhindar dari sifat ‘ujub yaitu agar selalu mengingatkan diri sendiri bahwa sesuatu yang diraih bukan dengan daya dan kekuatan sendiri, namun itu merupakan anugerah dari Allah dan tidak patut untuk berbangga apapun yang diraih tidak diciptakan oleh manusia, melainkan seluruhnya merupakan anugerah dari Allah.
Kedua, jika manusia merasa dirinya banyak amal. Merasa diri banyak amal adalah penyakit milenial yang diderita manusia zaman now, merasa diri paling sunnah serta mudah membid’ahkan orang lain, mengganggap diri paling sempurna dalam amal serta mencela amalan orang lain. Dalam surat al-Kahfi ayat 103-104 Allah mengingatkan melalui firman-Nya “Katakanlah (Muhammad),“apakah perlu Kami beritahukan kepadamu tentang orang yang paling rugi perbuatannya? (Yaitu) orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya”. Jangan pernah menganggap bahwa diri kita yang paling banyak amalnya, sebab amal kita akan tidak berarti apa apa jika dibandingkan dengan karunia Allah. Dikisahkan dalam riwayat bahwa suatu waktu ummul mukminin Ainsyah radhiyallahu’anha bertanya kepada Baginda Nabi Muhammad SAW mengapa beliau melaksanakan tahajjud sepanjang malam, hingga kaki Beliau bengkak. Ainsyah bertanya “Ya Rasulullah, bukankah Allah SWT telah mengampuni dosamu yang terdahulu dan yang akan datang?” Rasulullah menjawab “Bukankah lebih elok jika aku menjadi hamba yang bersyukur,” (HR Bukhari). Janganlah kita merasa banyak amal, jika ini hinggap dalam jiwa kita maka Iblis akan mudah memperdaya, terkait beramal maka dua hal yang harus selalu hadir dalam hidup kita yaitu khauf dan raja’.
Ketiga, jika melupakan dosa maka Iblis sangat mudah menguasai manusia. Jika manusia terbiasa berbuat dosa dan kemungkaran, maka kemungkaran itu akan menjadi makruf baginya, sedangkan yang makruf akan manjadi mungkar baginya. Kondisi ini disebut “terbaliknya fitrah manusia”, akibatnya akan tumbuh rasa bangga dan melupakan dosa dan kemungkaran yang dia perbuat, sebab persepsinya bahwa yang dia lakukan adalah makruf bukan mungkar. Kondisi digambarkan Allah dalam Al-Qur’an melalui firman-Nya “Dan jika dikatakan kepada mereka, “janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi, “Mereka berkata” Sesungguhnya kami hanyalah orang-orang yang membuat perbaikan, ingatlah sesungguhnya mereka ada;ah orang-orang yang membuat kerusakan tetapi mereka tidak menyadari. (QS. Al-Baqarah, 11-12). Dalam syair Aceh, dianjurkan agar selalu mengingat dosa dan kesalahan yang telah diperbuat, “ingat keu desya tamoe beukayem, teuma takhem oh geubi bala” (seringlah menangis ketika mengingat dosa, tersenyum ketika ditimpa musibah).
Jangan biarkan diri kita terlena dalam kesalahan dan dosa yang akan menyebabkan hati kita “buta” sehingga tidak mampu membedakan mana yang haq dan bathil. Oleh sebab itu, seringlah melakukan muhasabah, jangan bangga dengan dosa yang pernah dilakukan, segeralah bertaubat walau dari kesalahan kecil sekalipun. Jika tetap bertahan dalam dosa, maka Iblis akan sangat mudah menguasai kita, kita berlindung kepada Allah dari tipu muslihat Iblis ‘alaihi laknat. Diakhir pertemuan Iblis dan Nabi musa, Iblis mengingatkan Nabi musa agar menghindari tiga hal, pertama berduaan dengan wanita bukan muhrim, sebab Iblis akan hadir untuk menggoda keduanya. Kedua, Jangan sesekali berjanji dengan Allah kecuali menepatinnya. Ketiga, Jangan pernah bercita-cita untuk bersedekah kecuali engkau segera merealisasikannya.
Iblis penuh tipu daya, semakin kuat iman manusia semakin besar pula cobaan dan godaannya. Jangan pernah lupa menyelipkan do’a agar Allah melindungi kita dari godaan Iblis terkutuk. Sebelum penyesalan datang, waspadalah godaan Iblis yang licik dan penuh trik.

No responses yet