‎“Where There is a Will There is a Way”‎

Apa yang membedakan antara orang sukses dengan orang gagal? ‎Mungkin ada banyak jawaban atas pertanyaan ini. Tapi ada satu hal yang pasti ‎diamini oleh semuanya, yaitu adanya kemauan yang kuat (will). Ya, kemauan ‎yang kuat adalah sisi pembeda antara the winner dan the loser, antara ‎pemenang dan pecundang, antara orang yang sukses dengan orang yang ‎gagal.‎

Jika ada kemauan pasti ada jalan, demikian makna ungkapan di atas, ‎yang sengaja penulis jadikan judul untuk tulisan ini. Kemauan yang kuat akan ‎menghadirkan energi positif dalam diri seseorang untuk melakukan apa pun ‎secara positif demi terwujudnya impian dan cita-citanya.‎

Seorang anak kampung yang berasal dari keluarga miskin, misalnya, ‎tetapi ia memiliki kemuan yang kuat untuk dapat menikmati pendidikan ‎hingga perguruan tinggi, maka ia akan berusaha dengan sungguh-sungguh, ‎sekuat tenaga untuk dapat mewujudkan cita-citanya. Dia akan belajar secara ‎serius dengan harapan dapat memperoleh beasiswa, sehingga dapat kuliah ‎sampai strata tertinggi. Dan kenyataan menunjukkan, banyak kisah sukses ‎yang dialami oleh orang-orang yang notabene berlatar belakang dari keluarga ‎tidak mampu, tetapi dengan kemauan yang kuat, semangat membara, tekad ‎membaja, akhirnya sukses di kemudian hari.‎

Di sisi lain, banyak orang dari kalangan keluarga berada, tetapi karena ‎tidak memiliki keinginan yang kuat untuk belajar secara serius, karena ‎terbiasa hidup dengan segala fasilitas yang ada, akhirnya gagal dalam ‎studinya. Bahkan, tidak jarang justru tidak jelas masa depannya, tidak tahu ‎arah dan tujuan hidupnya.‎

Ada kisah menarik tentang kemauan yang kuat mampu memberi ‎dampak yang luar biasa dalam kehidupan seseorang.‎

Alkisah, ada seorang santri yang sudah bertahun-tahun belajar, tetapi ‎merasa selalu mudah lupa terhadap pelajaran yang diajarkan oleh para guru ‎kepadanya. Meski termasuk santri yang rajin, tetapi dia selalu tertinggal jauh ‎dari teman-teman sekelasnya. Kondisi demikian membuatnya frustrasi, ‎sehingga dia memutuskan untuk keluar dari sekolah. Dia pun meminta ijin ‎kepada gurunya untuk tidak bersekolah lagi.‎

Dalam kegundahan hatinya meninggalkan madrasah tempat dia ‎belajar, turun hujan lebat yang memaksanya untuk berteduh di dalam sebuah ‎gua. Di dalam gua itulah sebuah pelajaran berharga ia dapatkan, yang kelak ‎jalan mengubah hidupnya.‎

Di dalam gua tersebut dia memperhatikan tetes demi tetes air yang ‎jatuh tepat di atas sebuah batu. Setelah dia amati, ternyata batu yang kena ‎tetesan air itu berlubang. Dia pun tertegun takjub sambil bergumam dalam ‎hati. Bagaimana mungkin batu yang keras itu bisa berlubang hanya karena ‎tetesan air yang tidak seberapa kuatnya. Dia pun merenung. Akhirnya dia ‎berkesimpulan bahwa batu yang keras itu dapat berlubang karena tetesan ‎yang jatuh di atasnya terjadi terus menerus dalam jangka waktu yang lama.‎

Dari peristiwa sederhana tersebut dia tersadar bahwa betapa pun ‎kerasnya sesuatu jika ditempa terus menerus pasti akan menjadi lunak. Batu ‎yang sangat keras saja bisa lunak berlubang hanya karena tetesan air yang ‎terjadi terus menerus, apalagi otak manusia yang tidak sekeras batu. Dia ‎yakin bahwa dengan kemauan yang kuat, ketekunan, kesabaran dan ‎keikhlasan, maka otaknya akan bisa menyerapa semua pelajaran yang ‎diajarkan oleh para gurunya.‎

Akhirnya, dia pun kembali ke madrasah tempat dia belajar dengan ‎semangat baru, kemauan yang kuat, gairah yang membara. Dia meminta izin ‎kepada sang guru untuk diperkenankan kembali belajar di madrasah tersebut. ‎Dia ceritakan peristiwa yang baru saja dialaminya ketika berteduh dari ‎derasnya hujan di dalam gua. Melihat keseriusan dan semangat yang tinggi ‎dari muridnya tersebut, maka sang guru pun mengijinkannya untuk kembali ‎belajar di madrasah tersebut. ‎

Sejak saat itu, perubahan besar pun terjadi pada diri si santri tersebut. ‎Dia yang sebelumnya selalu tertinggal dari murid-murid lain di kelasnya, kini ‎menjadi yang tercerdas di antara murid-murid yang ada. Pada akhirnya, ‎sejarah mencatatnya sebagai salah satu ulama besar yang pernah lahir ke ‎muka bumi ini. Karya-karyanya pun memberi kontribusi yang sangat besar dan ‎masih bisa kita jumpai hingga saat ini. Dialah al-Hafizh Ibn Hajar Al-‘Asqalani. ‎Ulama besar yang hidup pada akhir abad ke-8 Hijriah hingga pertengahan ‎abad ke-9 Hijriah. Salah satu karyanya yang sangat populer adalah Bulughul ‎Maram min Adillati al-Ahkam, yang menjadi rujukan di hampir seluruh ‎pesantren di Indonesia, dan mungkin juga di negara-negara Islam di dunia.‎

Kisah tetesan air yang terus menerus dan berlangsung lama hingga ‎mampu membuat lubang pada batu yang keras, bisa diibaratkan dengan ‎kemauan yang kuat, tekad membaja, yang jika terus menerus dijaga maka ‎akan melahirkan hasil yang luar biasa. (Dikutip dari buku penulis berjudul: “5 ‎Langkah Menuju Sukses Dunia-Akhirat”.)‎

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *