Kisah ini diambil buku Sejarah  “Tambakberas: Menelisik Sejarah, Memetik Uswah”  yang menukil dari buku Kiai Abdul Halim “Sejarah Perjuangan KH. Abdul Wahab.” Buku Kiai Abdul Chalim ini ditulis menggunakan model nadzhoman dengan huruf Arab pegon. Kelebihannya,  buku ini baru diterbitkan pada tahun 1970 setelah beliau datang ke Jombang untuk meminta izin kepada Kiai Wahab. 

Kiai Abdul Halim adalah murid sekaligus karib Kiai Wahab yang kenal saat di Makkah sekitar tahun 1913 1914. Selanjutnya mulai tahun 1924 selalu mendampingi Kiai Wahab ketika menjalankan berbagai kegiatan keislaman dan kemasyarakatan. 

Dalam buku ini dijelaskan, ketika terdengar lbnu Saud menguasai Hejaz, maka untuk mempertahankan Ahlus Sunnah wal Jamaah, Kiai Wahab mendirikan Komite Hejaz dibantu teman-temannya untuk diutus ke Makkah sesudah ada panggilan (undangan) mengadakan muktamar dunia Islam. 

Komite Hejaz ini diketuai H. Hasan Gipo dengan wakilnya H. Sholeh Syamil. Sekretarisnya adalah Muhammad Shodiq, dan wakil sekretaris dipegang oleh H. Abdul Halim (penulis buku). Penasehatnya adalah Kiai Wahab Chasbullah dibantu oleh Kiai Masyhuri dan Kiai Kholil Lasem. 

Setelah kepengurusan Komite Hejaz terbentuk, upaya selanjutnya adalah merencanakan mengundang ulama di seluruh Jawa guna merumuskan cita-cita tersebut. Saat Kiai Abdul Halim membuat undangan untuk ulama se-Jawa yang bertempat di jerambah rumah Kertopaten (rumah Kiai Wahab), Kiai Abdul Halim bertanya kepada Kiai Wahab, “Pak Kiai, apakah undangan ini juga memuat agenda untuk menuntut kemerdekaan?” Jawab Kiai Wahab, “Tentu itu syarat nomor satu, umat Islam menuju ke jalan itu. Umat [slam tidak leluasa, sebelum negara kita merdeka.” 

Kiai Abdul Halim melanjutkan pertanyaannya, “Apakah hanya begini usahanya?” Kiai Wahab mengambil korek api satu batang, lalu dinyalakan, sembari berkata, “Ini bisa menghancurkan bangunan. Kita jangan, dan tidak boleh putus asa. Kita yakin akan tercapai negara merdeka.” 

Saat Kiai Wahab berdiskusi dengan Kiai Abdul Halim, H. Shodiq datang. Selanjutnya Kiai Wahab bertanya kapan dikumpulkan para ulama tersebut. H. Shodiq bilang, hari Selasa diharapkan bisa kumpul semua. 

Kiai Wahab melanjutkan ucapannya, “Saya sudah sepuluh tahun lamanya memikirkan dan membela para ulama yang diejek ke sana sini. Amaliyahnya juga diserang sana sini. Kalau satu kali ini luput, tinggal memilih satu di antara dua: masuk organisasi untuk melakukan pergerakan dan perombakan, atau pulang memelihara pondok yang khusus.”

Selanjutnya undangan disebar, dan mendapat respon dari banyak kiai besar baik dari Kudus, Semarang, Tegal, Jombang, Sidoarjo, Pasuruan, Madura, Gresik, Bangil, Bangkalan, dan Mojokerto. 

Undangan yang hadir antara lain Kiai Hasyim Asy’ari, Raden Muntaha, Kiai Mas Nawawi, Kiai Asnawi, Kiai Ridwan, Kiai Zubair, Ahmad Ghonaim dari Mesir. Ringkas kata, banyak kiai yang hadir dan ini menyebabkan Kiai Wahab gembira. 

Para ulama tadi mengadakan rapat dan menyetujui rencana mengirim utusan ke Makkah yang dipimpin oleh Kiai Asnawi. Lalu mereka berembuk, atas nama siapa yang mengutus? Selanjutnya mereka menyetujui saran Mas Alwi bahwa yang mengutus bernama Nahdlatul Ulama, meniru nama Nahdiatul Wathan yang telah ada. Dibuat juga lambang NU berupa jagat yang dirancang oleh Kiai Ridlwan

****

Kemudian dibuat anggaran dasar untuk organisasi NU yang baru lahir. Terkait dengan pembuatan anggaran dasar ini, Choirul Anam, dalam bukunya “Pertumbuhan dan Perkembangan NU” mengkritik paparan Deliar Noer bahwa organisasi NU mulanya tidak mempunyai rencana yang jelas, kecuali yang bersangkutan dengan pergantian kekuasaan di Hijaz. Juga tidak mempunyai anggaran dasar, tidak pula pendaftaran anggota. Kongres ditempuh berdasarkan kekeluargaan atau kesetiakawanan, biaya kongres dipikul bersama oleh orang orang yang berada, tiada notulen atau laporan dibuat, keputusan diambil secara lisan dan dicatat berdasar ingatan. 

Anam mengutip pendapat KH. Umar Burhan yang membantah keterangan di atas. Konsep anggaran dasar NU sudah disiapkan sejak lama dan disusun oleh KH. Wahab Chasbullah, Mas Sugeng Yudhadhiwiryo (Gremer landraat di Surabaya) dan H. Nawawi Amin, sarjana tanpa titel yang menguasai bahasa Inggris, Belanda, dan Arab. Sejak berdirinya NU, Anggaran Dasar sudah disetujui. 

Bukti di atas bisa dibaca dalam Statuten Perkoempoelan Nahdlatoel Oelama’ yang mendapat badan hukum pada 6 Februari 1930. Pada pasal 7 dikutip bahwa perkumpulan NU ini di dalam dan di luar pengadilan diwakili oleh pengurus besar yang sedikitnya terdiri dari 9 anggota. 

Pada pasal 12 dijelaskan bahwa yang pertama kali menjadi anggota pengurus besar adalah KH. Moehammad Hasjim bin Asjari sebagai Rois. KH. Said bin Saleh sebagai wakil Rois. KH. Mas Alwi bin Abdul Aziz sebagai katib.vKiai Abdullah bin Ali sebagai a’wan. Hadji Hasan Gipo sebagai president. Hadji Ahdjab sebagai vice president. Hadji Ihsan sebagai kassier, Moehammad Sadiq alias Soegeng Yudhawirya sebagai sekretaris. Hadji Saleh Samil sebagai commissaris.

Nampak dalam anggaran dasar NU pertama di atas, yang didaftarkan sembilan orang, entah apa hal itu syarat atau bagaimana yang jelas, anggota NU yang pertama lebih dari sembilan orang.  Hal ini bisa dibaca dari kelanjutan kisah dari buku Kiai Abdul Chalim di bawah ini.

***

Kiai Abdul Chalim, menuliskan susunan pengurus NU yang pertama kali baik syuriyah maupun tanfidziyah. Posisi sentral Kiai Hasyim Asy’ari dan Kiai Wahab Chasbullah dalam kepengurusan NU dijelaskan oleh Kiai Abdul Halim dalam nadzomannya. 

فأ كى هاشم رئيس اوتما فرتما# فأكى دحلان كبون دالم له وكيليا

كاتب اول فأكى وهاب يغ اوتما# اوتاك نهضة العلماء يغ فرتما

Pak Kiai Hasyim Rois utama dan pertama # Pak Kiai Dahlan Kebondalem lah wakilnya. 

Katib awal Pak Kiai Wahab yang utama # Otak Nahdlatul Ulama yang pertama. 

Katib tsani adalah Kiai Abdul Halim. Adapun a’wannya adalah Kiai Mas Alwi, Kiai Ridlwan, Kiai Amin Abdus Syukur, Kiai Amin Praban, Kiai Said Peneleh, Kiai Nahrawi Malang, Kiai Hasbulloh, Kiai Syarif Plampitan, H. Yasin, Nawawi Amin Jagalan, Kiai Bisri Denanyar, Kiai Hamid Tambakberas, Kiai Abdullah Ubaid, Kiai Dahlan Kertosono, Kiai Majid, Kiai Masyhuri Lasem, Kiai Zubair, Kiai Muntaha, Kiai Mas Nawawi Sidogiri, Ustadz Ahmad Ghonaim, Kiai Ridlwan, Kiai Asnawi, dan Kiai Hambali Kudus. 

Adapun di tanfidziyah; presidennya dijabat oleh H. Hasan Gipo, dan wakilnya dipegang oleh H. Sholeh Syamil. Sekretarisnya adalah M. Shodiq Sugeng. H. Burhan dan Jakfar sebagai bendahara. Pembantunya adalah Kiai Nahrawi, H. Ahzab, H. Usman, M. Sholeh, Abdullah Halim, Usman Ampel, Kiai Zaini Kawatan, H. Dahlan, H. Ghozali, H. Shiddiq Muhammad, dan Pak Mangun. Penasehatnya Kiai Abdul Qohhar Kawatan, dan H. lbrahim Bubutan. 

***

Begitulah perjuangan Kiai Wahab untuk mendirikan NU yang sangat berat dan berliku. Beratnya perjuangan ini juga disampaikan Kiai Hasyim Asyari kepada Kiai Abdul Halim. “Mas Dzul Halim, sebelum NU berdiri, saya kasihan kepada Kiai Abdul Wahab yang ditendang sana sini, mau membentuk (organisasi) tidak dapat jalan izin. Tiga tahun itulah saya memikirkan, barulah sekarang terdapat jalan,’ kata Kiai Hasyim Asy’ari. 

Memang dalam mendirikan NU, Kiai Wahab yang tawadlu perlu izin gurunya. Dalam pandangan akal dan mata batin Kiai Wahab, hanya Kiai Hasyimlah yang cocok memimpin NU. Kata Kiai Wahab, “Ini guru saya harus yang memegang. Saya hanya untuk berjalan (menjadi) wuzara’ Pak Kiai Hasyimlah yang menjadi ruasa’, 

Berkat perjuangan Kiai Wahab, dan kepemimpinan pertama Kiai Hasyim, NU menjadi besar. Kata Kiai Abdul Halim, akhirnya hampir seluruh daerah ada warga NU, mulai dari Sabang sampai Merauke. Bahkan terdengar di seluruh dunia, hingga PBB. Ini semua bisa terjadi karena himmah yang kuat dan ketelatenan. Kiai Abdul Halim masih teringat ucapan Kiai Wahab, “Kalau kita terburu buru tak sayang, kita akan ke Digul (diasingkan). Akhirnya kandas di tengah jalan perjuangan kita. Jadi yang penting dan pertama kali dalam berjuang adalah memohon inayah kepada Tuhan. Kita tidak boleh melihat upah dunyawiyah. Dengan himmah ini, beban susah payah jadi ringan. Kita harus yakin dan tidak boleh putus asa. Harus ingat, satu batang korek api yang menyala (bisa membakar seluruh bangunan). Demikian juga ide dari satu otak bisa menyebar dan diterima banyak orang, kalau Tuhan menghendakinya’” 

Akhirnya cita-cita kemerdekaan Kiai Wahab, baik merdeka dalam beribadah dan beramaliyah (keberhasilan melobi Raja Saud), maupun merdeka dari penjajah Belanda dan Jepang, tercapai karena semangat tinggi, ketelatenan, bersandar kepada Allah, serta tanpa mengharap upah dunia. Sangat wajar bila Kiai Hasyim memberi gelar kepada Kiai Wahab sebagai tokoh yang menggerakkan dan mencerahkan nalar para ulama dan masyarakat, 

serta purnamanya (epicentrum) perkumpulan yang berupa jam‘iyyah NU 

(حركة الافكار وبدرالاحتفال)

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *